Bacaini.ID, KEDIRI – Banyak yang kecele saat melihat wajah sejumlah pemain Timnas Indonesia yang mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026). Mereka terlihat seperti orang Eropa dengan nama yang terdengar asing bagi telinga orang Indonesia.
Jangan salah, sebagian dari pemain “bule” itu memiliki orang tua, kakek atau nenek yang lahir di Indonesia. Jejak keluarganya bahkan tersebar dari Maluku hingga Sumatera, Jawa, Aceh dan Nusa Tenggara Barat.
Justin Hubner, darah Makassar dan Bandung
Justin Hubner lahir di Den Bosch, Belanda. Ia tumbuh dalam kultur sepak bola Belanda, tetapi garis Indonesia datang dari keluarga ayahnya.
Kakeknya, Ferdinand Rudolf Hubner, lahir di Makassar. Sementara neneknya disebut berasal dari Bandung.
Karena itu, ketika Hubner memilih menjadi WNI, yang dibawanya ke lapangan bukan hanya pengalaman bermain di Eropa, tetapi juga nama dua kota di Indonesia yang menjadi bagian dari sejarah keluarganya.
Kevin Diks dan cerita dari Ambon
Kevin Diks Bakarbessy lahir di Apeldoorn, Belanda. Tetapi nama belakangnya menyimpan jejak yang lebih dekat dengan Indonesia.
Darah Indonesia Diks berasal dari ibunya, Natasja Diks Bakarbessy, yang memiliki akar keluarga dari Ambon, Maluku.
Ada satu detail menarik. Diks bahkan memiliki tato berbentuk Pulau Ambon di lengannya. Seolah sebuah pulau kecil di timur Indonesia ikut dibawanya ke mana pun ia bermain.
Ivar Jenner, ada Jember di balik namanya
Ivar Jenner lahir di Utrecht, Belanda. Neneknya, Jaene Maria Mann Janner, lahir di Kencong, Jember, Jawa Timur, pada 1948.
Jejak Jember inilah yang menjadi salah satu dasar hubungan darah Indonesia Jenner. Ia kemudian resmi menjadi WNI dan menjadi bagian dari generasi pemain diaspora yang tumbuh dalam sistem sepak bola Eropa.
Ole Romeny, cucu dari Medan
Ole Romeny lahir di Belanda dan tumbuh dalam sepak bola negeri itu. Tetapi darah Indonesianya datang dari nenek dari pihak ibu yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.
Romeny kemudian menjadi salah satu penyerang penting Indonesia. Dalam final melawan Thailand, ia menjadi bagian dari tim yang akhirnya menuntaskan pertandingan dramatis hingga adu penalti.
Luke Vickery, dari Hawaii ke Indonesia
Cerita Luke Vickery sedikit berbeda. Ia lahir di Kailua, Hawaii, Amerika Serikat, dan tumbuh dalam lingkungan sepak bola Australia. Hubungannya dengan Indonesia datang dari sang nenek yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.
Pada usia 20 tahun, Vickery memilih Indonesia sebagai negara yang dibelanya di level senior. FIFA menyebut ia memiliki darah Indonesia dari neneknya dan memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada Juni 2026.
Mitchell Baker membawa Yogyakarta dan Semarang
Mitchell Baker bahkan menjadi salah satu cerita paling menarik dalam skuad juara ini.
Lahir di Melbourne, Australia, Baker memiliki darah Indonesia dari ibunya. Kakeknya, Han Koen Li, lahir di Yogyakarta, sedangkan neneknya, Li Nio The Lie, lahir di Semarang.
Baru menjadi WNI pada Juli 2026, Baker langsung memberi dampak besar. Ia mencetak hattrick pada debutnya dan kemudian mencetak lima gol saat Indonesia menghancurkan Bangladesh 9-2 untuk memastikan tiket ke final.
Emil Audero, bahkan lahir di Indonesia
Ada satu pemain yang kisahnya justru berbeda dari yang lain. Emil Audero tidak lahir di Eropa. Ia lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 18 Januari 1997.
Ayahnya, Edy Mulyadi, adalah orang Indonesia, sedangkan ibunya berasal dari Italia. Audero kemudian tumbuh dan membangun karier sepak bola di Italia.
Ia akhirnya kembali menjadi WNI pada 2025 dan menjadi penjaga gawang Indonesia di final melawan Thailand. Dalam adu penalti, Audero menjadi salah satu penentu kemenangan setelah menggagalkan tendangan pemain Thailand.
Dari Semarang dan Surabaya, Dean James ikut mencetak sejarah
Dean James juga memiliki dua kota di Indonesia dalam silsilah keluarganya. Pemain yang lahir di Leiden, Belanda, itu memiliki garis keturunan dari kakek yang lahir di Semarang dan nenek yang berasal dari Surabaya.
Dalam laga tersebut, James tak sekadar menjadi bagian dari skuad. Ia mencetak gol pembuka Indonesia pada menit ke-84, gol yang mengawali drama panjang hingga adu penalti.
Ada pula nama-nama lain dengan cerita serupa. Joey Pelupessy membawa akar Maluku, Calvin Verdonk memiliki darah Aceh dari ayahnya, sementara Ragnar Oratmangoen memiliki garis keluarga dari Maluku. Nathan Tjoe-A-On memiliki darah Semarang dari kakeknya. (htw/edt)




