Bacaini.ID, KEDIRI – Asmoe Tjiptodarsono atau Bung Asmu yang berfikiran, kaum tani atau petani Indonesia sumber kemuliaan revolusi, dan karenanya harus jadi kelas terdepan pembangun peradaban.
Asmu menyandarkan pandangannya pada traktat pemikiran Soekarno atau Bung Karno tentang kaum tani Indonesia: Petani adalah sokoguru revolusi.
Bung Karno tidak abang-abang lambe. Ia mengizinkan Istana Negara sebagai tempat resepsi pembukaan Konferensi Nasional Barisan Tani Indonesia (BTI) 7 September 1964.
Soekarno bahkan mengeritik keras para pejabat di daerah yang mengharamkan pendoponya diinjak kaum tani. Ia menyebut bupati dan camat sebagai ndoro-ndoro yang keblinger.
“Bupati-bupati yang demikian, camat-camat yang demikian itu adalah bupati dan camat yang keblinger,” demikian kata Bung Karno dalam buku Djangan Menderita Tani-Phobi!.
Sementara tugas Asmu adalah membangkitkan mental kaum petani. Kaum yang lemah, yang sepanjang abad gelap kolonialisme sebagai kelas terbawah dan paling tertindas.
Bung Asmu merupakan Ketua Umum BTI, organisasi petani paling kuat, solid, dan terdidik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Ia terpilih sebagai pimpinan tertinggi BTI dalam Konferensi Nasional pada 17 April 1959 atau 3 bulan setelah Kongres Nasional Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) digelar di Sriwedari, Solo.
BTI berdiri di Yoyakarta, 2 bulan sebelum Ibukota Republik Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta.
Bung Asmu dan BTI bekerja keras meletakkan kaum petani sebagai kelas utama dalam revolusi Indonesia. Ia berhasil menjadikan petani sebagai pusat perhatian.
Dalam spirit perjuangannya, BTI menjadikan Pangeran Diponegoro sebagai simbol perjuangan. Bagi BTI, Perang Jawa (1825-1830) adalah perang revolusi tani.
Sebab Perang Jawa dimulai setelah Diponegoro meninggalkan istana (keraton) dan memilih menjadi petani di Desa Tegalrejo.
Seluruh gerakan mulai dari kesenian hingga kebudayaan, mulai dari tingkat daerah hingga nasional tidak ada yang tidak melibatkan petani dan BTI.
Saat petani tertimpa masalah, semua seniman, penyair, prosais yang tergabung dalam Lekra bersama-sama tampil melakukan pembelaan.
Perupa membuat lukisannya. Penyair membuat puisi pembelaan petani dan prosais membuat cerpen bertema petani.
Pada saat yang sama, BTI tidak berhenti melakukan edukasi, mengingat nyaris sebagian besar petani di Indonesia masih dalam kondisi buta huruf.
Koran dan bacaan mengalir masuk desa. Kantong-kantong kader di desa didirikan, koperasi dikenalkan dan dibentuk. Sekolah dan institute juga dibentuk.
Sebagai kelas pembangun peradaban, prinsipnya petani harus dibekali ilmu agar bisa berdiri dalam satu barisan terdepan, yang rapi dalam menyelesaikan masalahnya.
Asmu dan para pimpinan BTI lainnya, seperti Sidik Kertapati tidak henti-henti melibas klenik dan tahayul yang masih kental menyelimuti alam fikir masyarakat desa.
Peristiwa itu terjadi pada Oktober 1963 jelang pesta olah raga Ganefo. Hama tikus merajalela di Indonesia di mana petani mengalami kerugian sangat besar.
Bahkan di sejumlah desa wilayah Kabupaten Purwodadi, panen petani gagal total. Sementara tikus yang dibasmi makin merajalela.
Isu yang beredar di sebagian besar masyarakat tani Jawa Tengah, khususnya Brebes, tikus-tikus yang menyerang tanaman petani adalah kiriman dari penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul.
Asmu menjawab masalah yang terjadi dengan menegaskan BTI yang beranggotakan jutaan petani tidak boleh kalah dengan tikus.
BTI yang selalu mendasarkan cara bercocok tanamnya dengan riset melawan isu Nyi Roro Kidul dengan narasi ilmiah yang bisa diterima akal sehat.
BTI membagi habitat tikus dalam 4 kluster, mulai induk sampai anak. Tidak habis-habisnya tikus saat diberantas lantaran petani membasmi dengan cara meracuni.
Tikus yang telah teracuni justru membunuh predator dalam rantai makanan, seperti ular, kucing dan bahkan anjing.
BTI kemudian melakukan gerakan 1-7, di mana menggropyok tikus secara serentak yang dimulai setiap tanggal 1 awal bulan dan ditutup hari ketujuh.
Pembasmian dilakukan secara manual, dengan mengasapi sarang dengan belerang dan kemudian menumpasnya sampai mati.
Gerakan 1-7 BTI ini dilaporkan rutin dalam Bintang Timur dan bacaan petani lainnya. Hasilnya luar biasa, selama aksi berlangsung, sebanyak 600 ribu ekor tikus ditumpas di Jawa Barat.
Sebanyak 762 ribu ekor tikus ditumpas di Lampung, 249 ribu ekor tikus di Jawa Tengah, Jakarta Raya 4500 ekor tikus dan sebanyak 1,5 juta ekor tikus mati di Jawa Timur.
Sementara laporan penumpasan tikus di Bali, Sumatera Selatan dan Lombok masih dalam proses dan ditunggu. Demikian kisah kaum tani yang maju dan terdidik pada masa Pemerintahan Soekarno.
Penulis: Solichan Arif