Bacaini.ID, KEDIRI – Menjelang dibukanya Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, minat siswa terhadap fitur rasionalisasi kembali meningkat. Fitur ini dianggap sebagai salah satu alat bantu penting bagi calon mahasiswa untuk memperkirakan peluang mereka masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) sesuai pilihan program studi.
Rasionalisasi menjadi populer karena memberikan gambaran seberapa kompetitif nilai dan portofolio akademik seorang siswa dibandingkan peserta lain. Dalam beberapa tahun terakhir, metode ini semakin berkembang dengan adanya platform pendidikan yang menyediakan simulasi berbasis data historis penerimaan.
Para siswa umumnya diminta mengisi nilai rapor per semester, riwayat prestasi non-akademik, peminatan jurusan, hingga profil sekolah. Data tersebut kemudian diolah untuk memperkirakan posisi siswa pada persaingan di jurusan tertentu. Hasilnya bervariasi, mulai dari kategori peluang tinggi, sedang, hingga rendah, bergantung pada standar masuk program studi terkait.
Meskipun banyak digunakan, para konsultan pendidikan mengingatkan bahwa rasionalisasi bukanlah penentu mutlak kelolosan. Hasil akhirnya tetap bergantung pada kebijakan seleksi masing‑masing PTN, penilaian prestasi, serta kuota penerimaan per sekolah. Sejumlah kampus juga memiliki pertimbangan tambahan, seperti portofolio khusus untuk jurusan seni, desain, atau olahraga.
Meski demikian, rasionalisasi dinilai tetap bermanfaat untuk membantu siswa menyusun strategi pemilihan prodi. Banyak siswa memanfaatkan fitur ini untuk menakar apakah mereka perlu memilih jurusan alternatif dengan tingkat persaingan yang lebih seimbang.
Platform simulasi rasionalisasi tersedia dalam dua bentuk: layanan gratis dengan fitur dasar, serta layanan berbayar yang menawarkan analisis lebih mendalam. Beberapa di antaranya juga menyediakan perbandingan nilai rata-rata penerimaan dari tahun sebelumnya untuk membantu siswa memahami tren kompetisi.
Dengan waktu pendaftaran SNBP 2026 yang semakin dekat, para orang tua dan siswa diimbau untuk tidak hanya mengandalkan rasionalisasi sebagai satu-satunya acuan. Minat, kesiapan akademik, serta kesesuaian dengan prospek masa depan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan.
Pemerhati pendidikan menekankan bahwa keputusan memilih jurusan seharusnya bukan sekadar mengejar peluang lolos, melainkan juga memikirkan kenyamanan belajar dan tujuan karier jangka panjang. Meski rasionalisasi membantu menyusun strategi, keputusan akhir tetap berada di tangan siswa.
Seiring meningkatnya antusiasme terhadap SNBP 2026, berbagai sekolah mulai aktif memberi pendampingan agar siswa dapat memahami cara menggunakan alat rasionalisasi secara bijak. Harapannya, proses seleksi masuk PTN tahun ini dapat menjadi lebih terarah dan tidak hanya bergantung pada kecemasan terhadap persaingan.
Penulis: Hari Tri Wasono





