Bacaini.ID, TULUNGAGUNG — Pada tahun 1923 Kabupaten Tulungagung Jawa Timur memimpin dalam hal industri batik. Paling terdepan di wilayah eks Karsidenan Kediri.
Tulungagung lebih unggul ketimbang Blitar, Kediri dan Trenggalek. Batik Tulungagung banyak diekspor ke Malang, Surabaya dan Bandung Jawa Barat. Termasuk memiliki pasar penjualan yang besar di luar Jawa.
Kain batik Tulungagung terkenal memiliki ketahanan warna yang bagus. Juga kekerasan. Kemudian yang terpenting lagi adalah memiliki harga yang relatif lebih murah.
Dikutip Bacaini.id Jumat (1/1/2026) dari catatan Ekonomi, Perdagangan Islam, Jawa, Yogyakarta, Surakarta/Solo, Ponorogo, Tulungagung.
Pada era kolonial ada 112 industri batik di Tulungagung. Sebagian besar berskala kecil dan semuanya milik pribumi Jawa. Sementara 13 industri batik yang lebih besar milik pengusaha Tionghoa.
Baca Juga: Batik-batik Khas Tulungagung yang Terjaga Turun-temurun
Batik Tulungagung, santri dan koperasi
Sebagian besar masyarakat Tulungagung diketahui hidup dalam lingkungan bertradisi santri. Banyak pondok pesantren dan guru independen di Tulungagung.
Karenanya pemilik usaha batik di Tulungagung mayoritas berlatar belakang santri dan bergelar haji. Kelemahan pengusaha santri adalah kesulitan mendapatkan kredit.
Sementara industri batik Tulungagung diketahui mulai tumbuh tahun 1890-an dengan produksi batik murah. Batik cap diperkenalkan sejak tahun 1880 dan berkembang pesat.
Dari melayani pasar lokal merambah ke pasar Yogyakarta dan Surabaya dengan permintaan yang besar. Banyak bahan baku batik yang didatangkan dari luar kota.
Pada tahun 1912 sebanyak 70 haji dan santri berkolaborasi mendirikan koperasi kredit untuk memberi pinjaman tanpa bunga kepada pelaku usaha yang butuh kredit.
“Tujuannya adalah untuk melawan rentenir Tionghoa,” demikian dikutip dari Ekonomi, Perdagangan Islam, Jawa, Yogyakarta, Surakarta/Solo, Ponorogo, Tulungagung.
Baca Juga: Ramalan Nostradamus di Tahun 2026: Asia Pusat Dunia, Pemimpin Mati Tiba-tiba
Pada tahun 1914 koperasi yang didirikan haji dan santri berkembang pesat. Berkembang menjadi 11 bank kecil (koperasi) dengan 1.834 pemegang saham dengan total f16.452 untuk pinjaman.
Pada saat yang sama, di Tulungagung juga berkembang industri rokok kretek. Pada tahun 1920-an Tulungagung dan Blitar menjadi pusat industri rokok kretek di luar Kudus Jawa Tengah.
Pabrik kretek pertama di Tulungagung berdiri pada tahun 1922. Pada tahun 1934 ada 7 pabrik besar dan menengah milik orang Tionghoa. Kemudian 17 usaha kecil juga milik Tionghoa.
Sementara 13 pabrik kecil milik pengusaha pribumi Jawa. Pengusaha Tionghoa di Tulungagung diketahui memiliki kepentingan komersial yang luas hingga luar pulau.
Penulis: Solichan Arif





