Bacaini.ID, KEDIRI – Setiap tahun, umat Muslim di Indonesia menghadapi sebuah fenomena tahunan bernama Lebaran, yang meskipun penuh kemenangan spiritual, entah kenapa selalu diikuti kekalahan finansial yang tragis. Hari raya ini seperti paket komplit; pahala naik, saldo turun.
Mulai dari ritual wajib seperti membeli baju baru, padahal lemari masih penuh baju bagus yang cuma dipakai dua kali setahun, hingga tradisi angpau yang membuat dompet bergetar lebih kencang daripada suara takbir di malam Idulfitri.
Itu belum termasuk upgrade perhiasan, perabot rumah, hingga mengecat ulang tembok karena katanya “biar segar menyambut tamu.” Tembok segar, rumah kinclong, tapi rekening auto masuk fase kontemplasi.
Dinamika itu ditutup dengan mudik sebagai acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Tradisi suci penuh cinta yang entah bagaimana berhasil digabungkan dengan inflasi musiman, harga tiket yang melompat seperti pemain basket NBA, dan bensin yang tiba‑tiba merasa dirinya barang mewah.
Belum cukup? Tenang. Ada juga “ujian berat” berupa kue Lebaran. Karena apa gunanya merayakan kemenangan kalau tamu datang cuma disuguhi wafer kiloan yang sudah melempem?
Maka orang membeli nastar, kastengel, dan putri salju dengan harga yang membuat kita bertanya-tanya, “Ini isinya selai nanas atau emas 24 karat?”
Ketika Kemenangan Spiritual Bertemu Kekalahan Finansial
Yang menarik sekaligus menyakitkan dari fenomena ini adalah, semakin meriah seseorang merayakan Lebaran, semakin tipis tabungan setelah itu.
Seolah-olah masyarakat menyepakati bahwa “hidup boleh susah, tapi Lebaran harus mewah”. Maka dimulailah kompetisi tak kasat mata; siapa bajunya paling baru, perhiasannya paling berkilau, angpaunya paling tebal, kue keringnya paling premium, dan dekorasi rumahnya paling Instagramable.
Kalau perlu, gadaikan sedikit barang, atau ambil pinjaman, yang penting tampil prima saat bersalaman di kampung halaman. Setelah itu? Ya tinggal menatap cicilan yang datang seperti ombak, silih berganti tanpa kenal ampun.
Paska Lebaran, Fase Tobat Finansial Nasional
Begitu gema takbir mulai mereda, tiba-tiba banyak orang tersadar:
“Waduh… kok saldo tinggal segini?”
Mereka mulai menatap dompet dan mutasi rekening seperti menatap bekas luka lama. Beberapa mulai menghitung angsuran, beberapa mulai berjanji, “Tahun depan nggak bakal boros lagi,” sebuah kalimat yang akan diulang lagi tahun depan… dan tahun berikutnya… dan tahun berikutnya.
Fenomena ini persis seperti siklus sinetron panjang, di mana kita tahu alurnya buruk, kita tahu tokohnya bakal jatuh dalam lubang yang sama, tapi tetap kita tonton. Bahkan kita ikut bermain di dalamnya.
Tradisi vs. Realita, Siapa yang Menang?
Lebaran, pada akhirnya, memang lebih dari sekadar hari raya. Tapi tetap saja, meriah itu tidak harus menyiksa.
Tidak ada ayat yang memerintahkan baju baru setiap tahun, tidak ada hadis tentang wajibnya membeli toples kaca baru hanya karena yang lama sedikit lecet.
Namun entah bagaimana, masyarakat kita suka sekali mencampur aduk kebutuhan dan gengsi seperti adonan nastar. Dan hasilnya sama, manis di awal, seret di akhir.
Lebaran Boleh Meriah, Dompet Jangan Menangis
Mungkin sudah waktunya kita mengubah pola pikir Lebaran dari “festival konsumsi” menjadi “festival kewarasan.”
Yang namanya merayakan kemenangan tidak harus membuat rekening kalah telak.
Kalau ingin baju baru, boleh.
Ingin mudik, silakan.
Ingin bagi angpau, mulia sekali.
Asal jangan sampai ikut tradisi yang satu ini; tradisi menyesal setelah Lebaran. Karena kalau itu terus dilakukan, lama-lama dompet akan ikut mengucapkan, “Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin… dan mohon top up segera.”
Penulis: Hari Tri Wasono*
*)Editor Bacaini.ID





