Bacaini.ID, KEDIRI — Celana gajah kembali mencuri perhatian publik, terutama di kalangan Gen Z. Celana longgar yang dulu identik dengan backpacker asing dan turis Asia Tenggara, kini jadi outfit harian anak muda urban.
Dari TikTok hingga Instagram, gaya santai dengan potongan lebar di bagian kaki itu muncul berulang kali dalam konten nongkrong, ngopi, jalan sore, hingga aktivitas harian lainnya.
Fenomena kembalinya tren celana gajah ini tidak muncul tiba-tiba. Popularitas celana gajah tumbuh perlahan melalui media sosial, terutama TikTok, sebelum akhirnya meledak dan diadopsi secara massal.
Sejumlah kreator konten yang tampil dengan gaya hidup kasual dan autentik menjadi pemantik, membuat banyak pengguna merasa bahwa pakaian tersebut ‘boleh’ dan relevan dipakai di ruang publik modern.
Gaya tidak lagi tentang barang branded, harga mahal maupun tampilan mewah. Kini kenyamanan menjadi pilihan dalam lifestyle.
Baca Juga:
- Tren Fashion Lebaran 2025 Dikuasai Selera Gen Z
- Tren Upcycling Fashion, Perlawanan Terhadap Industri Fashion yang Merusak Lingkungan
Celana Gajah Tailan, Dari Backpacker ke Gen Z Urban
Celana gajah mulai dikenal luas sekitar 25-30 tahun yang lalu. Awalnya, celana ini sangat populer di kalangan backpacker asing yang berkunjung ke Tailan.
Karena murah dan bahannya adem, celana ini menjadi solusi cepat bagi turis yang memakai celana pendek namun harus menutupi kaki agar bisa masuk ke kuil-kuil suci.
Celana motif gajah Tailan ini menjadi ‘seragam wajib’ bagi para backpacker internasional yang menjelajahi rute pariwisata Asia Tenggara. Turis yang awalnya membeli celana ini di Bangkok sering kali memakainya saat melanjutkan perjalanan ke negara tetangga seperti Kamboja, Vietnam, dan Indonesia khususnya Bali.
Dari sinilah, tren celana gajah menyebar secara organik di kawasan Asia Tenggara. Kini, citra itu bergeser. Bagi Gen Z, celana gajah tidak lagi sekadar oleh-oleh wisata, melainkan simbol gaya hidup santai, bebas, dan anti ribet.
Potongannya yang longgar selaras dengan kecenderungan fashion global yang mulai meninggalkan siluet ketat dan formal.
Celana gajah juga murah sekaligus mudah didapat di marketplace. Dari yang harga 30 ribuan hingga seratus ribuan tersedia, tinggal sesuaikan budget.
Faktor Kenyamanan dan Iklim
Salah satu alasan utama kembalinya tren celana gajah adalah faktor kenyamanan. Di negara beriklim tropis seperti Indonesia, pakaian longgar menjadi solusi praktis untuk aktivitas sehari-hari.
Bahan yang tipis dan sirkulasi udara yang baik membuat celana ini terasa lebih fungsional dibandingkan celana jeans atau bahan tebal lainnya.
Desainnya uniseks, membuat celana gajah mudah diterima lintas gender. Baik pria maupun perempuan dapat memadukannya dengan kaus polos, kemeja santai, atau bahkan outer ringan tanpa terlihat berlebihan.
Dipadankan dengan t-shirt, tank top maupun lengan panjang untuk yang berhijab, celana gajah tetap ‘masuk’.
Potongan celananya fleksibel untuk semua style. Hanya butuh sedikit pilih-pilih atasan karena motif celana gajah sudah ‘ramai’, untuk atasan wajib pilih yang polos kecuali memang sedang bereksperimen menabrakkan motif.
TikTok Kembalikan Tren Celana Gajah
Kembali booming-nya celana gajah tak lepas dari tren TikTok oleh gen Z. Media sosial memainkan peran krusial dalam mempercepat penyebaran tren ini.
Tren fashion tidak selalu lahir dari figur besar atau rumah mode ternama. Kini, cukup satu atau dua kreator dengan gaya autentik untuk memicu gelombang adopsi massal.
Tren menyebar melalui mekanisme tiru-meniru yang cepat di kalangan gen Z. Seperti yang sering didengungkan para ahli, gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih santai, anti ribet dan seringkali menolak standar kerapian konvensional.
Mereka dikenal sebagai pribadi kreatif, inovatif dan tentu saja lebih mementingkan kebaruan dan teknologi daripada sekedar mengikuti propaganda industri.
Era flexing fashion branded atau mobil mewah seperti konten kreator awal, sudah berlalu. Kiblat gen Z kini pada gaya hidup yang mengutamakan kenyamanan dan kesehatan mental. Dan celana gajah menjadi medium ekspresi tersebut.
Mereka tidak menuntut banyak usaha untuk tampil ‘layak’, namun tetap memberi kesan berbeda. Penggunaannya lebih bersifat fungsional dan sehari-hari, sehingga diterima sebagai bagian dari pertukaran budaya yang cair.
Dalam banyak kasus, justru terjadi penguatan citra Asia Tenggara sebagai sumber estetika tropis yang santai dan ramah. Dalam budaya visual media sosial, perbedaan kecil yang mudah dikenali justru menjadi nilai tambah.
Tip Padu Padan Celana Gajah Agar Tetap Chic
Kuncinya agar tetap chic memakai celana gajah adalah keseimbangan. Celana gajah memiliki potongan longgar dan motif ramai, butuh atasan yang lebih fit atau simpel supaya tidak terlihat berantakan.
Berikut beberapa tip agar celana gajah naik kelas jadi outfit yang modis:
• Gunakan atasan yang pas di badan (slim-fit). Padankan dengan thank top, bodysuit, atau crop top.
• Gunakan teknik tuck-in (dimasukkan) jika dipadankan dengan kaos oblong atau kemeja. Masukkan kaos atau kemeja ke dalam celana. Ini akan mempertegas bentuk tubuh dan membuat tampilan terlihat lebih rapi.
• Tambahkan jaket atau outer struktur untuk tampilan yang sedikit lebih formal atau edgy. Jaket denim atau kulit dapat memberikan kesan ‘berat’ yang keren di atas bahan rayon yang jatuh.
Atau blazer oversized dengan warna netral (hitam atau putih) untuk menciptakan gaya bohemian chic yang modern.
• Untuk yang berhijab, gunakan atasan oversized dengan gaya front-tuck: bagian depan yang dimasukkan. Pilih kemeja linen atau kaos oversized.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





