Poin Penting:
- Nyeri saat berhubungan seksual tidak selalu disebabkan kekeringan vagina.
- Infeksi, otot dasar panggul yang tegang, perubahan hormonal, endometriosis, hingga faktor psikologis dapat berperan.
- Jika nyeri berulang, semakin berat, atau disertai perdarahan, keputihan tidak biasa, demam, dan nyeri panggul, sebaiknya diperiksa tenaga kesehatan.
Bacaini.ID, KEDIRI – Nyeri saat berhubungan seksual pada perempuan bukan keluhan yang selalu disebabkan organ intim kering. Kondisi yang dikenal sebagai dyspareunia ini dapat berkaitan dengan kekeringan vagina, infeksi, ketegangan otot dasar panggul, perubahan hormonal, endometriosis, hingga faktor psikologis.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan hubungan seksual terasa sakit dapat muncul sebelum, selama, maupun setelah penetrasi dan dapat berkaitan dengan faktor fisik maupun psikologis. Artinya, penggunaan pelumas memang dapat membantu pada kondisi tertentu, namun tidak selalu menyelesaikan masalah.
Karena itu, perempuan yang berulang kali sakit saat berhubungan seksual sebaiknya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus ditahan. Rasa sakit yang menetap dapat menjadi petunjuk bahwa ada kondisi yang perlu dicari penyebabnya.
Nyeri Saat Berhubungan Seksual Bukan Hanya karena Vagina Kering
Keringnya organ intim memang salah satu penyebab paling umum nyeri saat penetrasi. Produksi pelumas alami dapat dipengaruhi oleh tingkat rangsangan seksual, perubahan hormon, penggunaan obat tertentu, menyusui, hingga menopause.
Ketika jaringan vagina kurang terlumasi, gesekan selama penetrasi dapat menimbulkan rasa perih, terbakar, atau nyeri. Dalam kondisi seperti ini, pelumas berbahan dasar air atau silikon dapat membantu mengurangi gesekan.
Namun, nyeri seksual juga bisa berasal dari kondisi lain. Infeksi vagina atau saluran kemih, misalnya, dapat menyebabkan rasa sakit atau sensasi terbakar. Beberapa perempuan juga mengalami vulvodynia, yaitu nyeri kronis pada area vulva tanpa penyebab yang selalu mudah ditemukan.
Masalah pada otot dasar panggul juga dapat berperan. Otot yang terlalu tegang dapat membuat penetrasi terasa sakit, bahkan ketika tidak terdapat masalah pada pelumasan. Selain itu, kondisi seperti endometriosis, kista ovarium, penyakit radang panggul, atau perubahan jaringan setelah persalinan juga dapat berkaitan dengan nyeri saat berhubungan seksual.
Lokasi rasa sakit pun dapat memberikan petunjuk. Nyeri pada bagian luar atau saat penetrasi baru dimulai dapat memiliki penyebab berbeda dengan nyeri yang terasa lebih dalam di panggul. Karena itu, sekadar menambah pelumas tidak selalu menjadi jawabannya.
Beragam Penyebab Nyeri Saat Berhubungan Seksual pada Perempuan
Nyeri saat berhubungan seksual juga tidak selalu bisa dijelaskan hanya melalui kondisi organ reproduksi.
Rasa takut terhadap sakit dapat membuat tubuh secara tidak sadar menegangkan otot dasar panggul.
Ketegangan tersebut kemudian dapat membuat penetrasi semakin sakit. Ketika pengalaman tersebut berulang, seseorang dapat mulai mengantisipasi rasa sakit bahkan sebelum hubungan seksual dimulai.
Kondisi psikologis seperti kecemasan, stres, pengalaman seksual yang tidak menyenangkan, atau masalah dalam hubungan juga dapat berkontribusi terhadap keluhan seksual. Namun, mengatakan bahwa rasa sakit tersebut ‘hanya ada di pikiran’ juga tidak tepat.
Dalam banyak kasus, faktor fisik dan psikologis dapat saling memengaruhi. Rasa sakit menyebabkan kecemasan, kecemasan meningkatkan ketegangan tubuh, kemudian ketegangan memperburuk rasa sakit. Karena itu, pemeriksaan medis tetap penting untuk mencari kemungkinan penyebab fisik.
Jika diperlukan, penanganan dapat melibatkan lebih dari satu pendekatan, termasuk dokter, fisioterapis dasar panggul, atau profesional kesehatan mental.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah komunikasi dengan pasangan. Ketika penetrasi terasa sakit, memaksakan hubungan seksual bukan cara untuk membuat tubuh ‘terbiasa’.
Berhenti ketika sakit muncul dan mencari bentuk keintiman lain sementara penyebabnya ditangani dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Kapan Nyeri Saat Berhubungan Seksual Perlu Diperiksa?
Sesekali merasa tidak nyaman belum tentu menunjukkan penyakit. Tetapi jika nyeri terjadi berulang, semakin berat, mengganggu aktivitas seksual, atau membuat seseorang menghindari hubungan seksual karena takut sakit, kondisi tersebut layak dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Pemeriksaan menjadi semakin penting jika nyeri disertai perdarahan setelah berhubungan seksual, keputihan yang tidak biasa atau berbau, rasa terbakar saat buang air kecil, demam, nyeri panggul, luka atau benjolan pada area genital, atau perubahan gejala yang mendadak.
Dokter dapat menanyakan lokasi dan karakter nyeri, melakukan pemeriksaan fisik bila diperlukan, serta menentukan apakah pemeriksaan tambahan dibutuhkan. Yang juga penting, perempuan tidak perlu merasa malu ketika membicarakan masalah ini. Nyeri saat hubungan seksual merupakan keluhan medis yang dikenal dan memiliki berbagai kemungkinan penyebab.
Jika penyebabnya memang kekeringan, pelumas dapat membantu. Namun jika ada infeksi, gangguan otot dasar panggul, perubahan hormonal, endometriosis, atau kondisi lain, penyebab tersebut perlu ditangani secara khusus.
Hubungan seksual seharusnya tidak menjadi aktivitas yang harus dijalani sambil menahan sakit. Mengenali penyebabnya justru merupakan bagian dari menjaga kesehatan reproduksi dan kualitas hidup perempuan (bl/sa)




