Bacaini.ID, BLITAR – Benarkah Shodanco Soeprijadi atau Supriyadi pernah berada di kawasan Pantai Serang Desa Serang Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar?
Bukan hanya tempat penugasan sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air). Kawasan Pantai Serang Blitar konon juga menjadi tempat olah spiritual pemuda Soeprijadi.
Hasil penelusuran dari berbagai sumber tutur, Shodanco Soeprijadi kerap menjalani laku meditasi. Orang Jawa menyebutnya bertapa. Salah satu dari sekian laku tirakat.
Ada yang menyebut lokasi meditasi itu berada di tengah laut. Namun sumber lain mengatakan, laku spiritual itu dilakukan Soeprijadi di salah satu gugusan karang di sekitar pantai Serang.
Baca Juga:
- Terungkap, Syodanco Supriyadi PETA Blitar Dimungkinkan Tewas dalam Pembantaian di Hutan Maliran
- Tokoh-tokoh yang Sering Disalahpahami dari Blitar: Mulai Supriyadi Hingga Kusni Kasdut
- Pantai Serang Blitar Terseret Dugaan Skandal Keuangan, Pendapatan Wisata Njomplang
Kebiasaan Soeprijadi menjalani laku spiritual, menyendiri dan kemudian kerap bertingkah ‘ganjil’ sedikit terungkap di buku Soeharto di Bawah Militer Jepang.
Soeprijadi merupakan salah satu tentara PETA yang mengikuti Pelatihan Beppan di Tangerang tahun 1944. Dari Tangerang berlanjut ke Bogor untuk mengikuti pelatihan calon perwira.
Pelatihan calon perwira berlangsung 4 bulan. Para peserta mendapat tempaan soal ketangguhan, semangat juang dan ketrampilan taktik dalam kesatuan kecil infanteri.
Selama pelatihan Soeprijadi dikenali memiliki perangai penyendiri sekaligus kontroversi. Ia bisa tiba-tiba berenang sendirian di laut selatan yang terkenal dengan ombaknya yang ganas.
Ia juga sengaja mengenakan celana hijau yang merupakan pantangan mereka yang berada di pantai selatan. Seolah sengaja memancing kemarahan Ratu Kidul.
Seorang investigator Jepang mencatat kepribadian Soeprijadi. Disebutkan memiliki jiwa kepemimpinan kuat tapi mudah dipengaruhi. Juga gemar menyamakan diri dengan Pangeran Diponegoro.
Sementara ketika bertugas di kawasan Pantai Serang Blitar, Soeprijadi dan tentara PETA yang lain menempati asrama yang kini menjadi lokasi permukiman warga.
Sebagai perwira berpangkat Shodanco atau komandan peleton, ia memiliki pasukan 26-55 orang personil. Posisinya di bawah Chudanco atau Komandan Kompi dengan 80-225 orang personil.
Secara keseluruhan PETA memiliki 69 batalyon, dengan 37.500 orang personil terpusat di Pulau Jawa dan Bali, serta 20.000 personil di Pulau Sumatera.
Di kawasan Pantai Serang Blitar, PETA membangun tanggul pertahanan dengan mengerahkan tenaga romusha. Pembangunan juga dilakukan di kawasan Pantai Tambakrejo.
Kekejaman Jepang terhadap romusha menjadi motivasi terbesar Soeprijadi meletuskan pemberontakan di Blitar. Memimpin 360 prajurit PETA, ia menyerbu hotel Sakura yang menjadi markas perwira Jepang.
Meski kalah dan mengakibatkan banyak perwira dihukum mati oleh Jepang, peristiwa pada 14 Februari 1945 itu dikenang setiap tahun sebagai peristiwa pemberontakan PETA Blitar.
Penulis: Solichan Arif





