Bacaini.ID, KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri sedang melanjutkan pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati (GDJ) di Kecamatan Tarokan. Proyek ini merupakan pembangunan multi-tahun yang dimulai sejak 2023, dengan target selesai total pada 2027. Tahun ini, Pemkab Kediri mengalokasikan Rp 58,5 miliar untuk tahap ketiga pembangunan.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengatakan, pada tahap ke-3 ini, pekerjaan pembangunan stadion akan melanjutkan pemasangan atap, penyelesaian Zona A termasuk pekerjaan site development.
“Atap kita selesaikan di tahun 2026 dan beberapa hal yang memang harus diperbaiki seperti drainase dan lain sebagainya itu kita selesaikan,” kata Dhito dalam siaran pers yang diterima Bacaini.ID, Senin, 5 Januari 2026.
Pembangunan Stadion Gelora Daha Jayati yang diproyeksikan mampu menampung 15.000 penonton ini mulai dikerjakan pada Tahun 2023. Dhito menargetkan pembangunan stadion akan selesai pada Tahun 2027 mendatang.
Keberadaan stadion ini diproyeksikan membuka peluang ekonomi yang luas. Setiap event olahraga atau konser yang digelar berpotensi mendatangkan ribuan pengunjung, menciptakan perputaran uang di sektor informal seperti transportasi lokal, penginapan rumahan, dan warung makan. UMKM juga mendapat ruang sebagai penyedia makanan, merchandise, dan layanan pendukung stadion.
Tak hanya itu, kehadiran stadion diprediksi menarik investor untuk membangun fasilitas pendukung seperti hotel, pusat perbelanjaan, dan sport center. Jika dikelola profesional, stadion bisa menjadi venue regional untuk liga sepak bola, konser nasional, dan festival budaya. Nama “Gelora Daha Jayati” yang mengandung makna historis, merujuk pada kejayaan Kerajaan Daha yang pernah berpusat di wilayah Kediri, akan menguatkan identitas daerah.
Dampak Negatif bagi Pemerintah Daerah
Proyek ini dikhawatirkan akan membebani keuangan daerah, mengingat pada awalnya direncanakan menggunakan APBN. Namun karena pemblokiran anggaran pusat, kini seluruh biaya ditanggung oleh APBD Kabupaten Kediri. Pengucuran anggaran sebesar Rp 58,5 miliar pada 2026 ini juga berpotensi mengurangi alokasi untuk sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur desa. Sehingga resiko terbesarnya adalah menciptakan ketergantungan pada APBD yang bisa menimbulkan tekanan fiskal jangka panjang.
Tak hanya itu, sebagai proyek multi-tahun dan dipastikan selesai pada Tahun 2027, pembangunan proyek ini rawan keterlambatan. Jika terjadi stagnasi, stadion bisa menjadi bangunan mangkrak yang membebani citra pemerintah daerah. Dampak sosialnya, publik kehilangan kepercayaan terhadap tata kelola proyek besar.
Selain anggaran, kapasitas stadion yang mencapai 15.000 penonton hingga kini belum jelas strategi pemanfaatan rutinnya selain pertandingan besar. Risikonya, stadion hanya aktif saat event tertentu, sementara biaya perawatan tinggi. Hal ini bisa menciptakan ketimpangan akses, di mana fasilitas megah itu tidak benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Penulis: Hari Tri Wasono





