Bacaini.ID, KEDIRI – Amerika Serikat resmi menyetujui tarif bea masuk 0 persen untuk ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya dari Indonesia melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
Kebijakan ini menjadi angin segar bagi industri sawit nasional karena membuka peluang ekspor langsung ke pasar AS dalam jumlah lebih besar.
Selama ini, Indonesia memang mengekspor sekitar 6 juta ton CPO per tahun ke Negeri Paman Sam. Namun hanya sekitar sepertiga yang dikirim langsung. Sisanya berputar terlebih dulu melalui negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Italia sebelum akhirnya masuk kembali ke AS sebagai barang re-ekspor.
AS Tantang Dominasi Eropa dalam Perdagangan Sawit
Menurut Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, langkah Washington ini bisa mengubah arah perdagangan global sawit. Ia menyebut tarif nol persen sebagai sinyal terbuka bahwa AS ingin memperkuat posisinya, sekaligus menggerus peran Eropa dalam rantai suplai sawit internasional.
Sementara terkait regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang sering dianggap menghambat ekspor sawit Indonesia, Tungkot menilai kekhawatiran itu berlebihan. Menurutnya, aturan tersebut justru sulit diterapkan karena beberapa tuntutan teknis, terutama soal ketertelusuran (traceability) hingga ke lokasi kebun dan data geospasial, tidak mungkin dipenuhi banyak negara produsen.
Dengan pasar domestik yang didukung mandatori biodiesel B40 serta diversifikasi pasar luar negeri seperti India, China, dan Afrika, ia menilai industri sawit Indonesia tidak akan terguncang oleh EUDR.
Penulis: Hari Tri Wasono





