Bacaini.ID, KEDIRI – Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna, Senin (15/12) mengatakan tidak mau ada budaya wisata bencana.
Ucapan presiden untuk menyindir para pejabat yang datang ke lokasi bencana hanya demi pencitraan tanpa bantuan konkrit. Terkesan hanya untuk wisata bencana.
Baca Juga:
- Prabowo Sindir Pejabat Hanya Foto-foto di Lokasi Bencana
- Belajar dari Zulhas, Begini Seharusnya Sikap Pejabat saat Bencana
Terlepas dari kepentingan pencitraan pejabat. Budaya menonton bencana alam atau wisata bencana sering dilakukan masyarakat umum karena dorongan rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka bahkan kerap mengabaikan risiko.
Dalam psikologi, perilaku ini disebut dengan normalcy bias. Normalcy bias atau bias normalitas, juga menjadi salah satu alasan mengapa banyak jatuh korban dalam sebuah peristiwa bencana.
Normalcy Bias, Saat Bencana Dianggap Remeh
Normalcy bias merupakan fenomena psikologis di mana orang cenderung meremehkan kemungkinan atau dampak suatu bencana atau krisis lainnya.
Hal ini menyebabkan seseorang tidak memiliki kesiapan atau bersikap tidak tepat dalam menghadapi krisis. Mereka cenderung meremehkan tingkat keparahan situasi dan menganggap semua baik-baik saja atau segera berlalu.
Sikap yang cenderung mengabaikan tanda bahaya ini terjadi karena otak ‘menormalkan’ situasi, sehingga tidak mempersiapkan diri menghadapi bencana alam atau krisis lainnya.
Normalcy bias dapat berbahaya karena dapat menyebabkan seseorang meremehkan risiko suatu situasi dan tidak siap menghadapi konsekuensinya.
Kesadaran pada potensi risiko yang sangat rendah ini dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Sebab dan Tanda Normalcy Bias
Sebab-sebab utama munculnya normalcy bias meliputi:
• Mekanisme Pertahanan Diri Otak
Otak mencoba mengurangi stres dan konflik internal saat menghadapi krisis besar dengan mempertahankan status quo demi kenyamanan mental.
• Disonansi Kognitif
Ketidaknyamanan saat menerima informasi baru yang bertentangan dengan keyakinan lama bahwa situasi aman. Untuk menghilangkannya, orang sering kali menolak mempercayai peringatan bahaya.
• Pengalaman Masa Lalu
Keyakinan bahwa karena bencana besar belum pernah terjadi sebelumnya di lokasi tersebut, maka hal itu tidak akan pernah terjadi. Menganggap masa depan pasti sama dengan masa lalu.
• Kurangnya Edukasi Mitigasi
Sering kali orang menganggap ancaman bencana sebagai hal biasa karena tidak pernah dilibatkan dalam simulasi atau mitigasi, sehingga kewaspadaan tidak terbentuk.
• Bias Optimisme
Kecenderungan merasa diri sendiri akan terhindar dari dampak negatif atau lebih mampu mengatasinya dibanding orang lain.
Normalcy bias sering kali tidak disadari karena otak secara otomatis mencoba menjaga ketenangan mental di tengah situasi kritis.
Berikut ciri-ciri utama seseorang yang terjebak dalam normalcy bias:
• Meremehkan Risiko
Cenderung menganggap remeh potensi bahaya atau tingkat keparahan suatu bencana, meskipun peringatan resmi sudah diberikan.
• Penolakan (Denial)
Menolak untuk mempercayai bahwa situasi darurat benar-benar terjadi. Orang tersebut akan mencari-cari alasan untuk meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
• Kelambanan dalam Bertindak
Mengalami kesulitan untuk merespons dengan cepat. Bukannya segera melakukan evakuasi, mereka mungkin tetap melakukan aktivitas rutin seperti biasa atau sekadar menunggu instruksi lebih lanjut yang sebenarnya sudah jelas.
• Mengandalkan Pengalaman Masa Lalu
Percaya bahwa karena bencana tersebut belum pernah terjadi sebelumnya atau tidak pernah berdampak buruk di masa lalu, maka hal itu tidak akan terjadi sekarang.
• Mencari Konfirmasi dari Sekitar
Menunggu untuk melihat apa yang dilakukan orang lain sebelum mengambil tindakan. Jika tetangga atau orang sekitar terlihat tenang, mereka akan ikut tenang meskipun ancaman sudah di depan mata.
• Interpretasi yang Salah
Menganggap tanda-tanda bahaya sebagai hal yang normal atau kurang serius dari kenyataannya. Misalnya menganggap sirine berbunyi karena rusak, atau suara gemuruh dari bukit hanyalah fenomena biasa padahal tanah longsor.
Bagaimana Cara Mengatasi Normalcy Bias?
Mengatasinya bisa jadi sulit, namun ada strategi yang sangat membantu. Berikut strategi mengatasi normalcy bias, dikutip dari The Behavioral Scientist:
• Mendidik Diri Sendiri
Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi normalcy bias adalah dengan tetap mendapatkan informasi tentang potensi risiko dan ancaman.
Ini termasuk selalu mengikuti berita dan informasi terkait bencana alam, pandemi, dan potensi bahaya lainnya.
• Latih Kesadaran Situasional
Memperhatikan lingkungan sekitar dan memperhatikan setiap perubahan dapat membantu mengatasi normalcy bias. Ini artinya, tetap waspada terhadap potensi bahaya dan siap untuk merespons dengan cepat jika diperlukan.
• Susun Sebuah Rencana
Memiliki rencana darurat dapat membantu mengatasi normalcy bias dengan memberikan langkah-langkah yang jelas jika terjadi bencana atau keadaan darurat lainnya. Ini termasuk mengidentifikasi potensi risiko dan mengembangkan strategi untuk mengurangi risiko tersebut.
• Cari Perspektif Alternatif
Mendapatkan masukan dari orang lain dapat membantu mengatasi normalcy bias dengan memberikan perspektif baru tentang potensi risiko dan ancaman. Ini termasuk berkonsultasi dengan para ahli di bidang seperti manajemen darurat atau kesehatan masyarakat.
• Latih Ketahanan
Ketahanan melibatkan kemampuan untuk beradaptasi dan pulih dari situasi sulit. Dengan membangun ketahanan, seseorang dapat mengatasi normalcy bias dengan lebih siap menghadapi tantangan tak terduga dan bangkit kembali dari kesulitan.
Mengatasi normalcy bias membutuhkan kemauan untuk bersikap proaktif, berpengetahuan, dan kesiapan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





