Poin Penting:
- Matrescence merupakan proses perubahan identitas perempuan setelah menjadi ibu yang dapat disertai perasaan bahagia, kewalahan, hingga kehilangan sebagian jati diri.
- Perubahan fisik dan hormonal, kurang tidur, tanggung jawab pengasuhan, serta penyesuaian hubungan sosial dapat membuat masa transisi menjadi ibu terasa menantang.
- Ibu tetap dapat merawat identitas pribadinya dengan menyediakan waktu untuk diri sendiri, membagi tanggung jawab pengasuhan, dan mencari dukungan ketika dibutuhkan.
Bacaini.ID, KEDIRI — Menjadi ibu mengubah banyak hal dalam kehidupan perempuan, mulai dari rutinitas harian, hubungan sosial, hingga cara memandang diri sendiri. Di tengah kebahagiaan mengasuh anak, sebagian perempuan justru merindukan kehidupan sebelum menjadi orang tua. Merasakan kehilangan diri sendiri setelah menjadi ibu. Pengalaman ini berkaitan dengan matrescence, yaitu proses perubahan biologis, psikologis, dan sosial ketika seorang perempuan memasuki peran sebagai ibu.
Seorang ibu bisa sangat menyayangi anaknya, tetapi pada saat bersamaan merindukan kehidupannya sebelum menjadi orang tua. Ada perubahan identitas perempuan setelah melahirkan. Ia mungkin merindukan kebebasan mengambil keputusan, kesempatan mengembangkan karier, atau identitas yang dahulu tidak selalu berkaitan dengan peran sebagai ibu.
Matrescence, Proses Perubahan Identitas setelah Menjadi Ibu
Istilah matrescence diperkenalkan oleh antropolog Dana Raphael pada 1970-an untuk menggambarkan proses transisi menjadi seorang ibu. Konsep ini kembali banyak dibicarakan setelah psikiater reproduksi Alexandra Sacks menjelaskannya dalam artikel dan ceramah mengenai perubahan psikologis yang dialami perempuan selama menjadi ibu.
Matrescence kerap dibandingkan dengan masa remaja atau adolescence. Keduanya merupakan periode transisi yang melibatkan perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Ketika menjadi ibu, seorang perempuan tidak hanya belajar merawat bayi atau memahami kebutuhan anak. Ia juga perlu menyesuaikan diri dengan identitas baru, perubahan hubungan dengan pasangan, ekspektasi keluarga, serta cara masyarakat memandang perannya.
Pada masa ini, prioritas yang dahulu terasa penting mungkin harus berubah. Waktu untuk diri sendiri menjadi terbatas, hubungan pertemanan mengalami penyesuaian, dan keputusan sehari-hari semakin banyak mempertimbangkan kebutuhan anak. Perubahan tersebut dapat berlangsung bersamaan dengan perubahan fisik dan hormonal, terutama selama kehamilan serta periode setelah melahirkan. Kurang tidur, pemulihan tubuh, dan tuntutan pengasuhan juga dapat memengaruhi kondisi emosional ibu.
Tantangannya, masyarakat sering menggambarkan menjadi ibu seolah-olah merupakan peran yang secara alami langsung dikuasai perempuan. Padahal, proses beradaptasi membutuhkan waktu. Seorang ibu bisa merasa bahagia, kewalahan, bangga, ragu, bahkan merindukan kehidupannya yang lama dalam periode yang sama.
Karena itu, perasaan kehilangan diri sendiri tidak selalu menunjukkan bahwa seorang ibu gagal beradaptasi. Bisa jadi, ia sedang berusaha menemukan cara untuk mengintegrasikan identitas lamanya dengan peran barunya.
Menjadi Ibu Tanpa Harus Kehilangan Seluruh Bagian Diri
Menemukan kembali identitas setelah memiliki anak bukan berarti harus kembali persis seperti sebelum menjadi ibu. Kehidupan memang telah berubah. Tujuannya adalah membangun kehidupan baru yang tetap menyediakan ruang bagi kebutuhan pribadi, hubungan sosial, dan hal-hal yang memberi makna bagi diri sendiri.
• Validasi perasaan yang muncul tanpa langsung menghakimi diri sendiri. Merindukan waktu untuk bekerja, bertemu teman, membaca buku, atau menjalani hobi tidak membuat seseorang menjadi ibu yang buruk. Perasaan tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa ada kebutuhan pribadi yang belum terpenuhi.
• Mulai menyediakan waktu untuk diri sendiri secara realistis. Tidak harus langsung mengambil liburan panjang atau menjalani kembali seluruh kegiatan lama. Meluangkan waktu singkat untuk membaca, berolahraga ringan, berkarya, atau berbincang dengan teman bisa menjadi awal yang berarti.
• Bicarakan pembagian tanggung jawab dengan pasangan atau orang terdekat. Waktu untuk diri sendiri akan sulit terwujud apabila seluruh kebutuhan anak dan rumah tangga terus bergantung pada satu orang. Pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dibicarakan sesuai kondisi keluarga.
• Berikan ruang bagi identitas yang berkembang. Seorang perempuan bisa menjadi ibu sekaligus pekerja, teman, pasangan, seniman, atau individu yang memiliki cita-cita pribadi. Ia tidak harus memilih hanya satu identitas untuk membuktikan bahwa dirinya menjalani peran sebagai ibu dengan baik.
Jika perubahan ini terasa sangat berat, dukungan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan juga dapat membantu. Terutama ketika perasaan kehilangan diri disertai kecemasan atau kesedihan yang menetap. Menjadi ibu memang dapat mengubah cara seorang perempuan menjalani hidup. Namun, perubahan tersebut tidak berarti seluruh identitasnya harus menghilang. Seorang anak membutuhkan pengasuhan yang penuh perhatian, sementara ibunya juga tetap membutuhkan ruang untuk bertumbuh sebagai individu.
Mencintai anak dan merawat diri sendiri bukan dua hal yang saling bertentangan. Seorang ibu tetap berhak memiliki keinginan, batasan, dan kehidupan pribadi. Menjadi ibu adalah bagian dari dirinya, bukan satu-satunya hal yang mendefinisikan siapa dirinya. (bl/sa)




