(Surat terbuka untuk penguasa)
Tulisan ini pada dasarnya akan saya tujukan kepada kelompok yang diberikan mandat untuk memiliki tanggung jawab moral dalam mengatur, membentuk, dan menegakkan aturan kepada rakyat.
Demonstrasi harus dipahami sebagai sebuah bentuk upaya mengingatkan, mengkritik, dan mengoreksi ulang kebijakan yang disampaikan secara kolektif oleh pemegang kedaulatan (rakyat) kepada wakil-wakilnya yang dipilih secara demokratis (penguasa). Definisi ini terkesan terlalu klise dan telah banyak diulas oleh pakar-pakar komunikasi ilmu politik.
Namun, agaknya saya akan memakai ungkapan lain bahwa pada dasarnya demonstrasi adalah sebuah bentuk kecintaan, kepedulian, bahkan empati dari rakyat untuk wakil-wakil yang mereka percayai menduduki kursi kekuasaan.
Kiasan ini berangkat dari argumen-argumen sederhana saat kita masih bocah dan sering melakukan kesalahan sehingga tak jarang orang tua kita mengingatkannya dengan marah-marah. Satu yang pasti, kemarahan orang tua kepada anak tidak lebih dari sebuah ekspresi cinta kasih bahwa sebenarnya orang tua itu – kalau dalam istilah Jawa eman jikalau anaknya terjebak pada kesalahan-kesalahan yg tidak perlu.
Orang tua melakukan teguran-teguran dari mulai yang lembut hingga yang keras secara berulang dan tanpa lelah semata-mata agar anak mendapatkan pemahaman bahwa apa yang mereka perbuat tidaklah sepatutnya dilanggengkan. Maka kata mendidik barangkali juga cocok sebagai sebuah substansi pelengkap dari kata cinta yang lebih dahulu muncul.
Cinta dan pendidikan adalah asupan yang penting untuk mengiringi tumbuh kembang anak agar kelak ia bisa lebih mawas diri dan bijak dalam menjalani kehidupan dewasa yang lebih kompleks. Harapan yang semakna itu pula yang rakyat tumpukan kepada pundak-pundak penguasa.
Rakyat sebagai instrumen terpenting dari terbentuknya suatu bangsa dengan segala tata tertib serta aturan didalamnya haruslah dilihat oleh penguasa sebagai seorang figur orang tua yang harus didengarkan, dihormati, dan dijalankan saran-saran konstruktifnya semata-semata demi terwujudnya kedewasaan dimana muaranya adalah sebuah kesejahteraan bersama.
Penguasa tidak lebih dari sebuah istilah hampa tanpa kehadiran rakyat yang menjadi orang tua sekaligus sebagai legitimator atas kekuasaan mereka. Dimana dalam sebuah kesadaran ini, rakyat sama sekali tidak boleh disepelekan. Sehingga, baik rakyat maupun penguasa berkedudukan dan saling berkelindan sebagai sebuah subjek dan objek yang mustahil dipisahkan satu sama lain.
Dalam sebuah teori demokrasi yang diterangkan sejak bangku sekolah dasar bahwa kekuasan itu dari, oleh, dan untuk rakyat. Maka jelaslah, term mengenai penguasa tidak lebih merupakan sebuah kedudukan fana dimana sejatinya rakyat adalah pemegang kendali utamanya.
Gelaran-gelaran demonstrasi harus dilihat layaknya upaya orang tua mendidik anak-anaknya. Sebagai upaya rakyat mendidik penguasa dimana pendidikan itu adalah bentuk cinta yang kongkrit juga konstruktif. Sikap penguasa harusnya berbangga, dan berterima kasih bahwa rakyat tidak pernah acuh terhadap mereka. Rakyat peduli, rakyat menyayangi, dan rakyat memberikan pendidikan kepada anak-anak yang ia percaya memimpin mereka.
Kejadian gugurnya Affan Setiawan menjadi sebuah momentum kedurhakaan penguasa kepada pemberi mandat. Ibarat anak yang menikam orang tuanya, tentu kata miris, prihatin, bela sungkawa tidak akan cukup mengobati apa yang telah mereka perbuat.
Tapi rakyat sebagai orang tua mau bagaimanapun tetaplah mencintai anaknya. Rakyat akan terus mendidik penguasa lewat corong-corong orasi yang tegas dan menghujam pikiran kekanak-kanakan penguasa. Sekali lagi, demontrasi itu adalah semata-semata pendidikan dan wujud cinta kasih yang tiada perlu dipertanyakan kadarnya.
Teruntuk penguasa-penguasa, tulisan ini adalah bentuk praktis untuk merapikan konstruksi nalarmu bahwa tuanmu, orang tuamu, pimpinanmu adalah rakyat. Jangan sekali-kali membuatnya marah. Sedikit saja kebodohan kau tunjukkan, jangan salahkan rakyat akan terus datang untuk mengetok rumahmu dan mendidikmu dengan lebih keras. Berbakitilah pada rakyat yang membesarkanmu, mempercaiayaimu, dan menggantungkan harapan mereka kepadamu.
Semoga kamu membaca ini, untuk kesekian kali, sebagai bentuk cinta kasih dan pendikan kedewasaan kepadamu.
Tertanda,
Orang tuamu,
Rakyat
Penulis: Fauzi Zakaria*
*)Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)