Poin Penting:
- Gus Ipul menilai sistem AHWA membuat persaingan Muktamar NU ke-35 lebih sejuk.
- Sistem AHWA akan diteruskan dalam pemilihan kepengurusan NU hingga tingkat anak ranting.
- Penyusunan struktur PBNU 2026-2031 ditargetkan tuntas bulan depan dan menjadi kewenangan Rais Aam, Ketua Umum, serta formatur.
Bacaini.ID, JOMBANG – Sistem Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) menjadi salah satu catatan penting dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Ponpes Tambakberas Jombang. Ketua Panitia Muktamar, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menilai sistem pemilihan NU tersebut membuat persaingan kepemimpinan NU berlangsung lebih sejuk dan kondusif.
Menurut Gus Ipul, perubahan sistem pemilihan Ketua Umum PBNU melalui AHWA menjadi salah satu faktor yang membuat proses regenerasi kepemimpinan NU berlangsung lebih kondusif. Sistem tersebut dinilai mampu menciptakan suasana kompetisi yang lebih sehat di antara para kandidat.
“Jadi persaingannya lebih sejuk. Sehingga yang kalah terhormat yang menang bermartabat,” ujar Gus Ipul usai pembubaran Panitia Muktamar ke-35 NU di halaman GSG (Gedung Serbaguna) Hasbullah Said PPBU Tambakberas Jombang, Kamis malam (10/9/2026).
Sistem AHWA NU Dipakai hingga Anak Ranting
AHWA merupakan formatur yang beranggotakan sembilan ulama sepuh yang memiliki tugas memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Gus Ipul mengatakan pola tersebut menjadi kebijakan penting yang akan diteruskan hingga struktur organisasi NU di tingkat wilayah, cabang, ranting, hingga anak ranting.
“Ini yang istimewa dalam Muktamar ke-35. Salah satu keberhasilan utama kali ini adalah yang menang bermartabat yang kalah terhormat. Itu saya kira akan diteruskan nanti sampai ke tingkat wilayah, ke timpat cabang, dan seterusnya sampai ke ranting dan anak-anak ranting,” terangnya.
Gus Ipul menegaskan bahwa Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi agenda organisasi lima tahunan, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan NU di abad kedua. Pembubaran panitia muktamar berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar dua ribu panitia di GSG Hasbullah Said PPBU Tambakberas.
Sejumlah tokoh NU turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Ketua Panitia Lokal KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU Prof. Mohammad Nuh, Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif, serta Nusron Wahid.
“Alhamdulillah, sudah tuntas semua malam ini pembubaran panitia di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras Jombang. Rais Aam hadir secara langsung. Gus Kikin (Ketua Umum PBNU) kebetulan bersamaan dengan kegiatan di tempat lain. Beliau memohon maaf dan mengirimkan salam ke kita semua,” papar Gus Ipul.
Ia menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian penyelenggaraan muktamar berjalan tertib dan sesuai dengan perencanaan panitia. Selain itu, proses pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU juga telah menghasilkan pemimpin yang akan membawa jam’iyah Nahdlatul Ulama selama lima tahun ke depan.
Struktur Kepengurusan PBNU 2026-2031 Segera Disusun
Terkait penyusunan struktur kepengurusan PBNU 2026-2031, Gus Ipul menjelaskan bahwa proses tersebut sepenuhnya kewenangan Rais Aam dan Ketua Umum terpilih bersama formatur. Ia berharap penyusunan struktur dapat diselesaikan dalam waktu dekat.
“Ya itu sepenuhnya bergantung kepada Rais Aam terpilih dan Ketua Umum terpilih dibantu oleh formatur. Mudah-mudahan targetnya bulan depan sudah tuntas semua,” katanya.
Ke depan NU akan menghadapi berbagai tantangan dengan sejumlah agenda strategis, mulai dari penataan organisasi, penguatan struktur, hingga konsolidasi pengkaderan. Gus Ipul menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang lebih modern agar mampu menjawab kebutuhan zaman.
Selain memperkuat organisasi, NU juga akan fokus meningkatkan peran jamaah, terutama dalam bidang ekonomi warga NU. Generasi muda menjadi salah satu perhatian penting agar dapat memperoleh ruang pengembangan dan kontribusi yang lebih besar.
NU juga akan terus mendorong peran dalam pembangunan peradaban dan kemanusiaan. Gus Ipul berharap kepemimpinan baru PBNU mampu menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi seluruh jamaah.
Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang digelar di lingkungan pesantren juga dinilai memberikan pengalaman positif. Gus Ipul menyebut konsep tersebut menciptakan suasana yang lebih nyaman dan kondusif.
Menurutnya, penggunaan teknologi berbasis chip dan kecerdasan buatan (AI) selama pelaksanaan muktamar turut membantu meningkatkan efektivitas tata kelola acara. “Layanannya semua bagus, kita menggunakan teknologi berbasis chip dan AI. Yang itu terus terang mempermudah. Mempermudah tata kelola kita jadi lebih baik,” pungkasnya. (sya/sa)




