Bacaini.ID, JEMBER – Kabupaten Jember menorehkan prestasi gemilang dalam capaian performa ekonomi di wilayah Tapal Kuda pada 2025. Hal ini ditegaskan oleh Bupati Jember, Gus Fawait, usai menggelar pertemuan koordinasi lintas sektoral yang dihadiri oleh pimpinan BI, OJK, BPS, hingga BPJS di sela-sela agenda Bunga Desaku di Mumbulsari.
Pada kegiatan yang digelar hingga tengah malam sekitar pukul 23.30, Senin (6/4/2026), itu, Gus Fawait mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jember saat ini merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Menariknya, lompatan ekonomi ini dibarengi dengan kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat signifikan.
“Performa ekonomi Jember adalah yang terbaik di Tapal Kuda. Pertumbuhan ekonomi kita mencapai level tertinggi sejak 2020. Yang lebih membanggakan, PAD kita melesat hingga 36 persen tanpa ada kenaikan beban pajak satu rupiah pun,” ujar Gus Fawait.
Gus Fawait menjelaskan bahwa kunci dari kenaikan PAD tersebut bukan dengan membebani rakyat melalui pajak baru, melainkan melalui dua strategi utama. Yakni, optimalisasi potensi yang ada dan penutupan kebocoran transaksi melalui digitalisasi sistem keuangan. Langkah ini pun mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Iqbal Reza Nugraha, menjelaskan bahwa peningkatan akses layanan pembayaran yang lebih mudah dan cepat melalui digitalisasi menjadi kunci utama tren positif pertumbuhan ekonomi daerah saat ini.
“Kami melihat adanya korelasi kuat antara kemudahan akses layanan pembayaran digital dengan optimalisasi PAD yang dihimpun oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Hasilnya terbukti menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan tanpa perlu menaikkan beban pajak atau retribusi,” ujar Iqbal.
Guna memperkuat capaian tersebut, BI Jember berkomitmen untuk terus bersinergi dengan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD). Di tahun 2026 ini, fokus utama kolaborasi akan diarahkan pada penambahan kanal-kanal pembayaran digital di berbagai sektor potensial, termasuk pajak dan retribusi daerah.
Iqbal menambahkan bahwa digitalisasi tidak hanya terbatas pada sektor pemerintahan, tetapi juga merambah ke sektor-sektor produktif lainnya seperti sektor pariwisata, layanan kesehatan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Lebih lanjut, memasuki 2026, Gus Fawait menyatakan bahwa Pemkab Jember mematok target ambisius untuk menurunkan angka kemiskinan hingga ke angka psikologis di bawah 200 ribu jiwa. Strategi utamanya adalah dengan melakukan pemeratan pembangunan melalui belanja pemerintah yang diarahkan langsung ke daerah pelosok.
“Fokus kita adalah kantong-kantong kemiskinan yang mayoritas berada di pinggir pedesaan, pinggir hutan, dan pesisir pantai. Itulah filosofi program Bunga Desaku, kita hadir langsung untuk memastikan roda ekonomi berputar di sana,” tambahnya.
Selain sektor pertanian dan pendidikan yang mendapat dukungan APBN, sektor pariwisata Jember juga menunjukkan tren positif. Gus Fawait mencontohkan lonjakan wisatawan di Pantai Papuma dan Watu Ulo yang naik drastis dari 14 ribu kunjungan pada Lebaran 2025 menjadi hampir 60 ribu kunjungan.
Di sisi investasi, Jember tengah bersiap menyambut kehadiran rumah sakit baru dan pabrik pengalengan ikan yang diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal.
Sementara itu, terkait tantangan inflasi, Gus Fawait tetap optimistis. Meski sempat mengalami kenaikan di bulan Februari akibat Ramadan dan Idul Fitri, angka inflasi per Maret kembali melandai.
Sebagai langkah antisipasi fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino yang diprediksi terjadi pada Mei mendatang, Gus Fawait juga telah menginstruksikan penguatan program bantuan sembako dan operasi pasar di tiap kecamatan guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.(meg/ADV)





