Bacaini.ID, KEDIRI – Ada dua hari besar keagamaan di Indonesia pada akhir bulan Maret 2025 ini, yakni lebaran Idul Fitri umat Islam dan Nyepi yang dirayakan umat Hindu.
Yang tidak banyak diketahui adalah jejak perjalanan agama Hindu sebagai agama resmi di Indonesia.
Pengakuan Hindu secara nasional berlangsung mulai tahun 1960 dan dikuatkan sebagai salah satu agama resmi mulai tahun 1965 melalui PNPS No.1 Tahun 1965.
Sebagai sebuah ajaran agama, Hindu di Indonesia diketahui banyak berbeda dengan Hindu di India.
Hindu Bali atau biasa disebut Hindu Dharma merupakan sinkretisme agama Hindu dengan kepercayaan lokal.
Dikutip dari Dunia Scope, berikut beberapa perbedaan Hindu Bali dan Hindu India.
Beda Hari Besar
Hindu Bali diketahui memiliki beberapa hari raya atau hari besar keagamaan.
Di antaranya, Holy, Dipawali, Siwaratri, Saraswati puja, Durga puja, Chhath puja dan Guru Purnima.
Hindu Bali juga memiliki tradisi merayakan Nyepi atau tahun baru saka, Galungan, Kuningan, Puja Daraswati, Siwaratri dan Pagerwesi.
Yang membedakan Hindu Bali dengan Hindu India adalah pedoman yang dipakai menentukan hari raya keagamaan. Hindu Bali menggunakan kalender saka dan wewaran.
Sedangkan Hindu India memakai kalender Hindu kuno atau kalender India.
Beda sistem kasta
Pembagian kasta antara Hindu Bali dan Hindu India ternyata berbeda.
Dalam Hindu India, kasta terbagi dalam Brahmana (pendeta), Kshatriya (pejuang, penguasa), Baisya (pedagang trampil, pedagang dan pejabat kecil), Sudra (pekerja tidak trampil) dan Paria (orang buangan).
Selain 5 kasta besar, ada sekitar 3000 kasta dan lebih dari 25.000 sub kasta.
Di India, kasta tinggi dan rendah hidup terpisah. Bahkan ada beberapa kasta tinggi yang menolak berbagi air, makanan dan segala sesuatu dengan kasta rendah.
Hal sebaliknya terjadi pada Hindu Bali. Sekalipun terbagi dalam kasta-kasta, kehidupan masyarakat Hindu Bali lebih membaur dan egaliter.
Kasta Hindu Bali terbagi dalam empat kasta, yaitu Brahmana, Kshatriya, Vaisya, dan Sudra.
Kehidupan sosial yang lebih humanis pada masyarakat Hindu Bali, tak lepas dari campur tangan pemerintah setempat melarang diskriminasi kasta.
Hasilnya, jarak kesenjangan sosial dan ekonomi antar kasta lebih tipis.
Yang khas dari masyarakat Hindu Bali adalah tradisi menyematkan golongan kasta pada nama anak.
Kasta Brahmana, biasanya menggunakan nama awalan Ida Bagus atau Ida Ayu. Kasta Ksatria menggunakan nama depan Anak Agung, Cokorda, Desak atau Gusti, Dewa atau Dewa Ayu.
Sementara kasta Waisya bernama depan Ngakan, Kompyan atau Sang atau Si.
Untuk kasta Sudra tidak menggunakan nama khusus namun tetap memakai nama sesuai urutan kelahiran.
Anak pertama bernama awal Wayan, Putu dan Gede. Anak kedua atau tengah bernama awal Made atau Nengah.
Anak ketiga bernama Nyoman atau Komang. Anak keempat bernama depan Ketut.
Beda cara berdoa dan ibadah
Pada Tahun Baru Saka, umat Hindu Bali menunaikan ritual Nyepi.
Selama Nyepi, umat Hindu Bali melakukan proses penyucian diri dan alam semesta dengan melakukan beberapa pantangan. Salah satunya keluar rumah.
Hal ini berbeda dengan Hindu India yang merayakan tahun baru India dengan keluar rumah dan berpesta.
Hindu Bali meyakini adanya satu Tuhan, Sang Hyang Widhi. Sementara Trimurti merupakan konsep ketuhanan yang menggambarkan tiga dewa tertinggi, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Ketiga dewa ini memiliki tugas yang berbeda-beda. Hal itu berbeda dengan Hindu India yang menganut politheisme, percaya pada lebih dari satu Tuhan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif