Bacaini.ID, TRENGGALEK – Sedikitnya 8 dari 16 unit Early Warning System (EWS) di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur terungkap tidak berfungsi maksimal atau bisa dikatakan rusak.
EWS diketahui berfungsi sebagai mitigasi atau deteksi dini bencana alam. Keberadaanya sangat penting mengingat di Trenggalek banyak terdapat titik rawan bencana tanah longsor dan banjir.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek Triadi Atmono mengatakan sudah melaporkan kondisi EWS itu ke BPBD Provinsi Jawa Timur.
“Kami sudah melaporkan untuk dilakukan pemeliharaan agar berfungsi seperti sedia kala,” ujar Triadi Atmono kepada wartawan Kamis (29/1/2026).
Baca Juga:
- Material Longsor Putuskan Jalur Trenggalek-Tulungagung
- 6 Korban Longsor di Trenggalek Satu Keluarga, Ini Nama-namanya
Sebagian besar EWS di Trenggalek diketahui merupakan milik instansi lain. Ada yang milik BPBD Jawa Timur. Kemudian Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Juga milik Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Jawa Timur, kampus ITS Surabaya dan Dinas PU Sumber Daya Air Jawa Timur. Pemkab Trenggalek sendiri, kata Triadi hanya punya 2 unit EWS.
Masing-masing dipasang di Desa Dompyong dan Desa Botoputih Kecamatan Bendungan. Masing-masing EWS memiliki cara kerja berbeda. Ada yang secara teknis berbunyi sirine.
“Sirine berbunyi kalau air di sungai mencapai ketinggian tertentu,” terang Triadi Atmono.
Untuk pemantauan terkait bencana alam, Pemkab Trenggalek juga dibantu oleh perangkat CCTV dari Kominfo. Utamanya memantau ketinggian air di Sungai Ngasinan Kecamatan Trenggalek.
Saat ini Pemkab Trenggalek berharap 8 unit EWS yang keadaannya tidak berfungsi maksimal bisa segera kembali seperti sedia kala.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif





