Bacaini.id, KEDIRI – Di balik sunyinya Museum Airlangga di kawasan Gua Selomangleng Kediri, ternyata menyimpan kehidupan makhluk tak kasat mata. Bagi yang bisa melihat, museum itu layak disebut kampung hantu.
Berada di kawasan Gua Selomangleng, tepatnya di kaki Bukit Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Museum Airlangga cukup jarang dikunjungi masyarakat. Terlebih di musim pandemi, kunjungan ke tempat wisata makin dibatasi.
Masyarakat sekitar kerap menyebut kawasan Gua Selomangleng sangat wingit. Terutama di area museum yang menjadi tempat penyimpanan benda-benda purbakala berusia ratusan tahun.
“Kita semua tahu kalau makhluk halus menyukai tinggal di benda-benda seperti patung. Apalagi patung di sini cukup tua dan jumlahnya banyak,” kata Novira, praktisi metafisika Tim Urban Legend Bacaini.id, yang menyambangi tempat itu, Rabu malam, 20 Oktober 2021.
Di mata Novira, kawasan Musem Airlangga malam itu tidaklah sunyi. Banyak aktivitas yang terjadi di sana, seperti layaknya permukiman manusia. Beberapa ada yang mencoba membangun kontak dengan Novira, untuk sekedar menunjukkan keberadaan mereka sebagai penguasa wilayah.
“Itu ada ayunan yang bergerak sendiri, bisa dilihat langsung,” kata Novi sambil menunjuk ayunan besi yang berada di sebelah barat dekat musholla.
Ayunan besi itu bergerak cukup keras tanpa ada yang mendekatinya sama sekali. Sementara desir angin juga tak terlalu kencang untuk mampu menggerakkan ayunan sekencang itu.
Menurut Novi, ada sosok perempuan yang duduk di atas ayunan. Perempuan itu terus menggerak-gerakkan ayunan hingga terlihat dengan mata telanjang. Tak ada ekspresi dari hantu perempuan itu. Tatapannya kosong sambil terus menggerakkan ayunan dengan kakinya.
Novi menduga hantu inilah yang sering menakut-nakuti masyarakat saat beraktivitas di dekat museum. Sejumlah warga melaporkan adanya suara perempuan menangis dari tempat itu di malam tertentu.
Tak jauh dari ayunan itu, sekitar dua meter ke arah timur, Novi melihat sepasang kaki yang sangat besar. Entah sebesar apa wujudnya, kedua kaki itu menjulang menyentuh tanah dengan sepasang mata merah di balik dedaunan di atas pohon.
Karena makin banyak hantu yang bermunculan, tim memutuskan bergeser ke bangunan lain yang berada di ujung timur museum. Tempat ini menjadi ruang kantor pegawai museum.
Baru beberapa langkah beranjak, Novi kembali merasakan energi dalam jumlah banyak. Rupanya tempat itu menjadi lalu lalang hantu yang bermukim di dalam museum. “Suara berisik banyak sekali di dalam museum,” kata Novi.
Dia merasakan senggolan dan tabrakan dari makhluk-makhluk itu hingga membuatnya sesak nafas.
Pemandangan tak kalah mengerikan tampak di ruang perkantoran bagian belakang. Ruangan yang dipenuhi dinding kaca ini ternyata ditempati seorang perempuan yang duduk sendirian. Perempuan itu diam mematung. Namun dipastikan bukan sosok kuntilanak. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana.
Penampakan perempuan itu ternyata mengawali penampakan makhluk-makhluk lain yang lebih menyeramkan di bagian belakang museum.
Baru beberapa langkah beranjak dari ruang kantor, Novi melihat sosok kuntilanak dengan wujud yang cantik. Senyumnya yang jahil dan mengeluarkan suara tawa membuat sosok itu terlihat menakutkan. Kuntilanak itu berdiam di ruang paling ujung sebelah timur.
Sesaat setelah kuntilanak itu tertawa, tiba-tiba muncul sosok anak kecil berwajah pucat. “Anak laki-laki, pakai kaos dan celana pendek duduk di dahan pohon. Wajahnya pucat melihat ke arah saya tapi pandangannya kosong. Ini jahil dan mungkin biasa mengganggu warga,” kata Novi.
Saat sedang mengamati hantu bocah kecil itu, tiba-tiba Novi terpekik. Dia buru-buru mengajak seluruh Tim Urban Legend untuk bergeser ke depan museum. “Ayo, di sini tidak aman,” katanya singkat.
Setelah menjauhi tempat semula, Novi menceritakan apa yang dilihatnya. Ternyata ada sesosok pocong berwajah mengerikan di sana. Pocong itu berdiri di depan pagar bambu dan menunjukkan sikap tidak suka.
“Pocong biasanya putih, ini bungkusnya hitam. Seperti dibungkus asal-asalan, bagian atasnya longgar. Tali pocongnya juga tidak ada. Wajahnya sudah tinggal tulang dan tinggi sekali. Auranya gelap, panas rasanya,” cerita Novi.
Tak hanya pocong, ada juga perempuan berambut panjang dengam baju putih. Meski posisinya membelakangi tim, namun dia mengeluarkan energi negatif yang sangat besar. Ini pertanda makhluk itu tidak menyukai kedatangan tim yang mengorek keberadaan mereka.
Tim akhirnya memutuskan mengakhiri petualangan di area museum. Karena makin malam, kemunculan hantu di tempat itu makin banyak.
Tim Urban Legend:
Novira Kharisma (Host), HTW (Host), Dulrahman (Kameramen), Micko (Kameramen), Budi Sutrisno (Kameramen), Kolis (Lighting).
Tonton video: