Bacaini.id, TULUNGAGUNG – Melukis objek yang terlihat dengan mata kepala atau membuat lukisan abstrak tentu bukan hal yang asing lagi. Namun, bagaimana dengan seorang seniman yang melukis makhluk halus?
Jawabanya ada pada Kadek Anindya Svastika. Perempuan asal Desa/Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung ini adalah seorang seniman dengan bakat yang unik dan langka. Anin, sapaan akrabnya, mengaku sudah sejak kecil memiliki kepekaan khusus terhadap eksistensi makhluk halus atau yang biasa disebut indigo.
Bahkan dia juga pernah mengikuti pelatihan kebatinan yang diadakan oleh instansi Polri. Dari situlah awal mula bakat uniknya mulai diasah. Dari sensitif, Anin mulai melihat dan mampu monorehkan sosok tak kasat mata itu melalui lukisan.
“Selama menekuni ilustrasi mistis ini, saya telah melewati proses seni rupa dari berbagai aliran. Bisa dibilang ini upgrade kemampuan seni rupa, tidak hanya menetap di seni lukis pada umumnya,” kata Anin kepada Bacaini.id, Minggu, 24 April 2022.
Anin bercerita, dia memilih mengupgrade kemampuan seni rupa yang dimilikinya dengan membuat ilustrasi mistis. Selain unik dan masih jarang dilakukan oleh seniman yang lain, Anin juga berniat untuk menyampaikan edukasi melalui gambaran ilustrasi itu.
Perempuan berambut pendek ini mengaku sudah mulai menekuni seni lukis mistis sejak duduk di bangku SMA, namun dia tidak berani menunjukkannya ke publik. Dia masih benar-benar ingat saat pertama kalinya mengunggah karya lukis mistisnya di media sosial (medsos).
Menurutnya, saat itu, berbagai respon memenuhi kolom komentar. Tidak sedikit komentar bernada negatif yang menyebut gambar yang dipostingnya itu musyrik. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghapusnya.
“Saya sempat beberapa bulan berhenti melukis dan tidak berani melihat medsos. Saat itu saya benar-benar down,” akunya.
Sempat berbulan-bulan memendam hasrat untuk melukis, jiwa seninya pun memberontak. Anin berusaha untuk kembali bangkit dari trauma yang diaalaminya. Bagai gayung bersambut, bersamaan dengan itu tiba-tiba datang tawaran pekerjaan.
Seorang YouTuber yang tertarik dengan karya ilustrasinya, mengajak Anin bergabung untuk mendukung konten horor yang dibuatnya. Hingga saat ini Anin telah melakukan 10 kali syuting sejak tiga bulan bekerja sama dengan YouTuber konten horor tersebut.
“Saya menerima tawaran pekerjaan itu bukan hanya semata karena uang saja. Namun, karena ada edukasi yang disampaikan melalui konten itu. Hal itu terwujud saat saya membuat ilustrasi kuntilanak atau pocong, yang saya lampirkan penjelasan asal muasalnya,” bebernya.
Tidak hanya itu, dari pengalaman pahit sebelumnya, Anin juga memberikan edukasi bahwa seni ilustrasi mistis atau horor tidak melulu berkaitan dengan kemusyrikan. Meskipun bukan perkara mudah untuk membuat netizen sepakat dengan pandangannya.
“Lama-lama feedback dari masyarakat menjadi positif, saya juga tidak takut lagi mengunggahnya di sosmed. Selama ini saya selalu ingin menyampaikan bahwa apa yang saya gambar itu murni dari kepekaan yang saya rasakan,” ungkapnya.
Anin menceritakan pengalamannya selama ikut dalam proses produksi konten YouTube yang sekarang menjadi pekerjaannya. Salah satunya ketika syuting di Alas Jamban, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Bahkan Anin juga menunjukkan gambar sosok Buto Ijo yang didapatnya di sana.
“Biasanya menggambar ilustrasi itu saat sesi terakhir. Di konten itu saya dibantu paranormal untuk menggambar sosok gaib yang sebelumnya sudah saya rasakan. Sekali gambar, butuh waktu sekitar lima menit lah,” kata Anin.
Sebenarnya, tidak ada kendala ketika dia menjalankan pekerjaannya. Hanya saja terkadang dia merasa bingung saat harus memilih sosok makhluk halus yang menarik untuk digambar sekaligus dikulik ceritanya.
Tentu saja di lokasi angker tidak hanya dihuni satu dua makhluk tak kasat mata. Bahkan saking banyaknya, anak indigo itu dibuat kebingungan sampai terkadang merasa pening. Karena, saat dia menggambar satu sosok, biasanya sosok lain juga berebut ingin digambar. Pernah dalam satu kali syuting, Anin sampai menggambar lima sosok yang ngeyel minta digambar.
“Sebenarnya tidak semua bersedia untuk diwujudkan, seperti Buto Ijo itu. Dia tidak bersedia digambar karena memang memiliki aura negatif. Tapi mau bagaimana lagi, saya terpaksa tetap menggambarnya karena tuntutan konten,” tandasnya.
Penulis: Setiawan
Editor: Novira