Bacaini.ID, KEDIRI — Indonesia menjadi negara dengan masyarakat paling gemar ngemil, bahkan nomor satu di dunia. Riset global Mondelēz International yang dirangkum dalam laporan GoodStats menyebut itu. Kebiasaan ngemil pagi terlihat dari tradisi kuliner, mulai skala rumah tangga hingga usaha.
Lazim dijumpai camilan seperti gorengan tempe, tahu atau jajanan pasar di setiap rumah tangga di Indonesia. Kemudian warung-warung penjual sarapan, gorengan, dan kue-kue tradisional juga banyak ditemukan sejak dini hari hingga siang.
Berdasarkan data riset global Mondelēz International, sebanyak 18% orang Indonesia punya kebiasaan rutin ngemil sebelum jam makan siang. Angka ini menempatkan Indonesia sejajar dengan Prancis (18%), dan mengalahkan negara-negara lain seperti Brasil (16%), Filipina (16%), Vietnam (16%), India (15%), Meksiko (14%), Amerika Serikat (11%), China (11%), hingga Kanada (10%).
Bagi para pelaku bisnis makanan dan minuman (F&B), angka-angka ini merupakan petunjuk penting tentang peluang bisnis yang sangat besar.
Mengapa Orang Indonesia Suka Ngemil Pagi?
Ada alasan kuat di balik tingginya kebiasaan ngemil pagi di Indonesia, terutama bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan.
• Sarapan Berat Makin Ditinggalkan
Ritme hidup yang serba cepat, jarak rumah ke tempat kerja yang jauh, dan kemacetan jalanan membuat banyak orang tidak sempat lagi masak atau makan sarapan berat, seperti nasi uduk atau porsi nasi lengkap di rumah.
• Pengganjal Perut yang Praktis
Ngemil menjadi ‘jurus ampuh’ pengganjal perut lapar yang tak sempat makan. Banyak yang memilih camilan sebagai pengganti sarapan. Makanan kecil ini dianggap cukup untuk mengganjal perut sampai jam makan siang tiba.
• Ngemil Sebagai Pendamping Ngopi
Budaya minum kopi di Indonesia sangat kental. Minum kopi, identik dengan ‘sandingan’ camilan apalagi di pagi hari. Minum kopi dalam keadaan perut kosong justru mendatangkan masalah kesehatan bagi beberapa orang, karenanya, ngopi pagi wajib dibarengi camilan.
Kebiasaan Ngemil Pagi Buka Peluang Bisnis Kuliner
Berdasarkan data kebiasaan ngemil masyarakat Indonesia yang tinggi, dan kesadaran masyarakat pada kesehatan untuk menghindari makanan UPF (Ultra Processed-Food) peluang usaha makanan ringan tradisional sangat menjanjikan.
Makanan tradisional seperti tiwul kekinian, kue basah berbasis bahan lokal, singkong renyah, hingga camilan olahan biji-bijian nabati, menjadi jawaban atas dilema konsumen saat ini.
Di satu sisi konsumen membutuhkan pengganjal perut yang praktis di pagi hari, namun di sisi lain juga mereka mengurangi konsumsi bahan pengawet, pemanis buatan, dan minyak berlebih dari makanan UPF.
Ceruk inilah yang menjadi ‘lahan basah’ bagi pelaku usaha kuliner lokal. Mengemas camilan tradisional menjadi produk pilihan pagi hari yang sehat dan modern bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan strategi bisnis berjangka panjang.
Strategi Mengangkat Camilan Tradisional ke Level Modern
Agar makanan ringan tradisional mampu merebut pasar ‘morning snacking’ secara maksimal, ada beberapa pendekatan praktis yang bisa diterapkan.
• Inovasi Kemasan On-The-Go
Makanan tradisional sering kali diidentikkan dengan bungkusan plastik biasa atau daun pisang yang mudah bocor. Mengubah kemasannya menjadi pouch yang rapi, snack box kecil, atau wadah eco-friendly yang praktis akan membuat produk ini lebih diterima oleh pekerja kantoran dan masyarakat urban.
• Reformulasi Bahan Lebih Sehat
Memanfaatkan tren anti-UPF dengan menonjolkan klaim keunggulan bahan baku lokal. Misalnya, menggunakan gula aren murni sebagai pengganti pemanis buatan, mengolah bahan dengan cara dipanggang (baked) alih-alih digoreng, atau menambahkan label less sugar dan gluten-free.
• Standardisasi Rasa dan Kualitas
Kelemahan jajanan tradisional kerap ada pada konsistensi rasa dan ketahanan produk. Melakukan penyempurnaan resep agar produk memiliki daya simpan lebih lama tanpa bahan pengawet sintesis adalah kunci utama jika ingin masuk ke rak minimarket atau jejaring kafe modern.
• Re-branding dan Edukasi Produk
Beberapa waktu terakhir, viral di media sosial seorang konten kreator yang berhasil mengangkat kembali bahan pangan lokal: kimpul, menjadi berbagai olahan modern. Ini bisa menjadi contoh bahwa bahan pangan lokal jika diolah dengan modern, tak kalah enak dan estetik dengan produk modern.
Melihat tingginya angka kebiasaan ngemil pagi di Indonesia, dipadukan dengan kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat, bisnis makanan ringan tradisional berada di posisi yang sangat menguntungkan. Pagi hari bisa menjadi etalase besar kuliner lokal untuk naik kelas dan menguasai pasar domestik. (bl/sa)




