Bacaini.ID, KEDIRI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB) mencatat 303 jiwa melayang dan ratusan orang hilang dalam bencana banjir bandang di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., dalam konferensi pers pada Sabtu (29/11/2025), mengonfirmasi angka itu bersifat dinamis dan diperkirakan masih bisa bertambah seiring proses pencarian yang masih berlangsung.
Saat ini, lebih dari 50.000 jiwa bertahan di tenda pengungsian. Meratapi nasib sambil menunjuk pada kayu gelondongan yang menumpuk di sungai sebagai bukti kerusakan hutan.
Tercatat jumlah korban jiwa di Sumatera Utara sebanyak 166 jiwa, Aceh sebanyak 47 jiwa, dan Sumatera Barat sebanyak 90 jiwa. Korban hilang mencapai 279 orang yang masih dalam pencarian.
BPNB juga mencatat kerusakan infrastruktur jalan nasional Medan–Banda Aceh terputus, puluhan rumah rusak, dan ribuan hektar lahan terendam.

Kerusakan Hutan
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan bahwa akar masalah banjir adalah kerusakan hutan yang masif dalam 5–10 tahun terakhir, terutama di hulu sungai. Deforestasi Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia, yang berdampak pada hilangnya tutupan hutan memperparah banjir dan longsor.
Sebanyak 7 korporasi besar diduga menjadi dalang pembalakan liar dan perizinan bermasalah yang merusak ekosistem. Hal ini dikuatkan adanya kayu gelondongan yang terseret arus sebagai bukti adanya aktivitas penebangan di kawasan hulu.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan perlunya perbaikan tata kelola hutan. DPR RI akan memanggil kementerian untuk membahas temuan kayu gelondongan.
Publik kembali mengingat wawancara keras aktor Hollywood Harrison Ford terhadap Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan pada 2013, yang kini viral lagi. Dalam dokumenter Years of Living Dangerously, Ford menegur keras soal kerusakan hutan di Riau, yang kini menjadi kenyataan.
Ini adalah tragedi ekologis terburuk dalam 35 tahun terakhir, yang memperlihatkan betapa rusaknya hutan membawa konsekuensi langsung pada hilangnya nyawa, rumah, ladang, dan masa depan.
Penulis: Hari Tri Wasono





