Bacaini.ID, TRENGGALEK – Jalur nasional Trenggalek-Ponorogo di KM 16 Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek Jawa Timur, sudah kembali normal.
Jalan yang sebelumnya tertutup longsor itu sudah bisa dilalui kendaraan dari dua arah. Namun ancaman longsor susulan masih mengintai, utamanya saat hujan dengan intensitas tinggi.
Baca Juga:
- Jalur Utama Trenggalek-Ponorogo Lumpuh, Tertutup Longsor dan Batu Raksasa
- Bahaya! Evakuasi Material Longsor Jalur Trenggalek-Ponorogo Tak Bisa Serta Merta, Tebing Masih Labil
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.3 Provinsi Jawa Timur, Endy Aktony mengatakan sepakat dengan BPBD, Basarnas dan kepolisian untuk menutup sementara jika situasinya dinilai berbahaya.
“Kalau cuaca ekstrem atau hujan deras terus-menerus, kemungkinan longsor susulan tetap ada,” ujar Endy Aktony kepada wartawan Rabu (11/3/2026).
Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali memastikan jalur Trenggalek-Ponorogo sudah dapat digunakan masyarakat.
Timbunan material longsor tanah dan batu telah dibersihkan. Kemudian kerusakan badan jalan yang amblas sudah teratasi.
Petugas telah memasang sheet pile atau pelat baja di sisi jalan yang fungsinya menahan pergerakan tanah sekaligus memperkuat badan jalan agar tetap stabil sementara waktu.
“Untuk kendaraan sudah bisa lewat dua arah, baik roda dua maupun roda empat. Namun untuk kendaraan roda enam ke atas diberlakukan sistem bergantian atau satu per satu,” terang Endy.
Baca Juga:
Selain pemasangan pelat baja, tim teknis juga melakukan penimbunan di area yang terdampak longsor serta penyemprotan soil stabilizer guna meningkatkan kekuatan dan kestabilan tanah di lokasi.
Upaya tersebut membuat lebar badan jalan sementara menjadi sedikit lebih sempit dibandingkan kondisi normal karena adanya timbunan material penahan.
BBPJN memastikan jalur secara fungsional sudah kembali normal dan dapat dilalui masyarakat, termasuk untuk mendukung kelancaran arus mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026.
“Kami tetap melakukan pengawasan ketat, terutama jika terjadi cuaca ekstrem. Koordinasi terus dilakukan dengan BPBD, Satlantas Polres Trenggalek, Basarnas, dan pihak terkait,” jelasnya.
Endy menegaskan penanganan saat ini masih bersifat sementara. Pemerintah masih menunggu hasil desain teknis penanganan permanen dari tim perencana jalan nasional.
Sebelumnya, tim ahli geologi telah melakukan identifikasi kondisi tanah di sekitar lokasi longsor untuk menentukan metode perbaikan jangka panjang yang paling aman.
Endy menambahkan, material longsoran di belakang tanggul sempat dibersihkan, namun kapasitas penampungan terbatas sehingga berpotensi meluap apabila terjadi aliran debris dalam jumlah besar.
“Jika material meningkat cepat, langkah paling aman adalah menutup sementara jalur sampai kondisi kembali stabil,” pungkasnya.
Penulis: Aby Kurniawan
Editor: Solichan Arif





