• Login
Bacaini.id
Monday, July 27, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Hari Pahlawan 10 November, Mengingat Jejak Kusni Kasdut sebagai Pejuang Kemerdekaan

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
10 November 2023 10:50
Durasi baca: 6 menit

Sejak peristiwa perampokan Museum Gajah pada tahun 1963, nama Kusni Kasdut yang pernah berjuang di garda depan peristiwa 10 November 1945, lebih dikenal sebagai penjahat kelas kakap.

Aksinya ditakuti. Tidak hanya merampok museum nasional, ia juga pernah menembak mati polisi Semarang, menculik dokter Tionghoa di Surabaya, membunuh miliader keturunan Arab di Jakarta, dan berkali kali kabur dari penjara.

Di dalam penjara yang kesekian kali menyekapnya, Kusni sempat melakukan perenungan mendalam.

“Apakah sesungguhnya yang kukejar selama ini? Harta?. Telah kuserahkan di Madiun. Tujuh kilo emas-berlian. Uang? Telah kuhamburkan di Surabaya dan telah sia sia. Di Semarang. Kehormatan? Kakiku adalah medali yang tak tercabut kekuasaan? Apakah itu? Apakah itu?”.

Kusni berfikir, revolusilah yang mengajarinya merampok. Kusni sempat bertanya tanya. Apa bedanya merampok di Gorang Gareng Madiun dengan museum negara. Apa bedanya merampok keluarga Tionghoa, keluarga Indonesia dan merampok museum milik rakyat Indonesia?. 

“Dia sampai kepada kesimpulan dan keyakinan penuh bahwa tidak ada bedanya. Berlian adalah berlian. Merampok adalah merampok,” tulis Daniel Dhakidae dalam Menerjang Badai Kekuasaan.

Pada 10 November 1979, Presiden Soeharto tak mengabulkan permohonan grasi yang diajukan. Pada 6 Februari 1980 Kusni Kasdut menjalani vonis eksekusi hukuman mati.

Tiga butir peluru tajam yang menembus dada dan lima bersarang di perut, menghentikan nafas Kusni Kasdut. Sejarah kemudian lebih mengenang namanya sebagai penjahat legendaris daripada bekas pejuang peristiwa 10 November 1945.

Penulis: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Page 5 of 5
Prev1...45
Tags: 10 November 1945hari pahlawanHari Pahlawan Nasionalkusni kasdutMohamad Hattapenjahat legendarissurabayaTNI
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi makanan diet keto tinggi lemak yang dikaitkan dengan peningkatan risiko tumor usus kecil berdasarkan penelitian MIT di jurnal Nature

Penelitian MIT: Diet Keto Bisa Picu Risiko Kanker Usus

Jenderal Feisal Tanjung, R Hartono, Syarwan Hamid, dan Sutiyoso merupakan petinggi militer Orde Baru yang menjabat saat tragedi Kudatuli atau Kerusuhan 27 Juli 1996

Kudatuli 27 Juli 1996: Daftar Petinggi Militer Orde Baru Saat Kerusuhan

Konferensi Pers Ari Lasso di Hotel Grand Surya Kediri. Foto: Humas

Generasi 90-an Merapat, ada Ari Lasso di GOR Jayabaya Kediri

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In