Frugal living lagi jadi perbincangan yang tidak habis-habis di media sosial. Sudah 3 hari ini muncul dalam pemberitaan media mainstream arus utama: besar, medium, sampai berskala lokal.
AI Overview google menjelaskan frugal living sebagai gaya hidup hemat yang terfokus pada pengelolaan keuangan. Poinnya pada kebijaksanaan. Bijak mengatur keuangan.
Membelanjakan uang untuk prioritas kebutuhan esensial adalah implementasi dari frugal living. Mengurangi pemborosan, menabung atau berinvestasi untuk tujuan jangka panjang adalah frugal living.
Jatuhnya pelit bin kikir dong?
Bagi kaum frugalis, frugal living adalah keputusan finansial yang cerdas, bukan membatasi diri secara ekstrem. Demi ‘eskatologis’ material: kemerdekaan finansial, kaum frugalis menempuh jalan hemat.
Lebih jelasnya demi situasi duit cukup. Tabungan lumayan. Setiap bulan tidak dikejar-kejar angsuran. Tidak lagi mendapat panggilan telepon tak dikenal dari penagih pinjol.
Karenanya dalam frugal living hemat diyakini bukan pelit. 11-12 dengan laku tirakat. Serupa tapi tak sama. Bagi yang taat beragama, tirakat itu baik sekaligus menyehatkan, apalagi disertai doa.
Whatever your said bro!.
Intinya, dalam frugal living uang dibelanjakan pada hal-hal yang perlu. Mengurangi pengeluaran duit pada hal-hal yang tidak perlu. Serupa seni hidup minimalis ala Jepang. Fokus pada barang esensial dan berkualitas, bukan kuantitas.
Misalnya memasak sendiri ketimbang belanja sayur matang. Itu frugal living. Atau bila perlu menanam sayur sendiri bagi yang punya lahan. Beternak ayam sendiri. Sehingga bisa menekan pengeluaran sekaligus menambah isi tabungan.
Konsepnya memang demikian. Tapi apa lacur. Pergi ke pasar yang dijumpa harga sayur dan sejumlah kebutuhan pokok yang tak stabil. Bandrol sayuran makin mahal karena ada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebutuhan dapur SPPG dalam skala besar telah mempengaruhi harga bahan pokok di pasaran. Mempengaruhi tingkat inflasi. Tak usah dibantah. Ini fakta ekonomi.
“Sekarang MBG banyak yang tidak beroperasi, jadi harga ayam (daging ayam) mulai kembali stabil,” kata Wira salah seorang pedagang di Trenggalek pada 17 Desember 2025 lalu.
Yang terjadi di Trenggalek juga dirasakan di Blitar, Tulungagung, Kediri dan daerah lain. Mandeknya MBG karena macetnya pencairan BGN di akhir tahun 2025 menyetabilkan harga kebutuhan pokok.
Alhamdulillah. Berkah buat masyarakat bawah.
Harga sayuran jadi normal. Harga telur ayam normal. Harga daging ayam normal. Berharap kestabilan harga akan berlanjut pada libur panjang Nataru. Ternyata tidak. Karena meski libur, banyak dapur MBG tetap ngepul. Tak ikut libur.
Artinya apa? Frugal living sulit dilakukan di Blitar, Kediri, Tulungagung, maupun daerah lain. Apalagi selama masih ada MBG. Maka harga sayuran, telur ayam, daging ayam di pasar akan tetap tinggi. Anjay kan?
Baca Juga: 41 dapur MBG Milik Anak Dewan, Apa Salahnya yang Kaya Makin Kaya?
Frugal living hanya membunuh ekonomi kerakyatan
Secara teori, frugal living adalah cara survive di tengah kehidupan ekonomi serba sulit. Siyasah menghadapi tekanan ekonomi. Kredonya membelanjakan uang hanya untuk hal-hal esensial.
Sebagai teori mudah diucapkan, tapi tidak mudah dipraktekkan. Terutama ketika menjadi bagian masyarakat Blitar, Kediri, Tulungagung dan sekitarnya. Banyak hal di wilayah Mataraman yang sifatnya esensial.
Siapa yang bisa menghindari budaya mbecek, buwuh di musim kawin? Kemudian siapa yang mampu meninggalkan tradisi ngopi, kumpul-kumpul dan ngudut? Mungkin ada. Tapi tidak banyak dan jika dilakukan jadinya ganjil.
Wajar jika frugal living di masyarakat negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, Amerika, lebih mudah diimplementasikan. Bahkan secara ekstrem. Misalnya sehari-hari hanya makan mie. Atau mengumpulkan makanan sisa dari restoran.
Mereka melakukan itu bukan karena tidak berduit. Tapi demi menggapai tujuan yang lebih tinggi. Tujuan yang sifatnya materialistik. Misalnya ingin punya rumah, mobil atau membeli kapal tanker. Kalau di Indonesia ingin punya dapur MBG.
Hal-hal ekstrem itu tentu sulit ditiru di Blitar ataupun di Kediri. Selalu ada stigma negatif di masyarakat: pelit, kikir, cethil. Meskipun ada juga cerita klasik orang makan berlauk garam, kerupuk dan kecap.
Kemudian sehari-hari mengisi perut hanya dengan polo pendem. Tapi itu tirakat. Kebanyakan karena faktor kefakiran lantaran tidak ada lagi yang jadi pilihan. Tak ada lagi yang dimakan.
Menerapkan frugal living di Blitar atau Kediri juga akan berdampak pada ekonomi kerakyatan. Poin utama dari prinsip frugal living sudah jelas. Tidak membelanjakan uang untuk hal-hal di luar esensial.
Terus bagaimana dengan nasib penjual gorengan di pinggir jalan? Kalau semua orang menggoreng pisang sendiri, bikin tempe, tahu brontak, ote-ote, weci sendiri, siapa yang melarisi penjual gorengan?.
Juga bagaimana dengan nasib penjual cilok keliling, seblak, tahu bulat, pecel punten, nasi bantingan, es pleret, warung kopi tubruk dan sebagainya. Dengan jadi frugalis orang hanya akan membeli hal-hal yang perlu dan esensial.
Semakin jelas konsep frugal living tidak cocok dengan budaya kita yang sebenarnya ‘sosialis’: bergotong royong, berbagi dan bertenggang rasa. Frugal living hanya akan membunuh ekonomi kerakyatan.
Secara sosial hanya akan melahirkan kelompok sosial baru yang berisi orang-orang pelit, cethil bin kikir. Apapun alasannya, membatasi keuangan untuk orang lain dengan dalih mengutamakan hal esensial adalah pelit.
Penulis: Garendi
*) Penulis adalah penyuka MBG (Makanan Berkuah Gurih) yang bertempat tinggal di perbatasan Blitar-Kediri





