Bacaini.id, JOMBANG – Komunitas GUSDURian Jombang kembali menggelar kegiatan Sahur Keliling 2026 bersama Nyai Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Kegiatan kali ini di gelar di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak Desa Kwaron Kecamatan Diwek Jombang Minggu dini hari (1/3/2026).
Ketua Panitia Sahur bersama Ibu Nyai Shinta Nuriyah tahun 2026, Achmad Fathul Iman, mengatakan kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk meneladani nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan toleransi di tengah situasi kebangsaan yang dinilai memerlukan penguatan fondasi sosial.
“Kegiatan sahur keliling bersama Ibu Nyai Shinta ini bukan hanya agenda seremonial. Ketika demokrasi terasa goyah, ruang-ruang kebersamaan seperti inilah yang menguatkan fondasinya. Demokrasi bukan hanya soal politik, tetapi tentang keadilan, keberpihakan pada yang lemah, serta keberanian menjaga suara nurani,” ujarnya melalui siaran pers Minggu dini hari.
Sebagai tokoh nasional dan pegiat toleransi, Nyai Shinta Nuriyah selama ini konsisten menyelenggarakan Sahur Kebangsaan di berbagai daerah. Melalui forum sahur bersama, istri Gus Dur ini menghadirkan ruang dialog inklusif yang merangkul kelompok-kelompok marjinal serta mempertemukan beragam elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, suku, budaya, maupun status sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Istri Gus Dur itu menegaskan, bahwa Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman yang saling menguatkan. Kebiasaannya membersamai sahur dan buka puasa keliling bersama kaum marjinal dan masyarakat lintas iman merupakan bentuk ikhtiar merawat persaudaraan kemanusiaan. “Indonesia ini beragam. Justru karena keberagaman itulah kita kuat. Saya selalu ingin Ramadan menjadi ruang untuk merangkul semuanya, tanpa melihat latar belakang agama, suku, maupun status sosial,” ujarnya dalam sambutan dihadapan peserta saur keliling.
Tradisi sahur dan buka bersama yang selama ini ia lakukan bukan sekadar seremoni, melainkan pesan kebangsaan. “Kita harus menganggap bahwa kita semua bersaudara. Karena hakikatnya kita adalah satu. Satu nusa satu bangsa dan satu bahasa. Itulah semboyan yang kita sebut sebagai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.
Melalui Sahur Keliling 2026, pihak GUSDURian Jombang berharap dapat memperkuat jejaring solidaritas sosial di tingkat lokal. Sekaligus berkontribusi pada gerakan kebangsaan yang lebih luas. Di tengah berbagai tantangan, baik bencana alam maupun dinamika demokrasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persaudaraan, empati, dan komitmen terhadap nilai kemanusiaan adalah fondasi utama dalam merawat Indonesia.
Bagi Gusdurian, Sahur Keliling bukan sekadar agenda tahunan untuk menyemarakkan Ramadan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman, lintas budaya, kaum marginal, difabel, serta lintas kelas sosial dalam semangat kemanusiaan dan persaudaraan.
Sekitar 600 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri atas pejabat daerah, tokoh lintas agama, komunitas masyarakat sipil, para santri, hingga kelompok dhuafa dan masyarakat marjinal seperti tukang becak, pengamen, pemulung, tukang parkir, buruh, serta kelompok minoritas yang kerap berada di pinggiran akses sosial dan ekonomi. “Inilah hakikat puasa. Jadi puasa yang kita lakukan adalah puasa yang revolusioner. Yang bisa mengubah perilaku dari jelek menjadi baik,” pungkas Sinta Nuriyah.
Penulis: Syailendra
Editor: Hari Tri Wasono





