• Login
Bacaini.id
Friday, April 24, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Cerita Pala, Buah Emas Pemicu Kolonialisme di Nusantara

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
23 October 2024 10:28
Durasi baca: 3 menit
Cerita Pala, Buah Emas Pemicu Kolonialisme di Nusantara. (foto ilustrasi wikipedia dan freepik)

Cerita Pala, Buah Emas Pemicu Kolonialisme di Nusantara. (foto ilustrasi wikipedia dan freepik)

Bacaini.ID, KEDIRI – Buah Pala merupakan rempah asli Nusantara. Memiliki nama ilmiah Myristica fragrans dan disebut juga dengan nutmeg, rempah ini adalah harta karun dunia pada masanya.

Sebegitu pentingnya Pala sehingga menjadi komoditas utama perdagangan sejak jaman Romawi.

Pohon Pala berasal dari Kepulauan Banda, Maluku. Penghasil pala terbaik di Indonesia bahkan dunia adalah Pulau Siau, pulau yang berada di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro atau Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara.

Buah pala yang cantik di tanah asalnya disebut dengan buah emas, lantaran warnanya akan berubah kuning keemasan dan merekah ketika tiba waktunya dipanen.

Tak ada yang terbuang dari buah pala. Semua bagian bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi.

Mulai dari daging buah bisa diolah jadi manisan, asinan, dodol, selai dan sirup. Fuli atau salut bijinya yang berwarna merah dimanfaatkan sebagai rempah, sama seperti bijinya.

Pada abad ke-6 Masehi, pala menyebar ke India, kemudian ke Konstantinopel, dan menjadi mitos di belahan bumi lain.

Pada abad ke-13, para pedagang Arab berhasil mengetahui asal-usul pala, yaitu di belahan timur pulau-pulau Nusantara, tapi mereka merahasiakan lokasi ini dari para pedagang Eropa.

Barulah ketika Portugis mendatangi Asia Tenggara, pedagang-pedagang Eropa mendapati lokasi utama pala berasal.

Pala mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perdagangan rempah-rempah global.

Di antaranya memicu Era Eksplorasi, zaman penjelajahan bangsa Eropa untuk mencari kekayaan alam dan ilmu pengetahuan, dan memainkan peran penting dalam Perang Rempah pada tahun 1600-an.

Pada tahun 1500-an, Banda memiliki perdagangan ekspor-impor yang berkembang pesat dengan komoditi pala dan cengkeh yang menjadi andalan utama.

Saat itu perdagangan rempah dikuasai oleh Portugis dengan membeli rempah pada penduduk Banda. Sampai kemudian VOC melancarkan serangan berdarah pada penduduk kepulauan Banda pada tahun 1621 untuk memonopoli produksi dan perdagangan pala.

Dari sinilah sejarah Perang Rempah bermula dan itu melibatkan Portugis, Inggris dan Belanda.

Ketika Inggris mengambil alih Kepulauan Banda dari kekuasaan Belanda, mereka memindahkan perkebunan pala ke Sri Lanka, Penang, Bengkulu dan Singapura.

Pohon-pohon pala pun menyebar ke wilayah-wilayah jajahan Inggris lainnya.

Pala, buah kecil nan cantik ini sangat berharga dan mahal, mendatangkan kemakmuran sekaligus pemicu peperangan.

Pala jadi rebutan bangsa-bangsa di dunia lantaran manfaatnya yang besar. Selain sebagai rempah dalam kuliner lintas benua, pala juga memiliki manfaat medis, utamanya untuk pengobatan tradisional.

Minyak atsiri dari pala berperan besar dalam dunia industri parfum dan farmasi.

Pala hingga kini tetap jadi salah satu rempah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Tercatat harga pala di pasaran berkisar antara Rp 200-300 ribu per kilogram.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif 

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: Bandabuah emaskolonialismenusantarapalaperdagangan palasejarah pala
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

aktivitas Gunung Slamet suhu kawah meningkat dan pemantauan PVMBG

Suhu Kawah Gunung Slamet Naik Tajam, Aktivitas Magma Meningkat

Ilustrasi World Bank. Foto: unsplash

Salah Analisa Ekonomi Indonesia, Bank Dunia Minta Maaf

Hary Tanoe (tengah) berfoto dengan Erick Thohir (kiri). Foto: IG@hary.tanoesoedibjo

Hary Tanoe Dihukum Bayar Rp531 Miliar ke Jusuf Hamka

  • Alun-alun Kota Kediri yang mangkrak dan Kepala Dinas PUPR Endang Kartika Sari.

    Pemkot Kediri Tak Punya Strategi Lanjutkan Proyek Alun-alun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemblokiran TPA Klotok Picu Krisis Sampah di Kota Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pj. Sekda Kota Kediri Segera Diganti, Ditunjuk dari Pemkot Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In