Bacaini.ID, KEDIRI – Kasus bunuh diri sering memunculkan pertanyaan besar di masyarakat: apa alasan seseorang yang terlihat baik-baik saja tiba-tiba mengakhiri hidupnya? Data dari World Health Organization (WHO) mencatat lebih dari 700 ribu kematian akibat bunuh diri setiap tahun di dunia, membuktikan bahwa krisis kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang status sosial maupun profesi.
Ketika kabar bunuh diri melibatkan sosok yang dikenal disiplin, berprestasi, atau berlatar belakang profesi tangguh’, publik sering bereaksi serupa: ‘Tidak menyangka’.
Baca Juga:
- Pensiunan Polisi di Blitar Tewas Tergantung di Gudang Rumah, Diduga Ada Masalah Keluarga
- Pesan Suara “Tak Kuat Lagi” Jadi Petunjuk, Pensiunan Polisi di Blitar Ditemukan Tewas Tergantung
Ada asumsi bahwa kekuatan mental terlihat dari jabatan, ketegasan sikap, atau kemampuan menghadapi tekanan. Padahal, dalam ilmu psikologi, ketahanan mental tidak selalu tampak dari luar.
Data World Health Organization (WHO, 2023) mencatat lebih dari 700.000 kematian akibat bunuh diri setiap tahun di dunia.
Bunuh diri menjadi salah satu penyebab kematian utama pada usia 15–29 tahun secara global. WHO juga menegaskan bahwa fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja, tanpa memandang status sosial, profesi, atau latar belakang pendidikan.
Di Indonesia, angka resmi memang bervariasi karena persoalan pencatatan dan stigma. Namun estimasi WHO menunjukkan kisaran 2–3 kematian per 100.000 penduduk per tahun, sementara data kepolisian beberapa tahun terakhir mencatat ratusan hingga lebih dari seribu kasus setiap tahunnya.
Sejumlah peneliti kesehatan mental menyebut angka tersebut kemungkinan masih lebih rendah dari kondisi riil karena praktik underreporting.
Fakta Dibalik Psikologis Orang ‘Tangguh’
Secara psikologis, banyak individu dengan citra kuat justru terbiasa memendam emosi. Penelitian dalam Journal of Affective Disorders menunjukkan bahwa individu dengan tuntutan profesional tinggi cenderung memiliki tekanan internal yang besar, tetapi enggan mencari bantuan karena khawatir dianggap lemah atau tidak kompeten.
Psikolog Edwin Shneidman menyebut akar bunuh diri sebagai psychache: rasa sakit psikologis yang terasa tak tertahankan. Ini bukan sekadar sedih, melainkan kombinasi putus asa, rasa gagal, merasa menjadi beban, dan kehilangan makna hidup.
Teori interpersonal dari Thomas Joiner (2005) menjelaskan dua faktor utama yang kerap muncul:
• Perasaan menjadi beban bagi orang lain (perceived burdensomeness)
• Merasa terputus atau tidak lagi menjadi bagian dari lingkungan (thwarted belongingness)
Seseorang bisa tetap terlihat tegar di ruang publik, namun di saat yang sama merasa sendirian secara emosional.
Sejumlah studi internasional menunjukkan bahwa profesi dengan tekanan tinggi, akses pada metode mematikan, serta budaya kerja yang menuntut ketangguhan emosional memiliki risiko lebih besar.
Selain itu, norma maskulinitas tradisional, terutama pada laki-laki, sering kali mendorong individu untuk tidak mengekspresikan kerentanan.
Padahal, data WHO menunjukkan laki-laki memiliki angka kematian akibat bunuh diri lebih tinggi dibanding perempuan secara global. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah rendahnya kecenderungan laki-laki mencari bantuan profesional.
Peran Lingkungan: Lebih dari Sekadar Simpati
Banyak orang yang berjuang secara mental sebenarnya tidak ingin mati, mereka ingin rasa sakitnya berhenti. Karena itu, peran lingkungan sangat krusial. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
• Ucapan bernada putus asa
• Menarik diri dari pergaulan
• Perubahan perilaku drastic
• Memberikan barang pribadi secara tiba-tiba
• Tiba-tiba tampak sangat tenang setelah periode depresi berat
Penelitian pencegahan bunuh diri menunjukkan bahwa bertanya langsung tentang pikiran menyakiti diri tidak meningkatkan risiko, namun ustru membuka ruang aman untuk berbicara.
Berikut langkah sederhana namun berdampak.
• Dengarkan tanpa menghakimi
• Hindari kalimat meremehkan seperti ‘kurang bersyukur’, ‘jangan dipikirkan’ dan lainnya
• Dampingi mencari bantuan profesional
• Jangan biarkan sendirian dalam kondisi krisis
Di Indonesia, masyarakat dapat mengakses Layanan Sejiwa 119 (tekan 8) untuk dukungan psikologis gratis 24 jam.
Kekuatan mental bukan berarti kebal terhadap luka batin. Seseorang bisa terlihat sangat tangguh, namun tetap menyimpan badai di dalam dirinya.
Kesadaran kolektif untuk membangun ruang aman di keluarga, kantor, maupun lingkar pertemanan, menjadi langkah penting agar tidak ada lagi yang merasa harus berjuang sendirian.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





