Bacaini.ID, BALI – Lalu lintas pelabuhan penyeberangan Gilimanuk Kabupaten Jembrana, Bali pada lebaran Idul Fitri kedua Selasa petang 1 April 2025, berlangsung lancar.
Pada pukul 18.58 WIT lebaran kedua, suasana pelabuhan penyeberangan Gilimanuk terlihat normal. Antrian di jalur kendaraan bermotor roda dua dan empat, terlihat wajar.
Sebelumnya pelabuhan penyeberangan selat Bali ini dikabarkan sempat ditutup lantaran cuaca buruk: angin kencang dan kabut tebal.
Pada petang itu terpantau jumlah pengendara motor yang naik ke kapal lebih banyak ketimbang roda empat pribadi dan angkutan umum (bus AKAP).
Sebagian besar benopol P dan N, dan dari penampilan mereka terlihat sebagai pemudik. Beberapa di antaranya membawa serta bocah balita.
“Mudik-mudik,” seloroh laki-laki di atas motor dengan senyum lebar.

Deretan tempat duduk di pinggir galangan langsung penuh terisi. Sementara tempat duduk yang tersedia di ruang duduk kapal banyak yang kosong.
Posisi di pinggir galangan memang selalu jadi favorit: menghadap laut lepas, melihat kapal-kapal lain berlalu lalang, mendekat dan menjauh.
Semakin nikmat lagi kalau ditambah kopi panas yang bisa dipesan di kantin kapal, satu cup 8 ribu. Harga jual yang masih wajar.
Selain kopi panas, kantin kapal juga menjajakan mie instan kuah, yang langsung diseduh serta sejumlah jajanan ringan (snack).
Seorang laki-laki tampak lalu lalang menghampiri para penumpang, menawarkan jasa pijat. Dan petang itu tampaknya belum beruntung.
Cuaca penyeberangan petang itu relatif bagus. Angin berhembus pelan. Hujan sempat mengguyur deras, namun hanya singkat.
Kapal bergerak menuju pelabuhan Ketapang Banyuwangi dan bersandar dengan selamat.
Serupa dengan di Gilimanuk. Suasana di pelabuhan Ketapang juga relatif sepi.
Sementara arus lalu lintas di sepanjang jalan Pantura (Pantai Utara) hingga masuk tol Probolinggo lebaran ketiga Rabu (2/4/2025), juga terpantau ramai lancar.

“Perkiraan keramaian arus balik lebaran Idul Fitri akan terjadi sekitar tanggal 5-7 April. Sebab libur lebaran berakhir pada 7 April,” tutur awak bus AKAP Denpasar-Trenggalek.
Penulis: Solichan Arif