Poin Penting:
- Phryne menghadapi tuduhan penistaan agama di Athena, Yunani Kuno, dengan ancaman hukuman berat.
- Catatan kuno mengaitkan pembelaannya dengan orator Hypereides dan kisah penyingkapan pakaian yang masih diperdebatkan.
- Nama Phryne juga dikaitkan dengan pemahat Praxiteles dan patung Dewi Aphrodite yang berpengaruh dalam sejarah seni.
Bacaini.ID, KEDIRI – Phryne dikenal sebagai salah satu kurtisan paling terkenal di Yunani Kuno. Perempuan yang hidup pada abad ke-4 sebelum Masehi ini pernah menghadapi tuduhan penistaan agama yang mengancam nyawanya. Kisah Phryne dan persidangannya kemudian melegenda karena kecantikan tubuhnya dikaitkan dengan pembelaan yang membuatnya lolos dari hukuman mati.
Dokumen sejarah kuno mencatat, pengacara Phryne, seorang orator ulung bernama Hypereides tiba-tiba melangkah maju ke muka. Dirobeknya pakaian luar Phryne di hadapan para hakim pria. Tubuh Phryne seketika terekspos. Pemandangan keindahan tubuh tersebut bukan memicu syahwat, melainkan rasa ngeri sekaligus takjub kepada dewa. Para hakim sepakat membebaskan Phryne dari hukuman mati. Hukuman mati Phryne batal.
Phryne, dari Perempuan Miskin Menjadi Kurtisan Kaya di Athena
Lahir dengan nama asli Mnesarete di Thespiae sekitar tahun 371 SM, ia mendapatkan julukan ‘Phryne’ yang artinya ‘Katak Tod’, karena warna kulitnya yang kekuningan seperti zaitun matang. Bagi masyarakat Athena saat itu, corak kulit tersebut justru dianggap sangat eksotis.
Meskipun tumbuh dalam kemiskinan dan kabarnya sempat menjadi budak, Phryne memanfaatkan kecerdasan, pemahaman filsafat, politik, serta daya pikat fisiknya untuk naik ke kasta tertinggi masyarakat Athena. Sebagai seorang hetaira, ia memiliki kemandirian finansial dan hak sosial yang tidak dimiliki oleh perempuan Athena biasa yang umumnya dikurung di dalam rumah.
Kekayaan Phryne terbukti sangat masif. Catatan sejarah dari sejarawan Callistratus menyebutkan bahwa ketika Alexander Agung menghancurkan tembok kota Thebes pada 335 SM, Phryne menawarkan diri untuk membiayai seluruh rekonstruksi tembok tersebut menggunakan uang pribadinya.
Ia hanya mengajukan satu syarat narsis. Tembok tersebut harus memuat prasasti berbunyi: “Tembok ini dihancurkan oleh Alexander yang Agung, dan dibangun kembali oleh Phryne sang Kurtisan”. Karena gengsi patriarki yang tinggi, para pemimpin pria Thebes menolak tawaran dana segar tersebut.
Kisah Kontroversial Pembelaan Phryne di Pengadilan
Skandal terbesar Phryne berawal dari mantan kekasihnya yang sakit hati, Euthias, menyeretnya ke pengadilan tertinggi Athena atas dakwaan modalitas penistaan agama (asebeia). Tuntutan ini merupakan perkara sangat serius di Yunani Kuno, tuduhan serupa yang telah mengeksekusi filsuf besar Socrates enam puluh tahun sebelumnya.
Euthias menuduh Phryne telah memperkenalkan dewa baru yang tidak sah serta menodai kesucian Misteri Eleusinian karena melakukan ritual mandi telanjang di laut.
Dalam buku Deipnosophistae karya penulis kuno Athenaeus, dijelaskan bahwa orator Hypereides yang membela Phryne menyadari bahwa pidato pembelaannya tidak cukup kuat untuk melunakkan hati para hakim. Ia kemudian menarik Phryne ke tengah ruang sidang dan menyingkap pakaiannya hingga bagian dada Phryne terekspos.
Menurut para sejarawan, aksi ini memiliki penjelasan teologis yang rasional dalam budaya Yunani Kuno:
• Konsep Kalokagathia
Bangsa Yunani percaya bahwa keindahan fisik yang sempurna merupakan tanda nyata bahwa jiwa orang tersebut diberkati dan dipilih oleh para dewa.
• Perwakilan Kedewaan
Dengan memperlihatkan tubuh Phryne yang sangat proporsional, Hypereides berargumen bahwa Phryne adalah perwujudan duniawi dari Dewi Aphrodite sendiri. Menghukum mati tubuh seindah itu dianggap sebagai bentuk kelancangan langsung yang dapat mendatangkan kutukan dewa kepada kota Athena.
• Simbol Belas Kasihan
Beberapa sejarawan modern menilai aksi menyingkap pakaian ini tidak dilakukan sampai telanjang dada sepenuhnya, melainkan sebuah gestur ritualistik hukum yang lazim dilakukan di Athena kuno untuk memohon rasa iba dan belas kasihan dari para juri. Para hakim yang ketakutan akan kualat secara spiritual akhirnya mengetok palu putusan bebas bagi Phryne seketika.
Phryne dan Praxiteles, Kisah di Balik Patung Dewi Aphrodite
Dampak dari persidangan fenomenal tersebut, lahirlah kolaborasi legendaris Phryne dan pemahat kenamaan Athena, Praxiteles, yang juga merupakan kekasihnya. Kolaborasi ini melahirkan revolusi terbesar dalam sejarah seni rupa dunia. Praxiteles menggunakan tubuh Phryne sebagai model utama untuk memahat patung marmer Aphrodite of Knidos sekitar tahun 360–330 SM.
Patung ini mencetak sejarah sebagai patung perempuan telanjang ukuran penuh pertama dalam sejarah seni Barat. Sebelum era Phryne, patung pria di Yunani Kuno dipahat telanjang sebagai simbol pahlawan, sedangkan patung perempuan selalu ditutupi kain tebal.
Ketika patung tiruan Phryne berwujud Dewi Aphrodite dipamerkan tanpa busana, dunia kuno gempar. Kota Kos sempat menolak patung ini karena dianggap terlalu vulgar dan radikal. Namun, kota Knidos menerima mahakarya tersebut dan menempatkannya di kuil terbuka.
Patung marmer itu begitu realistis dan sensual hingga memicu gelombang pariwisata internasional zaman kuno, orang-orang dari penjuru Mediterania rela berlayar ke Knidos hanya untuk mengagumi keindahan tubuh Phryne yang diabadikan dalam batu. Meskipun patung marmer asli karya Praxiteles telah hancur dalam kebakaran besar di Konstantinopel pada abad ke-5 Masehi, pengaruhnya tetap abadi.
Ratusan replika Romawi kuno dari patung tersebut saat ini masih tersimpan di museum-museum besar seperti Museum Vatikan (Colonna Venus) dan Museo Nazionale Romano. Langkah berani Phryne menembus batas tabu zaman kuno telah meletakkan fondasi bagi representasi estetika tubuh perempuan dalam sejarah seni dunia hingga berabad-abad setelahnya. (bl/sa)




