Bacaini.ID, KEDIRI – Komedian Pandji Pragiwaksono baru-baru ini menjadi perhatian setelah menggelar pertunjukan stand up comedy bertajuk Mens Rea. Pertunjukan yang menjadikan isu politik, kekuasaan, dan kebijakan publik sebagai bahan lelucon ini pecah dan ditonton 10 ribu orang di Indonesia Arena dan jutaan penonton di platform digital.
Dalam penampilannya, Pandji tampil tanpa sensor, menyajikan kritik tajam terhadap isu politik, hukum, dan sosial. Beberapa topik yang diangkat Pandji antara lain politik pasca-Pemilu 2024, dinamika kekuasaan, kejahatan oknum penegak hukum, hak cipta musik yang diributkan Ahmad Dhani, hingga kondisi fisik mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Judul Mens Rea sendiri diambil dari istilah hukum Latin yang berarti “niat jahat”, sebuah simbol atas keberanian Pandji mengupas sisi gelap praktik kekuasaan dan penegakan hukum di Indonesia.
Reaksi publik pun terbelah. Sebagian penonton mengapresiasi keberanian Pandji mengangkat isu-isu sensitif dengan gaya satir, sementara yang lain menilai materinya terlalu menyinggung tokoh tertentu. Meski begitu, Pandji menegaskan bahwa seluruh materi ditayangkan utuh tanpa pemotongan dari pihak Netflix.
Dalam dunia stand up comedy Indonesia, Pandji Pragiwaksono merupakan komika senior. Bersama Raditya Dika, mereka melahirkan banyak program yang melahirkan komika muda dari berbagai daerah.
Namun yang mengejutkan, sosok yang mengenalkan stand up comedy pertama di Indonesia bukanlah mereka. “Sebenarnya orang yang pertama kali stand up Iwel Sastra,” kata Pandji dalam program podcast Vindes di platform YouTube.
Menurut Pandji, Iwel bahkan sudah menggelar pertunjukan stand up comedy, meski tidak “pecah” seperti pertunjukan stand up belakangan. “Ia orang pertama, tapi nggak memicu ledakan, karena bukan internet kan waktu itu,” kata Pandji.
Mengenal sosok Iwel Sastra………..(halaman berikutnya)





