Bacaini.ID, KEDIRI – Kediri Jawa Timur merupakan dapur nasionalisme yang menggodok sekaligus melahirkan kembali Partai Nasionalis Indonesia (PNI) atau PNI Front Marheinis (FM).
Di Kediri, PNI yang didirikan oleh Bung Karno pada tahun 1927 kembali dihidupkan. Siapa yang membangkitkan dan siapa tokoh pergerakan yang terlibat? Berikut kisahnya.
Baca Juga:
- Jejak Penting Bung Karno di Ndalem Pojok Kediri, Bukan Blitar
- Renggang dengan NU Kekuasaan Bung Karno Rungkad
- Upaya Dewan Banteng Menggulingkan Bung Karno
Tercatat bahwa kelahiran kembali PNI Front Marheinis di Kediri Jawa Timur beriringan dengan perpindahan Ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.
Menyusul pindahnya ibukota para kelompok nasionalis memutuskan melakukan pertemuan di Kediri Jawa Timur. Pertemuan yang dimotori oleh Serikat Rakyat Indonesia (Serindo).
Serindo merupakan organ wadah perjuangan sekaligus partai politik yang didirikan pada 13 Desember 1945 oleh Sartono, Sarmidi Mangunsarkoro dan Osa Maliki. Mangunsarkoro didaulat sebagai ketua dan Osa sekretaris.
Mereka yang terlibat dalam rapat pembentukan Serindo di Jakarta itu pada umumnya para aktivis pergerakan yang pernah menempa diri di PNI (1927), Partindo dan Gerindo.
Sementara pertemuan yang sekaligus digelarnya Kongres I Serindo di Kediri itu berlangsung pada 29 Januari-1 Februari 1946. Kongres diikuti oleh sejumlah parpol yang memiliki kesamaan asas dan tujuan.
Hadir para tokoh PNI Pati, PNI Madiun, PNI Palembang, PNI Sulawesi dan lainnya. Kongres di Kediri menghasilkan kesepakatan dilakukan peleburan (fusi) seluruh kekuatan yang ada.
Semua bersepakat menghidupkan kembali PNI bentukan Bung Karno yang sebelumnya dibubarkan pada April 1931, yakni pasca Bung Karno ditangkap kolonial Belanda.
PNI resmi lahir kembali di Kediri 29 Januari 1946. Namun dalam perkembangannya hari ultah selalu dirayakan 4 Juli, mengacu pembentukan PNI oleh Bung Karno di Bandung tahun 1927.
Sejarah telah mencatat, Kongres I Serindo di Kediri telah melahirkan kembali PNI. Kendati demikian Osa Maliki tidak ikut terpilih dalam pengurus teras partai. Yang menjadi Ketua PNI adalah Sarmidi Mangunsarkoro.
Pada Kongres II PNI di Madiun 3-5 Maret 1947, Osa Maliki juga tidak masuk dalam jajaran dewan partai yang diketuai AK Gani. Dalam Kongres Madiun masuk Ali Sastroamidjojo dalam kepengurusan partai.
Osa Maliki diketahui baru masuk dewan pimpinan partai pada Kongres VIII PNI di Semarang 22-28 Juli 1956 atau 10 tahun setelah kelahiran kembali PNI di Kediri Jawa Timur.
“Osa Maliki ditetapkan sebagai Ketua Departemen Penerangan dan Hardi menjadi anggota DPP merangkap Ketua Fraksi PNI di DPR,” demikian dikutip Bacaini.id dari Osa Maliki dan Tragedi PNI, Konflik Interen Pra dan Pasca 1965 Rabu (25/2/2026).
Dalam perjalanannya, khususnya pada periode 1951-1955, di tubuh PNI bercokol 3 faksi yang berbeda pandangan politik, yakni Faksi Sidik (Nasionalis radikal), Faksi Wilopo (Konservatif) dan Faksi PNI-Partindo (Pragmatis).
Penulis: Solichan Arif





