BACAINI.ID, JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember resmi menetapkan status tanggap darurat bencana menyusul peringatan cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Status ini berlaku mulai 12 hingga 26 Februari 2026.
Langkah tersebut diambil setelah BMKG memprediksi potensi cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Jember, pada rentang 10–20 Februari. Bahkan, data yang dirilis menunjukkan curah hujan kali ini tergolong paling tinggi dalam dua dekade terakhir.
Bupati Jember Gus Fawait memimpin langsung rapat koordinasi lintas sektor untuk memastikan kesiapan seluruh perangkat daerah. Instruksi siaga diberikan hingga tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan. TNI, Polri, serta relawan kebencanaan juga dilibatkan dalam penguatan respons lapangan.
“Kita harus bergerak bersama untuk mengantisipasi segala kemungkinan akibat cuaca ekstrem ini,” ujarnya.
Menurut Gus Fawait, koordinasi hingga level bawah penting agar pemantauan kondisi bisa dilakukan secara real time dan respons cepat jika terjadi bencana susulan.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo menegaskan, dengan terbitnya surat keputusan tanggap darurat, seluruh OPD dapat mengoptimalkan sumber daya untuk penanganan dampak, terutama banjir bandang yang terjadi di sejumlah titik.
“Fokus kami pada pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak serta perbaikan infrastruktur yang rusak,” katanya.
Sementara itu, Pj Sekda Jember Akhmad Helmi Luqman mengingatkan bahwa situasi kali ini bukan hujan biasa. Data BMKG menunjukkan intensitas hujan masuk kategori sangat ekstrem dan jarang terjadi.
“Ini kondisi serius. Tapi masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Tetap waspada dan pantau informasi resmi,” ujarnya.
Pemkab Jember meminta warga meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di kawasan rawan banjir, longsor, dan bantaran sungai. Pemerintah memastikan posko dan jalur koordinasi tetap aktif selama masa tanggap darurat berlangsung.
Penetapan status ini menjadi pengakuan bahwa risiko bencana tidak bisa dipandang remeh. Tantangannya kini bukan hanya pada kesiapan aparat, tetapi juga pada disiplin kolektif warga dalam membaca peringatan dan merespons situasi dengan cepat.
Di tengah curah hujan tertinggi dalam 20 tahun terakhir, kesiapsiagaan menjadi satu-satunya cara agar dampak tak meluas.(meg/ADV)





