Bacaini.ID, KEDIRI — Dunia kuliner global selalu dipenuhi dengan perdebatan sengit, salah satunya soal siapa yang pantas menyandang gelar Negara dengan Makanan Terpedas di Dunia. Makanan termercon di dunia.
Baru-baru ini data dari World Population Review (WPR) mengenai Spicy Food Countries menjadi perbincangan hangat di media sosial karena membeberkan daftar negara-negara di posisi puncak. Hal itu memicu rasa penasaran sekaligus skeptisisme para pencinta makanan pedas di Asia.
Sebenarnya metodologi apa yang digunakan dalam penelitian tersebut? dan bagaimana realitas kuliner yang seringkali berbeda dengan angka statistic? Berikut penjelasannya.
Baca Juga:
- Kecanduan Makanan Pedas: Ini Efek Positifnya
- Kenapa Seblak yang Pedas Menyengat Viral di Thailand?
- Ayam Panggang Mbak Roh, Kuliner Pedas Legendaris di Kediri
Daftar 10 Negara dengan Makanan Terpedas Versi World Population Review
Berdasarkan data terbaru, World Population Review merangkum negara-negara dengan reputasi makanan pedas paling kuat di dunia. Berikut urutannya:
• Nigeria
• Amerika Serikat
• India
• Etiopi
• Indonesia
• Malaysia
• Tailan
• Ghana
• Meksiko
• Tiongkok
Peringkat ini memicu diskusi luas, terutama mengenai posisi Amerika Serikat yang berada di urutan kedua, mengungguli negara-negara dengan tradisi cabai yang sangat kental seperti India, Indonesia, dan Tailan.
Mengapa Amerika Serikat Bisa Ungguli Indonesia?
World Population Review adalah sebuah organisasi independen yang mengumpulkan data dari berbagai sumber sekunder, termasuk survei gaya hidup, data industri pertanian, dan tren kuliner global.
Pemeringkatan ini tidak semata-mata didasarkan pada tingkat capsaicin (zat aktif penghasil rasa pedas) dalam makanan rumahan, melainkan kombinasi dari beberapa faktor. Berikut di antaranya:
• Inovasi Kultivasi Cabai (Budidaya)
Amerika Serikat menduduki peringkat tinggi karena merupakan pusat pengembangan cabai hibrida terpedas di dunia.
Nama-nama seperti Carolina Reaper dan yang terbaru, Pepper X, dikembangkan oleh petani di AS. Secara teknis, cabai-cabai ini memiliki skor Scoville Heat Units (SHU) yang jauh melampaui cabai rawit atau cabai keriting tradisional.
• Industri Saus Pedas (Hot Sauce Culture)
AS memiliki pasar hot sauce yang sangat masif. Dari saus legendaris seperti Tabasco hingga merek-merek artisan yang menggunakan ekstrak cabai murni, konsumsi produk pedas olahan di AS terus meningkat secara eksponensial dalam satu dekade terakhir.
• Pengaruh Regional dan Budaya Pop
Wilayah Selatan AS, seperti Texas dan Louisiana, memiliki akar kuliner Tex-Mex dan Cajun yang sangat mengandalkan pedas. Selain itu, tren media sosial seperti ‘Hot Ones’ atau tantangan makan mi instan terpedas sangat populer di sana, yang mendongkrak skor partisipasi budaya makanan pedas di negara tersebut.
Realitas Kuliner: Mengapa Indonesia Tetap Rajanya Pedas di Asia
Meski secara statistik AS berada di posisi kedua, secara realitas kuliner (authenticity), lidah orang Asia memiliki standar yang jauh lebih tinggi. Ada perbedaan mendasar antara ‘pedas sebagai tantangan’ dan ‘pedas sebagai budaya’.
Di Indonesia, India, atau Tailan, rasa pedas adalah intrinsik. Cabai bukan sekadar topping atau saus botolan yang ditambahkan di akhir. Cabai diulek bersama bawang, rempah-rempah, dan terasi untuk menjadi bumbu dasar sebuah masakan.
Artinya, rasa pedas tersebut meresap hingga ke dalam protein atau sayuran, menciptakan dimensi rasa yang lebih kompleks dibandingkan sekadar rasa terbakar di permukaan lidah.
Masyarakat Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sangat bergantung pada cabai segar. Cabai rawit (Bird’s Eye Chili) mungkin tidak memiliki skor Scoville setinggi Carolina Reaper, namun frekuensi konsumsinya jauh lebih tinggi.
Di Indonesia, hampir mustahil menemukan meja makan tanpa sambal. Bagi masyarakat kita, pedas adalah ‘kebutuhan pokok’ untuk meningkatkan nafsu makan, bukan sekadar kompetisi setahun sekali.
Kekuatan Sambal Indonesia yang Tak Tertandingi
• Indonesia (Peringkat 5)
Indonesia adalah rumah bagi ratusan jenis sambal. Dari Sambal Terasi di Jawa hingga Sambal Roa di Manado. Kekuatan pedas Indonesia terletak pada keberagaman aromatiknya.
Penggunaan cabai rawit hijau dan merah yang dipadukan dengan bahan fermentasi menciptakan profil rasa yang sangat sulit ditiru oleh negara Barat.
• India (Peringkat 3)
India terkenal dengan penggunaan Bhut Jolokia atau Ghost Pepper, yang pernah menyandang gelar cabai terpedas di dunia.
Masakan India menggabungkan rasa panas dari cabai dengan rasa hangat dari rempah-rempah seperti lada hitam, jahe, dan mustard, memberikan sensasi ‘panas’ yang menyeluruh di tubuh.
• Tailan (Peringkat 7)
Tailan memiliki pendekatan ‘pedas segar’. Menu seperti Som Tam (selada pepaya) atau Tom Yum menggunakan cabai dalam jumlah besar yang diseimbangkan dengan asam jeruk nipis dan saus ikan.
Di Tailan, standar ‘pedas normal’ mereka seringkali sudah masuk kategori ‘sangat pedas’ bagi turis mancanegara. Namun di media sosial, banyak konten kreator asal Tailan yang ‘menantang’ tingkat kepedasan masakan Indonesia dan berakhir menyerah. Mereka mengakui, masakan Indonesia lebih pedas dari masakan Tailan.
• Meksiko (Peringkat 9)
Meksiko adalah tanah kelahiran cabai. Mereka memiliki varietas cabai terbanyak, mulai dari yang beraroma asap (smoky) seperti Chipotle hingga yang sangat menyengat seperti Habanero. Bagi orang Meksiko, cabai adalah identitas nasional.
Mengapa Rasa Pedas Bisa Membuat Ketagihan?
Rasa pedas sebenarnya bukanlah sebuah ‘rasa’ (seperti manis atau asin), melainkan sensasi nyeri. Capsaicin pada cabai mengelabui otak dengan mengirimkan sinyal bahwa lidah kita sedang terbakar.
Sebagai respons, otak melepaskan endorfin dan dopamin, hormon kebahagiaan yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa orang Indonesia sering merasa ‘ketagihan’ dan merasa ada yang kurang jika makan tanpa sambal.
Fenomena ini disebut sebagai benign masochism, di mana manusia menikmati sensasi ekstrem yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh.
Jika merasa kepedasan, berikut tips menghilangkan sensasi terbakar di mulut:
• Cari lemak, bukan air
Capsaicin adalah zat non-polar yang larut dalam lemak. Air dingin justru akan menyebarkan zat pedas ke seluruh mulut. Gunakan susu, yogurt, atau santan untuk menetralisirnya.
• Karbohidrat padat
Nasi putih, roti, atau kentang bisa membantu ‘menyerap’ minyak cabai di lidah.
• Gula atau madu
Rasa manis dapat membantu mengalihkan sinyal nyeri yang dikirim ke otak.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





