Bacaini.ID, BALI – Namanya air terjun Bangkiang Jaran dan kami salah terka karena sempat mengira artinya tapal kuda, dan ternyata bukan.
Sama melesetnya saat mengira bubuh yang ternyata bubur, dan genyol yang ternyata berarti lemak yang itu merujuk lemak daging babi.
Kata Indra, Kepala Desa Bakbakan Kecamatan/Kabupaten Gianyar, Bali, bangkiang artinya punggung dan jaran adalah kuda.
Khusus jaran, bahasa Bali memiliki persamaan dengan bahasa Jawa. “Itu karena bentuknya seperti punggung kuda,” tutur Indra kepada Bacaini.ID.
Untuk memberi gambaran lebih jelas, Indra mengarahkan jari telunjuknya ke kawasan Bangkiang Jaran yang lokasinya tidak jauh dari jalan alternatif menuju Kintamani.
Tampak air terjun di antara rimbun pepohonan hutan heterogen, semak, dengan topografi memanjang dan berkelok curam.
Lumayan besar dan deras. Kata Kades Indra, di dekat waterfall terdapat gua yang sampai sekarang belum sempat dieksplor.
“Saya juga belum sempat masuk. Katanya yang pernah panjang,” tuturnya.

Tepat di bawah air terjun menampung mata air bernaunsa kolam mengalir tenang dengan ikan-ikan warna-warni yang berenang-renang di kedalaman air.
Sebuah jembatan berarsitektur melengkung menghubungkan dua daratan berdiri tidak jauh dari air terjun. Di bawahnya sungai mengalir deras.
Sungai yang kiri kanan diapit tebing batu cadas tinggi dan panjang. Ketinggian tebing membuat cahaya matahari tak bisa masuk sepenuhnya.
Indra berencana membikin wisata tubing, yang sesuai plannya akan menyambungkan dengan wisata air terjun lain di bawahnya. “Doakan semoga cepat terwujud,” katanya.
Di seberang waterfall terlihat kawasan hutan lebih lebat yang merupakan tapal batas wilayah Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Bangli.
Pada abad ke-14 atau 700 tahun silam, kawasan hutan itu jadi tempat mengaso pasukan Kerajaan Gianyar usai bertempur melawan pasukan Kerajaan Bangli.
Menurut Indra, di tengah hutan itu terdapat Pura kuno, peninggalan masa lampau yang sampai kini masih berfungsi untuk peribadatan.
“Ada jalannya, namun medannya lumayan berat,” ungkapnya.
Wisata air terjun Bangkiang Jaran dan kawasan di sekitarnya, secara umum diketahui belum sepenuhnya tereksplore, meski akses ke lokasi sudah bagus.
Belum banyak turis domestik maupun asing yang tahu, utamanya wisatawan yang lebih menyukai suasana pantai ketimbang udara sejuk gunung.
Pada sisi lain masih banyak turis yang mengira Bali hanya Kuta, Legian, Canggu, Pandawa, Sanur, Garuda Wisnu Kencana, Tanah Lot, dan Pura Besakih.
Kemudian Bedugul, Kintamani, Istana Tampak Siring dan yang lagi populer, Desa Adat Penglipuran.
Padahal di wilayah Ubud Kabupaten Gianyar dan Bangli, banyak air terjun yang keelokannya begitu menakjubkan.
Menariknya, yang lebih banyak ke sana justru turis asing, khususnya dari Eropa yang kebanyakan menyukai suasana hening.
Sedangkan turis asal Australia dan Amerika terkenal lebih suka hingar bingar suasana pantai.

Indra mengungkapkan kalau status kawasan wisata di bawah kewenangan Adat yang kemudian pengelolaanya diserahkan pemerintah desa dengan kesepakatan.
Untuk biaya awal pembangunan wisata air terjun Bangkiang Jaran, Indra memakai alokasi dana desa (ADD) untuk program Desa Wisata.
Kemudian dalam perjalanannya pemerintah desa menggandeng pihak ketiga atau investor dengan MoU yang ketat.
Pihak ketiga hanya berwenang dalam pengembangan wisata, misalnya mendirikan hotel, resort, villa, restoran, kafe dan semacamnya.
Mereka dilarang mengelola air dan melakukan hal-hal yang berpotensi merusak lingkungan alam di lokasi wisata. Orang Bali, ungkap Indra memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga alam.
“Ini cara kami menjaga kelestarian lingkungan alam yang ada,” tegas Indra.
Penulis: Solichan Arif