Berawal dari sebuah hobi, Afrizal Rian Khoirul Manna warga Kabupaten Trenggalek kini dikenal sebagai pengrajin layang-layang atau layangan, khususnya layangan Tanggalan. Rata-rata 100 buah setiap bulan
Bacaini.ID, TRENGGALEK – Derit bunyi pisau yang bergesekan dengan batang bambu terdengar pelan dari sebuah rumah di lingkungan RT 15 RW 03, Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.
Di teras rumah, terlihat Afrizal Rian Khoirul Manna tekun meraut potongan bambu. Satu per satu bagian bambu dihaluskan, dan kemudian dibentuknya menjadi kerangka layangan.
Afrizal Rian merupakan lulusan SMK. Baginya aktivitas membuat kerangka layang-layang bukan sekadar pekerjaan. Layangan sudah menjadi bagian dari hobinya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Hobi yang awalnya untuk mengisi waktu luang tersebut, perlahan berubah menjadi usaha rumahan. Mulai tahun 2021 Afrizal Rian memutuskan menyeriusi ketrampilannya, terlebih pesanan mulai berdatangan.
“Dulunya saya cuma senang membuat layangan. Lama-lama ada orang yang pesan, kadang satu, kadang dua. Kemudian ada yang pesan dalam jumlah banyak dan cocok. Setelah itu pesanannya berlanjut sampai sekarang,” terang Afrizal Rian.
Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan sekitar 12 hingga 15 layangan. Sementara produksi bulanannya rata-rata mencapai 100 buah, tergantung jumlah pesanan.
Salah satu produk yang dibuatnya dikenal sebagai Layangan Tanggalan. Layangan tersebut banyak dipesan penghobi laying-layang dari Trenggalek maupun Tulungagung.
Untuk ukuran tertentu, Afrizal Rian menerima harga grosir sekitar Rp20 ribu per buah dari pengepul asal Tulungagung.
Musim kemarau menjadi waktu yang paling dinanti. Sinar matahari membantu proses pengeringan bambu sehingga pengerjaan layangan bisa lebih cepat.
Sebaliknya, musim hujan menjadi tantangan tersendiri. Bambu lebih sulit diperoleh dan proses pengeringannya membutuhkan waktu lebih lama.
“Kalau dukanya ketika musim hujan, mencari bambunya susah. Mengeringkannya juga susah,” tuturnya.
Yang menarik, bukan hanya faktor keuntungan yang membuat Afrizal Rian bertahan. Tapi ia memang menikmati setiap proses pembuatan layangan.
“Kalau sukanya ya hobi tadi. Senang membuatnya,” ungkapnya.
Ramai Pesanan Layangan
Saat ini Afrizal Rian menerima banyak pesanan dan itu lebih ramai ketimbang tahun sebelumnya. Maraknya event festival layangan ikut mempengaruhi minat masyarakat akan layang-layang yang semakin meningkat.
Untuk kerangka layangan Afrizal Rian memakai beberapa jenis bambu, seperti pring biasa dan pring petung. Adapun ukurannya beragam. Yang terbesar mencapai sekitar 2,5 meter.
Sementara permintaan paling banyak didominasi model gapangan. Afrizal Rian berharap usahanya terus berkembang. Karenanya dirinya menghadirkan lebih banyak variasi model.
Di sela kesibukannya membuat layangan, Afrizal Rian masih menyempatkan diri menerbangkan layangan bersama teman-temannya di persawahan dekat rumah. Menjelang Maghrib, saat pekerjaan mulai selesai, layangan kembali jadi teman bersantai. (aby/sa)




