Poin Penting:
- Memilih suami bukan hanya soal cinta. Karakter, tanggung jawab, kematangan emosi, dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi pertimbangan penting sebelum menikah.
- Laki-laki yang layak menjadi suami mampu menjadi partner. Ia bersedia berbagi pekerjaan domestik, bertanggung jawab secara finansial, menghormati batasan pasangan, dan mengambil keputusan bersama.
- Karakter terlihat ketika hubungan menghadapi masalah. Cara mengendalikan kemarahan, menyelesaikan konflik, mengakui kesalahan, dan memperlakukan orang lain menjadi gambaran penting tentang kesiapan seseorang menjalani rumah tangga.
Bacaini.ID, KEDIRI – Pernikahan makin bikin khawatir bagi sebagian perempuan yang melihat banyak persoalan rumah tangga dibicarakan terbuka di media sosial. Karena itu, sebelum memilih pasangan hidup, penting mengenali ciri laki-laki yang layak dijadikan suami, ciri pasangan hidup yang baik, bukan hanya dari sisi romantis, tetapi juga karakter, tanggung jawab, dan kematangan emosinya.
Rasa khawatir tersebut tidak sepenuhnya muncul tanpa alasan. Pengalaman tentang rumah tangga yang tidak seimbang, beban domestik, persoalan finansial, hingga perceraian karena mendapati pasangan brengsek, semakin mudah dibicarakan secara terbuka.
Media sosial turut membuat perempuan bisa melihat pengalaman orang lain yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Kisah mental load, pasangan yang enggan berbagi pekerjaan rumah, kekerasan dalam hubungan, hingga perempuan yang merasa kehilangan dirinya setelah menikah, jadi bahan diskusi yang semakin umum.
Karenanya jangan buru-buru menikah hanya karena merasa dicintai. Sebab, orang yang romantis belum tentu mampu menjadi partner ketika kehidupan mulai dipenuhi masalah.
Ciri Laki-laki yang Layak Dijadikan Suami
Banyak coach pernikahan memberikan saran tentang bagaimana memilih pasangan hidup yang ‘setara’. Setara tidak diukur dari status sosial, namun juga pandangan hidup dan perilaku yang seimbang kepada pasangan.
Berikut ciri-ciri laki-laki yang layak untuk diajak ke jenjang hubungan yang lebih serius, berdasar saran para pakar relationship:
• Konsisten antara ucapan dan tindakan
Ia tidak hanya pandai membuat janji atau membicarakan masa depan. Apa yang dikatakan terlihat dalam perilakunya sehari-hari. Konsistensi juga menunjukkan bahwa pasangan dapat dipercaya ketika hubungan menghadapi situasi yang lebih sulit.
• Bertanggung jawab tanpa harus terus-menerus disuruh
Ia memahami kewajiban sebagai orang dewasa dan tidak selalu menunggu pasangan mengingatkan. Dalam kehidupan rumah tangga, kemampuan mengambil inisiatif ini penting karena pekerjaan domestik dan tanggung jawab keluarga tidak semestinya menjadi beban salah satu pihak.
• Mampu mengendalikan diri ketika marah
Marah adalah emosi yang normal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengekspresikannya. Laki-laki yang matang tidak menggunakan ancaman, penghinaan, intimidasi, atau kekerasan untuk memenangkan konflik.
• Bisa menyelesaikan konflik, bukan menghindarinya
Perbedaan pendapat pasti akan muncul dalam pernikahan. Pasangan yang baik bersedia membicarakan masalah, mendengarkan sudut pandang pasangan, dan mencari penyelesaian, bukan terus menghilang, mendiamkan, atau membalikkan kesalahan.
• Menghormati batasan pasangan
Ia dapat menerima kata ‘tidak’ tanpa memaksa atau membuat pasangan merasa bersalah. Rasa hormat terhadap batasan juga mencakup privasi, tubuh, pekerjaan, pertemanan, dan keputusan pribadi.
• Tidak menganggap pekerjaan domestik sebagai ‘tugas perempuan’
Perhatikan pandangannya tentang memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, dan pekerjaan rumah lainnya. Pernikahan seharusnya menjadi kerja sama, bukan hubungan antara satu orang yang bekerja dan satu orang yang dilayani.
• Bertanggung jawab secara finansial
Tidak harus kaya. Yang lebih penting adalah memiliki kebiasaan finansial yang sehat, terbuka mengenai kondisi keuangan, mampu membuat perencanaan, dan tidak mengharapkan pasangan menjadi penanggung seluruh persoalan ekonominya.
• Mau mengakui kesalahan dan memperbaiki diri
Tidak ada manusia yang selalu benar. Salah satu tanda kematangan adalah kemampuan mengakui kesalahan, menerima masukan, kemudian mengubah perilaku. Permintaan maaf yang terus diikuti kesalahan yang sama tentu berbeda dengan usaha memperbaiki diri.
• Memandang pasangan sebagai rekan, bukan bawahan
Ia menghargai pendapat perempuan dan bersedia mengambil keputusan bersama. Termasuk ketika pasangan memiliki karier, penghasilan, pendidikan, atau pandangan yang berbeda.
• Memiliki nilai hidup yang kompatibel
Cinta saja belum tentu cukup. Pasangan perlu membicarakan hal-hal besar sebelum menikah, seperti keinginan memiliki anak, pengelolaan uang, karier, tempat tinggal, agama, hubungan dengan keluarga besar, hingga pembagian peran dalam rumah tangga.
Ada satu hal yang sering terlewat ketika seseorang sedang jatuh cinta: karakter pasangan tidak hanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang yang dicintainya.
Perhatikan pula bagaimana cara memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan untuk diberikan kepadanya. Bagaimana sikapnya kepada pekerja layanan, orang yang lebih tua, bawahan, teman, atau orang yang berbeda pendapat. Apakah ia tetap menghormati orang lain ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya?
Hal tersebut penting karena pernikahan berlangsung jauh lebih lama daripada masa pendekatan. Ketika fase romantis mulai berkurang dan kehidupan dipenuhi pekerjaan, tagihan, anak, keluarga, serta berbagai persoalan, yang tersisa adalah karakter dan kemampuan dua orang untuk bekerja sama. (bl/sa)




