Bacaini.ID, KEDIRI – Stand Up comedy atau lawakan tunggal merupakan bentuk seni pertunjukan yang menampilkan seorang komedian di panggung yang menyampaikan monolog humoris ke penonton.
Yang heboh di Indonesia belum lama ini adalah stand up comedy Pandji Pragiwaksono yang berjudul Mens Rea. Lawakan tunggal dengan materi politik itu populer di platform Netflix.
Namanya stand up comedy. Pertunjukannya selalu melibatkan joke (lelucon), observasi kehidupan sehari-hari, satire sosial, atau kritik politik, sering dengan interaksi spontan (crowdwork).
Perlu diketahui, lelucon tertua ditemukan pada tablet Sumeria dari tahun 1900 SM. Lelucon tentang seputar kentut. Lelucon tertua kedua adalah lelucon Mesir. Bercerita cara menyembuhkan kebosanan firaun, sebuah bentuk satire politik.
Meskipun akar komedi sudah ada sejak zaman kuno, bentuk modern stand up comedy seperti yang kita kenal sekarang lahir di Amerika Serikat pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Baca Juga: Bukan Panji Pragiwaksono, Pelopor Stand Up Comedy Indonesia Adalah Iwel Sastra
Sejarah Singkat Lawakan Tunggal di Amerika
Komedi tunggal berasal dari berbagai tradisi hiburan populer pada akhir abad ke-19 di Amerika. Di antaranya Minstrel shows pada awal 1800-an.
Pertunjukan ini menampilkan monolog stump-speech yang lucu tapi kontroversial. Stump speech dianggap sebagai salah satu pendahulu utama stand-up comedy modern karena merupakan monolog tunggal yang langsung berbicara ke penonton dengan humor verbal, tanpa properti besar atau kostum rumit.
Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Vaudeville menjadi fondasi utama berkembangnya lawakan tunggal di Amerika.
Vaudeville merupakan bentuk hiburan panggung varietas (variety theater) yang sangat populer di Amerika Serikat dan juga Kanada, Australia, Eropa.
Vaudeville menyajikan serangkaian atraksi pendek yang tidak saling berhubungan, biasanya 10-15 atraksi per pertunjukan, dengan durasi masing-masing 5-20 menit.
Pertunjukan lawakan tunggal di Amerika terus berkembang dan menghasilkan komedian-komedian, yang sekarang disebut komika, legendaris.
Baca Juga: Patung Macan Kediri Viral, Untung Tidak Tahun 2024, Bisa Ditunggangi Mas Dhito
Mula Sebutan Stand Up Comedy
Penggunaan istilah stand-up yang pertama kali didokumentasikan muncul di The Stage pada tahun 1911, yang menggambarkan Nellie Perrier, seorang penyanyi komedi, membawakan ‘lagu-lagu komedi stand-up dengan cara yang anggun dan menawan’.
Namun ini merujuk pada pertunjukan lagu-lagu komedi dan bukan stand-up comedy dalam bentuk modernnya.
Istilah ini muncul kembali dalam kolom ‘Stage Gossip’ di The Yorkshire Evening Post pada tanggal 10 November 1917.
Artikel tersebut membahas karier seorang komedian bernama Finlay Dunn, yang menyatakan bahwa Dunn adalah ‘apa yang disebutnya sebagai komedian stand-up’ pada akhir abad ke-19.
Namun istilah stand-up comedy benar-benar populer dan digunakan untuk gaya lawakan tunggal seperti yang dikenal sekarang sejak pertengahan abad ke-20.
Majalah Variety terbitan 23 Juni 1948, menampilkan profil Lou Holtz, komedian lawakan Amerika Serikat, menggambarkan sebagai ‘stand-up comic’ yang menyampaikan joke cepat tanpa properti.
Tahun 1950-an istilah ini menjadi umum di media hiburan Amerika, terutama di nightclub dan media-media khusus.
Konon, istilah ini dipengaruhi oleh mafia yang mengelola klub malam yang membandingkan komedian lawakan tunggal seperti petinju ‘stand-up fighter’ yang tangguh.
Sebelumnya, Oxford English Dictionary sempat mencatat penggunaan pertama pada 1966, namun penelitian kemudian menemukan bukti penggunaannya yang lebih awal dari 1940-1950-an.
Stand Up Comedy di Indonesia
Di Indonesia, lawakan tunggal juga memiliki sejarah panjang sebelum dikenal sebagai stand up comedy modern seperti sekarang.
Berbeda dengan stand-up global yang berasal dari vaudeville Amerika, di Indonesia ia berevolusi dari tradisi hiburan lokal seperti lawak panggung, radio, dan televisi.
Konsep melawak sendirian sudah ada sejak era 1950-an dengan tokoh seperti Bing Slamet, Iskak, S. Bagyo, dan Edy Sud yang sering tampil tunggal sebelum bergabung ke grup lawak.
Pada 1970-1980-an, muncul nama seperti Arbain, dengan logat Tegal khas di TVRI, serta performa tunggal dari grup seperti Srimulat, Warkop DKI, dan Sersan Prambors.
Era 1990-an, Ramon Papana dianggap sebagai pelopor utama stand-up modern. Sejak 1992, ia mengadakan kompetisi lawak tunggal yang walnya disebut ‘Lomba Pidato Humor’ dan membuka Comedy Cafe di Jakarta, tempat open mic pertama. Ia juga bekerja sama dengan Taufik Savalas untuk acara seperti Comedy Cafe.
Iwel Wel atau Iwel Sastra, sering disebut sebagai stand-up comedian pertama yang belajar dari video dan buku Barat. Pada 2004, ia menggelar show solo pertama di Gedung Kesenian Jakarta.
Pada masa ini, istilah stand-up comedy belum populer di Indonesia dan komedi lebih didominasi grup lawak.
Boom stand-up comedy di Indonesia terjadi di awal 2010-an melalui video stand-up dari Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono, yang direkam di Comedy Cafe, diunggah ke YouTube dan viral.
Mereka memperkenalkan gaya joke observasional dan personal kepada publik luas. Dari sini, stand up comedy Indonesia terus berkembang melalui kompetisi-kompetisi dan komunitas komika serta peran media sosial yang masif.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





