Bacaini.ID, JEMBER- Jumat pagi itu, Ahmad Khisol berdiri di halaman Balai Desa Balung Kidul dengan wajah berbinar. Di tangannya, amplop berisi honor tahunan untuk para guru ngaji dari Pemerintah Kabupaten Jember. Nominalnya mungkin tak seberapa, tapi maknanya besar bagi pria 26 tahun yang sudah lebih dari 10 tahun mengajar anak-anak mengaji tanpa pamrih.
“Alhamdulillah, sekarang jauh lebih mudah. Enggak perlu ke bank, enggak antre panjang. Cukup datang ke balai desa, langsung cair,” ujar Ahmad sambil tersenyum lega pada Jumat (3/10/2025).
Baginya, insentif tahunan itu bukan sekadar bantuan ekonomi, melainkan bentuk pengakuan atas pengabdian yang sering luput dari sorotan. “Bagi kami, ini penghargaan. Pekerjaan kami tidak tetap, tapi anak-anak harus tetap belajar setiap malam,” tuturnya.
Skema Baru, Cara Lama yang Dihargai
Program honorarium guru ngaji di Jember sebenarnya bukan hal baru. Namun tahun ini, Pemerintah Kabupaten Jember melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) menghadirkan skema penyaluran yang lebih cepat dan manusiawi: diserahkan langsung di balai desa.
Kabag Kesra, Nurul Hafid, menjelaskan bahwa pendekatan baru ini dilakukan agar para guru ngaji tak perlu repot datang ke bank. “Kami ingin prosesnya cepat, efisien, dan lebih terhormat. Guru ngaji enggak perlu antri atau keluar ongkos tambahan,” jelasnya.
Sejak penyaluran dimulai 10 September 2025, sudah lebih dari 15 ribu guru ngaji di 23 kecamatan yang menerima haknya. Total penerima mencapai 22 ribu orang—angka tertinggi sejak program ini digulirkan. Tahap kedua dijadwalkan tuntas pertengahan Oktober.
Tanpa Potongan, Tanpa Pungli
Hafid menegaskan bahwa setiap guru ngaji menerima Rp 1,5 juta per tahun secara penuh, tanpa potongan sedikit pun. Pemerintah bekerja sama dengan Bank Jatim untuk memastikan transparansi penyaluran.
“Kalau ada yang mengatasnamakan pihak tertentu minta setoran, tolong segera laporkan. Honor ini murni hak penerima,” tegasnya.
Selain uang tunai, para guru ngaji juga mendapat fasilitas BPJS Ketenagakerjaan dan jaminan kesehatan UHC. Bahkan, ada jalur beasiswa khusus untuk anak guru ngaji, sebagai bentuk keberlanjutan perhatian pemerintah terhadap keluarga mereka.
Lebih dari Sekadar Angka
Bagi Ahmad Khisol dan ribuan guru ngaji lainnya, apresiasi itu berarti banyak. Tak hanya meringankan kebutuhan sehari-hari, tapi juga meneguhkan semangat untuk terus mengajar meski tanpa imbalan besar.
“Yang penting anak-anak bisa ngaji, bisa hafal Al-Qur’an, itu sudah cukup bagi kami,” katanya lirih.
Di tengah hiruk pikuk program pembangunan dan proyek fisik, langkah sederhana ini mengingatkan bahwa pembangunan akhlak juga layak mendapat tempat. Sebab dari surau kecil di desa-desa, nilai moral dan karakter bangsa dibentuk yakni pelan, tapi pasti.
Penulis : Mega





