Bacaini.ID, KEDIRI — Fenomena balap lari liar kembali viral di media sosial selama Ramadan 2026. Aktivitas ini menjadi hiburan malam bagi sebagian anak muda setelah salat Tarawih hingga menjelang sahur.
Video-video lomba lari dadakan di jalanan ramai beredar di berbagai platform media sosial. Tren ini tercatat muncul di sejumlah kota, seperti Bogor, Jambi, Pekalongan, hingga Jember.
Baca Juga:
Dalam rekaman yang beredar, puluhan anak muda terlihat berkumpul di jalanan untuk menyaksikan lomba lari jarak pendek yang dilakukan secara spontan.
Sebagian masyarakat menilai kegiatan tersebut sebagai cara anak muda mengisi waktu selama Ramadan.
Namun di sisi lain, aktivitas ini juga menimbulkan kekhawatiran karena sering dilakukan di jalan umum yang masih dilalui kendaraan.
Di beberapa daerah, aparat setempat bahkan mencoba mengarahkan kegiatan ini agar lebih aman. Salah satu caranya dengan memindahkan lomba lari dari jalan raya ke stadion atau lapangan olahraga.
Fenomena ini juga kembali mengingatkan bahwa lari merupakan salah satu olahraga paling sederhana dan populer di dunia. Selain mudah dilakukan, olahraga ini juga tidak memerlukan perlengkapan mahal.
Namun di balik popularitasnya, tidak banyak yang mengetahui bahwa olahraga lari maraton memiliki sejarah panjang yang berawal dari sebuah peristiwa perang di Yunani kuno.
Berawal dari Pertempuran Marathon
Sejarah lari maraton berkaitan erat dengan Pertempuran Marathon tahun 490 sebelum Masehi, ketika Yunani menghadapi invasi dari Kekaisaran Persia.
Saat itu, Persia di bawah pemerintahan Raja Darius I berusaha memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Yunani. Pasukan Persia kemudian mendarat di sebuah dataran pesisir bernama Marathon, sekitar 40 kilometer dari kota Athena.
Athena yang merasa terancam segera mengirim pasukan untuk menghadapi invasi tersebut. Pasukan Yunani yang dipimpin jenderal Miltiades terdiri dari prajurit Athena dan sekutu mereka dari Plataea.
Meski jumlah pasukan Persia jauh lebih besar, strategi militer Yunani berhasil memukul mundur pasukan penyerang. Pertempuran sengit yang berlangsung di dataran Marathon itu akhirnya dimenangkan oleh pihak Yunani.
Kemenangan ini menjadi momen penting karena menghentikan upaya awal Persia untuk menaklukkan Yunani.
Utusan Berlari Membawa Kabar Kemenangan
Setelah pertempuran berakhir, pasukan Athena menghadapi kekhawatiran baru. Mereka khawatir armada Persia akan segera berlayar menuju kota Athena sebelum kabar kemenangan sampai ke sana.
Karena itu, dibutuhkan seorang utusan yang dapat berlari cepat menuju kota untuk menyampaikan pesan bahwa pasukan Yunani telah memenangkan pertempuran.
Legenda Yunani kemudian menyebut sosok Pheidippides, seorang utusan yang berlari dari medan perang di Marathon menuju kota Athena.
Jarak antara Marathon dan Athena diperkirakan sekitar 40 kilometer. Pheidippides dikisahkan menempuh jarak tersebut tanpa henti demi menyampaikan kabar kemenangan kepada warga Athena.
Setibanya di kota, ia menyampaikan satu kalimat singkat kepada warga: ‘Nenikēkamen!’, yang berarti ‘Kita telah menang!’.
Menurut legenda yang populer, setelah menyampaikan pesan tersebut Pheidippides jatuh karena kelelahan dan meninggal dunia. Kisah heroik ini kemudian menjadi simbol ketahanan fisik dan pengorbanan.
Catatan Sejarah Memiliki Versi Berbeda
Meski cerita tersebut sangat terkenal, para sejarawan mencatat bahwa kisah Pheidippides memiliki beberapa versi berbeda.
Catatan tertua berasal dari sejarawan Yunani Herodotus. Dalam tulisannya, Herodotus tidak menyebutkan kisah lari dari Marathon ke Athena setelah pertempuran.
Ia justru mencatat bahwa seorang pelari bernama Pheidippides pernah diutus dari Athena menuju Sparta untuk meminta bantuan militer sebelum pertempuran terjadi.
Perjalanan tersebut bahkan jauh lebih ekstrem. Jarak antara Athena dan Sparta mencapai sekitar 240 kilometer, dan Pheidippides disebut berhasil menempuhnya dalam waktu sekitar dua hari.
Catatan ini menunjukkan bahwa pada masa Yunani kuno memang ada utusan khusus yang dikenal sebagai hemerodromoi, yaitu pelari jarak jauh yang bertugas membawa pesan antar kota.
Sementara cerita tentang pelari yang membawa kabar kemenangan dari Marathon ke Athena baru muncul dalam tulisan penulis Yunani pada periode yang lebih kemudian, seperti Plutarch dan Lucian.
Menginspirasi Lari Maraton Modern
Terlepas dari perbedaan versi tersebut, legenda tentang pelari dari Marathon ke Athena tetap menjadi kisah yang paling dikenal.
Cerita inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya lomba lari maraton pada era modern. Ketika Olimpiade modern pertama diselenggarakan di Athena pada tahun 1896, panitia ingin menghadirkan cabang olahraga yang terinspirasi dari sejarah Yunani kuno.
Seorang filolog, ahli manuskrip, asal Prancis bernama Michel Bréal mengusulkan lomba lari yang meniru perjalanan legendaris dari Marathon menuju Athena.
Usulan tersebut diterima dan dimasukkan sebagai cabang atletik dalam Olimpiade.
Lomba maraton pertama dimulai dari kota Marathon dan berakhir di Stadion Panathenaic di Athena, dengan jarak sekitar 40 kilometer.
Sejak saat itu, nama maraton tidak lagi hanya merujuk pada sebuah tempat di Yunani, tetapi juga menjadi simbol lomba lari jarak jauh yang menguji ketahanan fisik manusia.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





