Bacaini.ID, KEDIRI – Situationship, istilah ini mungkin terdengar baru bagi sebagian orang.
Namun kenyataannya fenomena hubungan tanpa status ini makin sering terjadi.
Situationship atau di Indonesia lebih dikenal sebagai HTS, hubungan tanpa status, bukan hanya terjadi di kalangan anak muda.
Di era digital ini bahkan orang dewasa pun banyak yang terlibat dalam situationship.
Dekat dengan seseorang, menghabiskan waktu bersama, ngobrol intens, saling perhatian, namun tidak pernah benar-benar jelas status hubungan yang dijalani.
Menurut data Journal of Social and Personal Relationships, situationship menjadi fenomena relasi yang sedang naik daun di era modern, terutama di zaman di mana komitmen terasa makin berat untuk sebagian orang.
Apa Itu Situationship?
Situationship merupakan hubungan romantis yang berjalan tanpa kejelasan status.
Biasanya ada kedekatan emosional dan mungkin juga fisik, tapi tidak ada pembicaraan serius soal arah hubungan.
Beberapa ciri-cirinya:
• Saling peduli, tapi tidak pernah membicarakan komitmen.
• Sering menghabiskan waktu bersama, tapi statusnya menggantung.
• Ada perasaan sayang, tapi tanpa kesepakatan menjadi pasangan resmi.
Psikolog klinis Dr. Carla Manly menyebut, banyak orang memilih situationship karena takut gagal membangun hubungan serius atau trauma dengan hubungan sebelumnya.
Fenomena Situationship Makin Marak
Ada beberapa alasan kenapa situationship jadi tren:
• Banyaknya aplikasi kencan yang mempermudah orang bertemu, tapi sulit untuk berlanjut ke hubungan serius.
Ini juga termasuk media sosial yang membuat orang terhubung lebih dekat walaupun berjauhan atau tak kenal langsung.
• Takut patah hati atau trauma masa lalu. Sebagian orang memilih “jalanin aja dulu” daripada langsung masuk ke komitmen.
• Budaya modern yang serba fleksibel, bahkan dalam urusan asmara.
Dampak Situationship bagi Kesehatan Mental
Hubungan tanpa status ini sering dianggap lebih ringan dan tidak membebani.
Padahal dalam jangka panjang situationship bisa berdampak negatif pada psikologis, apalagi jika salah satu pihak menginginkan kejelasan tapi tidak mendapatkannya.
Berikut beberapa dampaknya:
• Kecemasan Berlebih
Orang yang terjebak di situationship sering mengalami kecemasan sosial. Dalam benaknya selalu muncul pertanyaan, “Aku ini siapa buat dia sebenarnya?”
• Penurunan Rasa Percaya Diri
Tidak adanya kejelasan membuat seseorang merasa tidak cukup layak untuk dijadikan pasangan. Hal ini bisa menurunkan harga diri secara perlahan.
• Kesulitan Move On
Karena tidak pernah benar-benar memiliki status resmi, proses mengakhiri hubungan pun menjadi lebih rumit.
Banyak orang akhirnya terjebak dalam lingkaran hubungan yang tidak selesai-selesai.
• Potensi Hubungan Toxic
Ketidakjelasan batasan bisa membuat hubungan ini berubah menjadi toxic.
Salah satu pihak bisa merasa di-PHP, diberi harapan palsu, sementara pihak lain merasa tidak salah karena merasa tidak ada status resmi.
Tip Hadapi Situationship
Tidak semua situationship harus dihindari, selama kedua belah pihak paham dan sepakat dengan kondisinya.
Namun jika salah satu pihak mulai merasa lelah dan butuh kejelasan, maka lebih baik membicarakan hal ini secara terbuka.
Agar tidak merasa terjebak dalam situationship, ini yang harus dilakukan:
• Bicarakan ekspektasi sejak awal. Beri batasan jelas apakah hubungan tersebut hanya sebatas dekat atau proses penjajakan untuk lebih serius.
• Berani bertanya, “Kita ini mau ke mana?”
• Jika jawabannya tidak jelas, putuskan: lanjut atau berhenti.
• Jaga batasan agar hubungan tidak berlarut-larut di situasi abu-abu.
Di era modern, banyak orang memilih hubungan tanpa status karena terasa lebih ringan.
Namun, situationship yang terlalu lama bisa membuat lelah secara emosional.
Jangan ragu untuk membicarakan batasan dan harapan agar hubungan tetap sehat, baik bagi diri sendiri maupun pasangan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif