Poin Penting:
- Tidak semua chat atasan di luar jam kerja wajib segera dibalas. Pesan yang tidak mendesak umumnya dapat ditanggapi pada hari kerja berikutnya, dengan tetap memperhatikan aturan dan kesepakatan pekerjaan.
- Batas komunikasi perlu disepakati bersama. Perusahaan dan atasan perlu menjelaskan ekspektasi waktu respons, mekanisme piket, serta kondisi yang benar-benar membutuhkan penanganan segera.
- Menjaga waktu istirahat bukan berarti tidak profesional. Karyawan dapat menetapkan batas melalui komunikasi yang sopan, pengaturan notifikasi, dan pembicaraan mengenai beban kerja.
Bacaini.ID, KEDIRI — Chat atasan di luar jam kerja kerap membuat karyawan berada dalam dilema. Membalas chat atasan segera dikhawatirkan menjadi kebiasaan yang mengganggu waktu istirahat, tetapi menunda respons juga bisa memunculkan rasa takut dianggap tidak profesional.
Padahal, tidak semua pesan pekerjaan harus dijawab saat itu juga. Karyawan perlu membedakan komunikasi yang benar-benar mendesak dengan tugas rutin yang masih bisa menunggu hingga hari kerja berikutnya. Batas komunikasi yang jelas membantu pekerja tetap bertanggung jawab tanpa harus selalu tersedia setiap saat.
Bagi perempuan yang juga memikul tanggung jawab domestik atau pengasuhan, situasi ini dapat menjadi tantangan tambahan. Waktu di luar kantor belum tentu sepenuhnya menjadi waktu luang. Karena itu, memahami batas komunikasi profesional penting agar pekerja tetap bertanggung jawab tanpa harus selalu tersedia setiap saat.
Tidak Semua Chat Kerja Harus Langsung Dibalas
Salah satu penyebab pekerja merasa harus selalu responsif adalah kekhawatiran terhadap penilaian atasan dan rekan kerja. Pesan yang tidak segera dibalas bisa dianggap sebagai tanda kurangnya komitmen, meskipun sebenarnya dikirim di luar jam kerja.
Padahal, kecepatan membalas pesan tidak selalu mencerminkan kualitas profesional seseorang. Karyawan dapat memiliki kinerja yang baik sekaligus membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah menyelesaikan tanggung jawab hariannya.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang diterbitkan pada 2021 menemukan bahwa bekerja setidaknya 55 jam per minggu berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung iskemik dan stroke dibandingkan bekerja 35–40 jam per minggu. Temuan tersebut tidak secara khusus mengukur dampak chat kantor, tetapi menunjukkan pentingnya memperhatikan durasi kerja dan waktu pemulihan.
Komunikasi digital dapat membuat pekerjaan terasa tidak pernah benar-benar selesai apabila pekerja terus diminta memantau pesan setelah jam kerja. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, batas antara waktu profesional dan kehidupan pribadi menjadi semakin sulit dipertahankan.
Lantas, kapan chat kerja masih perlu ditanggapi? Pesan di luar jam kerja layak mendapat perhatian segera apabila berkaitan dengan keadaan darurat operasional, risiko keselamatan, gangguan layanan penting, atau persoalan yang benar-benar tidak bisa menunggu hingga hari kerja berikutnya. Misalnya, pekerja yang memang bertugas dalam tim penanganan insiden mungkin harus merespons gangguan sistem sesuai jadwal piket.
Namun, permintaan yang sekadar membutuhkan konfirmasi, revisi rutin, atau informasi yang baru akan digunakan keesokan harinya umumnya dapat menunggu. Apalagi jika tidak ada kesepakatan bahwa karyawan harus bersiaga di luar jam kerja. Pembedaan ini penting karena label urgent atau mendesak terkadang digunakan terlalu longgar. Pesan yang dikirim malam hari tidak otomatis berarti harus dijawab malam itu juga.
Kenali Batas antara Tanggung Jawab dan Ketersediaan Tanpa Henti
Dalam praktiknya, menentukan batas komunikasi kerja tidak selalu mudah. Terlebih jika pesan datang dari atasan atau orang yang memiliki pengaruh terhadap penilaian kinerja.
Karyawan mungkin takut dianggap tidak kooperatif apabila tidak segera menjawab. Kekhawatiran ini dapat membuat mereka terus memeriksa ponsel, bahkan ketika tidak ada kebutuhan pekerjaan yang mendesak.
Karena itu, batas komunikasi idealnya tidak hanya ditentukan oleh keberanian individu. Perusahaan dan atasan juga perlu menjelaskan ekspektasi mengenai waktu respons, keadaan darurat, serta mekanisme komunikasi di luar jam kerja.
Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagaimana telah diubah, antara lain melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, mengatur waktu kerja dan istirahat. Ketentuan waktu kerja pada umumnya mencakup tujuh jam sehari dan 40 jam seminggu untuk pola enam hari kerja, atau delapan jam sehari dan 40 jam seminggu untuk pola lima hari kerja, dengan ketentuan lebih lanjut sesuai peraturan yang berlaku.
Meski demikian, keberadaan chat di luar jam kerja tidak dengan sendirinya menentukan apakah suatu pelanggaran terjadi. Penilaiannya bergantung pada konteks pekerjaan, aturan perusahaan, perjanjian kerja, dan ketentuan yang relevan. Pekerja dengan sistem shif, tugas siaga, atau pekerjaan tertentu juga dapat memiliki pengaturan berbeda.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah komunikasi tersebut sesekali terjadi karena kebutuhan nyata atau justru menjadi tuntutan rutin yang tidak pernah dibicarakan secara jelas. Jika atasan sering mengirim tugas malam hari, pekerja dapat meminta kejelasan prioritas dan tenggat. Jika pesan tidak mendesak, pekerja juga bisa membalas pada jam kerja berikutnya. Tidak semua pesan harus dijawab hanya karena sudah terbaca.
Cara Menetapkan Batas tanpa Terlihat Tidak Profesional
Menjaga waktu istirahat bukan berarti mengabaikan pekerjaan. Kuncinya adalah membangun komunikasi yang jelas dan konsisten.
• Pahami kebijakan kantor. Periksa aturan mengenai jam kerja, lembur, piket, dan komunikasi di luar jam kerja. Jika posisi memang mengharuskan kesiapsiagaan, pastikan jadwal dan mekanismenya dipahami sejak awal.
• Gunakan respons yang sopan tetapi tegas. Jika menerima pesan yang tidak mendesak pada malam hari, pekerja dapat membalas keesokan paginya dengan memberikan pembaruan mengenai progres pekerjaan. Jika perlu merespons singkat pada malam hari, sampaikan batas waktu secara jelas, misalnya, “Saya sudah menerima informasinya. Saya akan memeriksa dokumen ini besok pagi.”
• Bedakan notifikasi dan kewajiban. Pesan yang masuk ke ponsel bukan berarti pekerjaan harus langsung dilakukan. Mengatur mode senyap setelah jam kerja, mematikan notifikasi grup yang tidak mendesak, atau memisahkan kanal komunikasi kerja dan pribadi dapat membantu menjaga waktu istirahat.
• Jika gangguan berlangsung terus-menerus, bicarakan masalahnya dengan atasan atau bagian sumber daya manusia. Sampaikan dampaknya terhadap beban kerja dan minta kesepakatan yang lebih jelas mengenai waktu respons. Bila komunikasi di luar jam kerja berujung pada pekerjaan tambahan yang rutin, pembahasan juga perlu mencakup prioritas, jam kerja, dan pengaturan lembur sesuai ketentuan yang berlaku.
Profesionalisme tidak harus dibuktikan dengan selalu menjawab pesan dalam hitungan menit. Pekerja tetap bertanggung jawab ketika memahami prioritas, memenuhi tenggat yang disepakati, dan merespons keadaan darurat sesuai perannya. (bl/sa)




