Bacaini.ID, JEMBER- Di tengah semarak lantunan ayat suci yang menggema di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Jawa Timur 2025, denyut ekonomi masyarakat Jember ikut bergetar.
Para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi saksi bahwa syiar Al-Qur’an juga bisa menghadirkan berkah nyata bagi roda perekonomian lokal.
Sejak lomba dimulai pada Sabtu (13/9/2025) lalu, kawasan sekitar venue MTQ ramai oleh pengunjung dan peserta dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku UMKM binaan pemerintah daerah, yang diberi ruang untuk membuka stan resmi di area lomba.
Koordinator venue tilawah remaja dan tunanetra, Iwan Sutikno, mengatakan ada sedikitnya lima UMKM binaan Dinas Koperasi Jember yang difasilitasi untuk berjualan di sekitar lokasi.
“Mereka mendapat izin resmi dan lokasi strategis. Selain itu, warga sekitar juga ikut berjualan di luar venue, terutama untuk memenuhi kebutuhan pengunjung dan anak-anak sekolah di sekitar area,” jelas Iwan, Rabu (17/9/2025) siang.
Momentum ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha kecil yang sebelumnya sempat kesulitan menjangkau pasar luas.
Salah satunya Diah, pelaku UMKM asal Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang. Ia menjajakan kebab isi daging, sayuran, dan saus mayo di area lomba.
“Penjualannya lumayan, meski belum sampai 200 porsi per hari. Tapi yang penting ada tambahan rezeki,” katanya tersenyum.
Diah mulai berjualan sejak Minggu (14/9/2025) bersama beberapa UMKM binaan lainnya. Ia bersyukur karena stan yang disediakan pemerintah tidak dipungut biaya.
“Cukup daftar ke Dinas Koperasi, langsung difasilitasi gratis. Ini bentuk dukungan nyata bagi pelaku usaha kecil seperti kami,” ujarnya.
Selain menarik pengunjung MTQ, lokasi yang berdekatan dengan sekolah juga memberi keuntungan tersendiri. Saat jam istirahat, banyak siswa membeli jajanan, sementara sore hari giliran para peserta lomba dan pendamping yang memenuhi area kuliner.
“Setiap jam ramai bergantian, jadi dagangan tetap jalan,” tambah Diah.
Tak hanya soal omzet, bagi para pelaku UMKM, kesempatan berpartisipasi di ajang sebesar MTQ menjadi pengalaman berharga. Mereka bisa mengenalkan produk ke pasar yang lebih luas, bahkan menjalin relasi dengan pembeli dari berbagai daerah di Jawa Timur.
“Ada yang dari luar kota bilang suka sama produk kami, dan minta kontak untuk pesan lagi,” ceritanya bangga.
Pemerintah daerah berharap, sinergi antara kegiatan keagamaan dan pemberdayaan ekonomi ini bisa menjadi model di masa depan.
MTQ bukan sekadar ajang perlombaan spiritual, tapi juga ruang pemberdayaan sosial ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Ketika syiar Al-Qur’an menggema, ekonomi rakyat juga ikut bergerak. Ini bukti bahwa nilai-nilai Qur’ani juga bisa diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan,” ujar Iwan.
Di tengah gemerlap panggung lomba dan semangat religius yang mengiringi setiap ayat, kisah seperti Diah menjadi bukti bahwa keberkahan MTQ tak hanya dirasakan para peserta, tapi juga masyarakat kecil di sekitarnya. Sebuah harmoni antara iman dan ikhtiar, antara spiritualitas dan ekonomi rakyat.
Penulis : Mega





