Bacaini.id, TRENGGALEK – Konsep “Kota Atraktif” yang diusung Pemerintah Kabupaten Trenggalek pada 2026 ditegaskan bukan sekadar mempercantik wajah kota.
Lebih dari itu, konsep tersebut merupakan strategi besar membangun daerah yang kompetitif, berkelanjutan, sekaligus inklusif dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perempuan, Anak, Disabilitas dan Kelompok Rentan Lainnya (Musrena Keren) 2026 di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Jumat, 27 Februari 2026.
Doding menjelaskan, arah pembangunan daerah telah tertuang dalam RPJPD dan RPJMD Kabupaten Trenggalek. Pada periode 2026 hingga 2027, pemerintah daerah bersama DPRD sepakat mengangkat tema “Kota Atraktif” dengan fokus pada penguatan infrastruktur yang berkualitas, berkelanjutan, ramah lingkungan, serta adaptif terhadap perubahan iklim.
Menurutnya, daya tarik kota tidak bisa dibangun secara instan, melainkan melalui perencanaan matang, penataan ruang publik yang nyaman, serta pengembangan sektor pariwisata secara serius dan terarah.
Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan kota yang menarik sekaligus layak huni bagi seluruh masyarakat.
“Pembangunan atraktif ini juga harus inklusif, harus one for all. Satu untuk semua, semua untuk satu. Artinya pembangunan itu harus merangkum aspirasi seluruh masyarakat Kabupaten Trenggalek,” ujar Doding.
Ia mengungkapkan, sejumlah proyek strategis akan mendapat dukungan anggaran, di antaranya pengembangan Goa Lowo, Pantai Simbaronce, hutan kota, alun-alun, jogging track, hingga jalur pedestrian. Seluruh fasilitas tersebut dirancang sebagai ruang publik yang ramah, aman, dan mudah diakses oleh semua kalangan.
Doding menilai, wajah kota yang tertata akan menumbuhkan rasa bangga masyarakat sekaligus meningkatkan minat kunjungan dari luar daerah. Dampak lanjutannya diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Kalau warga bangga dan orang luar tertarik datang, ekonomi akan bergerak. Tanpa daya tarik, peningkatan ekonomi akan sulit dicapai,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya perencanaan partisipatif dengan menggabungkan pendekatan top down dan bottom up. Aspirasi masyarakat dari tingkat kecamatan hingga kelompok rentan harus menjadi bagian penting dalam setiap kebijakan pembangunan.
“Pembangunan tidak boleh hanya berdasarkan keinginan pemerintah, tetapi juga suara masyarakat. Itulah kunci Kota Atraktif yang inklusif,” pungkas Doding.(Aby/ADV)





