
Arsitektur bunker itu dibuat melengkung setengah lingkaran, dengan masing-masing memiliki satu pintu masuk. Panjang bangunan luar 11 meter dan panjang bagian dalam 9 meter. Sedangkan tinggi luarnya 3 meter dan tinggi dalamnya 2,5 meter. Bangunan itu memiliki lebar luar 6,3 meter dan lebar dalam 3,60 meter.
Ketebalan tembok bunker, menurut Aris, mencapai satu meter. Bangunan itu dibuat sangat kokoh untuk perlindungan pasukan Jepang, dengan bahan batu kali dan bata merah.
Saat ini kedua bunker tersebut telah ditumbuhi semak belukar. Beberapa lobang ventilasinya masih terlihat di bagian atas pintu masuk. Sedangkan lubang kecil di samping kanan dan kiri pintu masuk digunakan untuk meletakkan moncong senjata.
Aris menambahkan, selain pengerahan tenaga kerja, pasukan Jepang juga mendapatkan bahan bangunan dari warga setempat. Caranya, mereka menggelar seni pertunjukan ludruk dan ketoprak secara gratis. Warga hanya diminta menyerahkan batu kali dan bata merah sebagai pengganti tiket pertunjukan. “Setelah terkumpul kemudian Jepang membangun bunker dengan mengerahkan romusha dari warga sekitar Nganjuk,” terang Aris.
Menurut cerita, beberapa prajurit Pembela Tanah Air (PETA) yang dipimpin Supriyadi pernah dipenjara di dalam bunker tersebut. Mereka ditangkap setelah melakukan upaya pemberontakan di Blitar.
Penulis: Asep Bahar
Editor: Hari Tri Wasono