• Login
Bacaini.id
Friday, April 3, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Jejak Diplomasi Soekarno dan Jalan Masuk Freeport ke Papua

Masuknya Freeport ke Papua pada 1967 kerap dianggap sebagai produk kebijakan Orde Baru. Namun sebuah kajian terbaru mengungkap bahwa jejak kehadiran perusahaan tambang Amerika Serikat itu justru berkelindan dengan strategi diplomasi Presiden Soekarno sejak era perebutan Irian Barat.

ditulis oleh Redaksi
3 April 2026 16:23
Durasi baca: 3 menit
Foto: bacaini by AI

Foto: bacaini by AI

Bacaini.ID, KEDIRI – Masuknya Freeport Sulphur Company ke Papua pada 1967 selama ini kerap dipandang sebagai produk kebijakan ekonomi Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Namun sebuah policy paper terbaru dari Universitas Indonesia mengungkap gambaran bahwa kehadiran Freeport ternyata memiliki akar kausal yang panjang dan berkelindan dengan strategi diplomasi Presiden Soekarno sejak dekade 1950-an.

Policy paper bertajuk “Diplomasi Soekarno dan Hadirnya Freeport: Kausalitas antara Strategi Leverage Geopolitik Indonesia dalam Perebutan Irian Barat (1950–1963) dan Konsesi Pertambangan Freeport Pasca-Integrasi (1967)” ini disusun oleh Danny Kunto Wibisono, mahasiswa Program Magister Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia.

Sejak awal kemerdekaan, Soekarno menempatkan Irian Barat sebagai simbol “kemerdekaan yang belum selesai”. Setelah jalur diplomasi multilateral di Perserikatan Bangsa-Bangsa gagal pada 1950-an, Indonesia beralih ke strategi tekanan geopolitik.

Soekarno secara sadar memanfaatkan rivalitas Perang Dingin dengan membangun kedekatan nyata dengan Uni Soviet. Puncaknya terjadi pada 1960–1961, ketika Indonesia memperoleh paket persenjataan besar dari Moskow, termasuk kapal selam, pesawat tempur, dan kapal perang. Langkah ini menciptakan tekanan strategis terhadap Amerika Serikat, yang khawatir Indonesia akan sepenuhnya masuk ke orbit Blok Timur.

Tekanan militer tersebut, ditambah eskalasi konflik seperti Pertempuran Laut Aru pada Januari 1962, akhirnya mendorong Washington mengubah sikap. Di bawah Presiden John F. Kennedy, Amerika Serikat memainkan peran kunci dalam mendorong Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia melalui Perjanjian New York 1962.

Freeport Sudah Hadir Sebelum 1967

Temuan paling penting dalam policy paper ini adalah bahwa hubungan awal antara Freeport dan Indonesia ternyata sudah terbentuk sebelum kejatuhan Soekarno.

Berdasarkan dokumen arsip dan penelitian sejarawan internasional, Freeport mulai memposisikan diri sejak 1959 setelah memverifikasi deposit tembaga di Ertsberg, Papua. Antara 1961–1962, perusahaan tersebut tercatat bernegosiasi dengan pejabat militer Indonesia, termasuk Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Komando Mandala, sebuah jabatan yang diberikan langsung oleh Soekarno.

Lebih jauh, policy paper ini mengungkap adanya preliminary arrangement antara Freeport dan pejabat Indonesia pada April 1965, enam bulan sebelum peristiwa G30S dan saat Soekarno masih menjabat Presiden. Fakta ini menantang narasi lama bahwa Freeport baru masuk setelah rezim Orde Baru berdiri.

Kontrak 1967 Sebagai Sinyal Politik

Meski inisiasi hubungan terjadi lebih awal, kontrak resmi Freeport baru ditandatangani pada 7 April 1967 oleh pemerintahan Soeharto. Kontrak tersebut menjadi investasi asing pertama Orde Baru dan memberikan berbagai kemudahan besar kepada Freeport, mulai dari hak eksklusif penambangan hingga pembebasan pajak awal.

Menurut policy paper ini, kontrak Freeport berfungsi ganda: sebagai proyek ekonomi dan sebagai sinyal politik kepada Amerika Serikat bahwa Indonesia pasca-Soekarno telah membuka diri terhadap kapital Barat.

Soekarno: Arsitek Tak Sengaja

Kesimpulan utama penelitian ini menyebut Soekarno sebagai “arsitek tak sengaja” dari kehadiran Freeport. Soekarno dinilai tidak pernah berniat membuka Papua bagi eksploitasi korporasi asing. Namun strategi geopolitiknya dalam merebut Irian Barat—yang berhasil secara politik dan diplomatik—justru menciptakan kondisi struktural yang memungkinkan Freeport beroperasi di Papua di era berikutnya.

Dalam konteks ini, Freeport dipandang sebagai aktor strategis yang memainkan perencanaan jangka panjang, sementara perubahan rezim dari Soekarno ke Soeharto menjadi momen eksekusi akhir dari rencana tersebut.

Implikasi bagi Papua

Policy paper ini juga menyoroti bahwa rakyat Papua tidak pernah dilibatkan secara bermakna, baik dalam proses diplomasi internasional, preliminary arrangement 1965, kontrak Freeport 1967, maupun Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969. Dampaknya, konflik sosial, ketimpangan ekonomi, dan persoalan lingkungan terus berlanjut hingga hari ini.

Penulis merekomendasikan audit historis kontrak sumber daya alam di Papua, penguatan mekanisme persetujuan masyarakat adat (FPIC), dan pengembangan kapasitas analisis intelijen ekonomi negara terhadap kepentingan korporasi asing.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: freeportorde baruPapuasoehartosoekarno
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Foto: bacaini by AI

Jejak Diplomasi Soekarno dan Jalan Masuk Freeport ke Papua

Pantai Serang Blitar sumber pendapatan desa

Hasil Audit Ungkap Dugaan Kebocoran BUMDes Serang Blitar, Inspektorat Beri Rekomendasi

Evakuasi korban kecelakaan bus di Jombang

Kesaksian Penumpang Saat Bus Restu Terguling di Tol Jombang

  • Wawali Blitar Elim Tyu Samba tidak hadir di upacara Hari Jadi ke-120 Kota Blitar

    Ada Apa dengan Wawali Blitar Elim Tyu Samba? Absen di Hari Jadi ke-120 Kota Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terguling di Tol Jombang, Bus Restu Angkut 35 Penumpang, Evakuasi Korban Berlangsung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Muscab PKB Blitar Penuh Kejutan, Nasa Barcelona Tantang Gus Tamim di Bursa Ketua DPC

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In