Bacaini.ID, KEDIRI — Drama Korea atau drakor lebih dulu ‘menginvasi’ dunia hiburan digital beberapa dekade belakangan. Disusul kemudian drama China (dracin) yang lebih memikat penonton dengan format mikrodrama, sehingga mudah diakses melalui ponsel.
Di Indonesia, dracin dan drakor menjadi pilar utama hiburan digital, dengan drakor masih memegang keunggulan dalam hal jumlah pemirsa setia, namun dracin tumbuh sangat pesat.
Menurut Databoks, 51% publik Indonesia mengaku gemar menonton drakor secara rutin. Sementara dracin memiliki tren pertumbuhan yang pesat, dan dilaporkan mulai mengejar popularitas drakor.
Dracin diprediksi melampaui drakor dalam beberapa tahun ke depan karena inovasi formatnya. Kecenderungan penonton yang menjadi ketagihan nonton drakor dan dracin, banyak mendapatkan perhatian para ahli.
Di China sendiri, pemerintah setempat menerapkan aturan ketat pada tema cerita dracin agar tidak membawa dampak buruk bagi perilaku sosial penontonnya.
Baca Juga: Model Gamis Rompi Lepas Jadi Tren Baju Lebaran 2026
Dampak Kecanduan Nonton Drakor dan Dracin
Menurut Nature, yang dimaksud dengan kecanduan pada tontonan hiburan digital seperti drakor dan dracin adalah perilaku menonton kompulsif yang mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, tanggung jawab, dan kesehatan mental seseorang.
Salah satu gejala atau pola perilaku kecanduan ini adalah binge watching: maraton menonton, perilaku mengonsumsi konten video, seperti drakor atau dracin, secara terus-menerus dalam satu waktu, biasanya lebih dari dua episode sekaligus.
Mengutip Healthshot, penelitian mengenai dampak menonton drama berseri-seri ini menunjukkan beberapa hal.
• Manipulasi Sistem Dopamin
Saat menonton adegan yang sangat memuaskan atau penuh teka-teki, otak memproduksi dopamin, zat kimia yang menciptakan perasaan senang dan bahagia.
Otak akan merekam aktivitas ini sebagai ‘hadiah’, sehingga muncul keinginan kuat untuk mengulanginya terus-menerus. Inilah yang menyebabkan efek kecanduan, hingga sulit berhenti meskipun nonton berjam-jam.
• Penurunan Fungsi Kognitif dan Memori
Kebiasaan menonton berlebihan yang disertai kurang tidur dapat menyebabkan penurunan daya ingat dan dan gangguan konsentrasi.
• Perubahan Perilaku dan Menjadi ‘Halu’
Paparan terus-menerus terhadap karakter yang dianggap ideal dapat memicu fenomena ‘halu’ atau pengalaman imajiner. Menganggap diri sama dengan tokoh favorit dalam drama.
Otak mulai membandingkan realitas dengan dunia drama, yang bisa memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri atau pasangan di dunia nyata.
• Efek ‘Therapeutic’
Ini merupakan dampak positif yang bisa didapatkan dari drakor dan dracin. Meski bisa adiktif, para ahli juga mencatat bahwa drama memiliki manfaat terapeutik jika ditonton secara bijak.
Menonton karakter yang berhasil melewati trauma dapat membantu penonton memproses kesedihan atau trauma pribadi mereka sendiri (eksternalisasi). Drama menjadi validasi emosi penontonnya.
Selain itu, aktivitas nonton drama ini bisa menjadi alat bantu untuk relaksasi dan melepaskan penat setelah seharian bekerja, sebagai pereda stres.
Baca Juga: Cara Memasak Ayam Lodho yang Bikin Nagih
Tip Nonton Drakor dan Dracin Lebih Sehat
Agar tetap bisa menikmati hobi nonton drakor maupun dracin tanpa merusak kesehatan, beberapa langkah berikut bisa diterapkan.
• Atur Batasan
Putuskan di awal hanya akan menonton maksimal dua episode per hari dan gunakan timer atau alarm.
• Matikan Auto-play
Fitur ini sering kali menjadi penyebab utama kehilangan kendali waktu saat nonton drama.
• Selingi dengan Gerak
Lakukan peregangan (stretching) atau berjalan kaki sebentar setiap jeda episode untuk menjaga aliran darah.
• Jadikan ‘Hadiah’
Jadikan kegiatan menonton sebagai self-reward setelah menyelesaikan tanggung jawab harian, bukan sebagai pelarian utama.
Menonton drakor maupun dracin memang bisa berpengaruh pada kinerja otak, namun pengaruhnya sangat bergantung pada intensitas.
Jika ditonton secukupnya, drama bisa menjadi obat stres, tetapi jika menjadi kecanduan, ia dapat merusak kualitas tidur, mengganggu memori, dan mengubah persepsi seseorang terhadap kenyataan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





