Bacaini.ID, JAKARTA – Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai fenomena lava fountain, dengan status Level III (Siaga). Sebarannya kini telah mencapai Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga Cimahi dan Bogor.
Bukan debu biasa. Menurut Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), abu vulkanik ini pada dasarnya adalah pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm), cukup kecil untuk menembus penyaringan alami di hidung dan langsung mencapai alveolus, kantung udara terkecil di paru-paru. Partikelnya tajam, dan dilapisi senyawa korosif seperti asam sulfat, asam klorida, serta logam berat, yang memicu iritasi hebat begitu menempel di jaringan basah saluran pernapasan.
Daryono menegaskan, yang paling mengkhawatirkan dari debu ini bersifat jangka panjang. “Endapan silika bebas yang masuk ke paru-paru berpotensi menyebabkan silikosis, yakni pembentukan jaringan parut permanen yang menurunkan fungsi paru-paru secara drastis,” terangnya.
Silika bebas yang menumpuk di alveolus adalah mekanisme utama di balik kerusakan ini, dan tidak bisa pulih seperti semula.
Masker kain tidak cukup. Ini poin krusial yang ditegaskan berulang oleh para ahli maupun otoritas kesehatan. “Masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini,” kata Daryono.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, secara resmi mengimbau warga memakai masker KN95 atau N95 saat harus beraktivitas di luar rumah, karena mampu menyaring partikel silika dan material kaca vulkanik yang bersifat abrasif tersebut.

Langkah Perlindungan Diri
Kementerian Kesehatan dan Pemprov DKI (protokol 5M) menganjurkan:
1. Memakai masker KN95/N95 (bila tidak tersedia, masker bedah lebih baik daripada tanpa masker sama sekali)
2. Menggunakan kacamata pelindung untuk mencegah iritasi mata
3. Membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak
4. Menutup rapat pintu, jendela, serta sumber air dan makanan agar tidak terkontaminasi endapan abu
5. Mandi dan mencuci pakaian terpisah setelah terpapar abu di luar rumah; semprot air sebelum menyapu agar debu tidak beterbangan ulang
Bagi warga di wilayah terdampak, seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan sekitarnya, kewaspadaan ini bukan sekadar anjuran, melainkan langkah pencegahan terhadap kerusakan paru-paru yang, sekali terjadi, tidak bisa diperbaiki. (DKW/edt)




