Bacaini.ID, KEDIRI — Sebuah unggahan di media sosial mengklaim bahwa meremas bokong pasangan dapat memberikan manfaat kesehatan. Sentuhan lembut dari pasangan diklaim dapat membantu sistem saraf merasa aman, menurunkan hormon stres, dan meningkatkan hormon oksitosin. Benarkah?
Secara ilmiah, para peneliti memang menemukan bahwa sentuhan fisik yang hangat dan disetujui kedua pihak dapat memberikan efek positif bagi tubuh dan kesehatan mental. Namun, para ahli menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak spesifik pada satu jenis sentuhan tertentu.
Baca Juga:
- Hal-hal yang Bikin Keharmonisan Pasangan Tumbang di Tengah Jalan
- Tips Berpisah Tanpa Membenci Mantan, Simak Baik-baik
Sentuhan Fisik Memengaruhi Sistem Saraf
Dalam berbagai penelitian psikologi dan neurosains, sentuhan fisik diketahui dapat memengaruhi cara kerja sistem saraf manusia.
Ketika seseorang menerima sentuhan lembut dari orang yang dipercaya, tubuh dapat merespons dengan menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol.
Pada saat yang sama, tubuh juga dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin. Oksitosin sering disebut sebagai ‘hormon kedekatan’ karena berperan dalam membangun rasa percaya, kelekatan emosional, serta hubungan sosial yang lebih kuat.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Developmental Review oleh peneliti Tiffany Field menunjukkan bahwa sentuhan dapat berkontribusi pada kesejahteraan emosional dan fisik seseorang.
Baca Juga:
Oksitosin merupakan hormon yang sering dikaitkan dengan hubungan sosial dan romantis. Hormon ini dapat meningkat ketika seseorang melakukan aktivitas seperti berpelukan, berpegangan tangan, atau menerima pijatan dari pasangan.
Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh ahli fisiologi Kerstin Uvnäs-Moberg, interaksi sosial yang positif termasuk sentuhan fisik dapat merangsang pelepasan oksitosin dalam tubuh.
Peningkatan hormon ini tidak hanya berkaitan dengan rasa nyaman, namun juga dapat membantu mengurangi stres serta mendukung kesehatan jantung.
Ilmuwan juga menemukan adanya saraf khusus di kulit yang merespons sentuhan lembut. Saraf ini dikenal sebagai C-tactile afferents, yang berperan dalam memproses sentuhan emosional.
Menurut penelitian lain yang dipublikasikan dalam Neuroscience & Biobehavioral Reviews, sentuhan yang terasa menyenangkan dapat mengaktifkan bagian otak yang terkait dengan emosi dan rasa nyaman.
Itulah sebabnya sentuhan dari pasangan, keluarga, atau orang yang dipercaya sering kali terasa menenangkan.
Konsensualitas Jadi Faktor Penting
Para ahli juga menekankan bahwa manfaat sentuhan hanya muncul jika dilakukan secara konsensual atau disetujui oleh kedua pihak.
Jika sentuhan dilakukan tanpa persetujuan atau menimbulkan rasa tidak nyaman, efeknya justru dapat berlawanan, termasuk meningkatkan stres atau memicu respons negatif dari tubuh.
Sentuhan yang tidak diinginkan atau tanpa persetujuan, memicu respons tubuh yang berlawanan dengan sistem ‘ketenangan dan koneksi’. Reaksi fisiologis yang terjadi pada tubuh adalah justru meningkatnya hormon kortisol, hormon stres, dan menghambat oksitosin.
Dampak psikologisnya dapat berupa rasa tidak nyaman atau risih, trauma dan kecemasan, hingga menurunkan kepercayaan diri.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





