Poin Penting:
- Pemerintah Kota Kediri membatalkan agenda Car Free Night (CFN) setelah gelombang kritik publik di media sosial
- CFN merupakan pengembangan dari konsep CFD yang diawali oleh Presiden Jokowi saat masih menjabat Wali Kota Solo. CFN lebih berorientasi pada hiburan dan ekonomi kreatif
- Sejarah CFD dunia berawal dari krisis minyak Eropa dan berkembang menjadi gerakan lingkungan global
Bacaini.ID, KEDIRI — Agenda Car Free Night (CFN) di Kota Kediri pada Sabtu malam (6/6) akhirnya batal digelar usai menuai kritik di media sosial yang secara masif menolak karena alasan telah memblokade jalur vital. CFN merupakan Car Free Day (CFD) di malam hari yang pertama kali dikenalkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjabat Wali Kota Solo.
Baca Juga:
CFN sejatinya produk pengembangan dari konsep Car Free Day (CFD) yang sudah dikenal luas di seluruh dunia. Ketika CFD digeser waktunya menjadi malam hari, fungsinya ikut bergeser: dari yang semula berfokus pada isu pemulihan lingkungan menjadi ruang hiburan rakyat dan penggerak ekonomi kreatif.
Berbeda dengan CFD di Indonesia yang dimulai dari Jakarta dan dilakukan setiap hari Minggu, secara historis konsep CFN di Indonesia pertama kali diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah pada tahun 2011. Pencetusnya adalah Presiden RI ke-7, Jokowi yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Solo. Jalan Slamet Riyadi ditutup total pada malam hari pada tahun baru untuk memberikan ruang bagi warga merayakan malam pergantian tahun secara aman dan tertib tanpa konvoi kendaraan bermotor yang bising.
Penutupan jalan diisi dengan pendirian panggung hiburan rakyat, festival kuliner kaki lima, dan pertunjukan seni budaya guna memecah konsentrasi massa agar tidak menumpuk di satu titik. Dari Solo, CFN mulai merambah berbagai kota di Indonesia yang lazimnya dilakukan berkala untuk memeriahkan momen khusus, misalnya tahun baru atau hari jadi kota. Sementara itu, yang rutin dilakukan setiap hari Minggu adalah CFD.
Sejarah CFD Dunia yang Diperingati Setiap 22 September
Gagasan mengosongkan jalan raya dari mobil pribadi tidak lahir secara spontan, melainkan dari respons terhadap krisis global dan desakan komunitas pencinta lingkungan.
Baca Juga:
Embrio dari gerakan bebas kendaraan bermotor pertama kali muncul pada tahun 1956 dan 1957 di Belanda dan Belgia. Akibat krisis Terusan Suez yang mengganggu pasokan minyak global, pemerintah setempat menerapkan kebijakan ‘Car-Free Sundays’, Hari Minggu Tanpa Mobil. Motivasi utamanya murni bersifat politis dan ekonomis, yaitu menghemat cadangan bahan bakar negara yang menipis akibat perang, bukan karena kesadaran lingkungan.
Pada tahun 1973, krisis minyak dunia kembali melanda akibat embargo ekonomi. Negara-negara Eropa Barat seperti Swiss, Jerman Barat, dan Belanda terpaksa melarang penggunaan kendaraan pribadi pada hari Minggu tertentu. Peristiwa ini mengubah wajah jalan raya perkotaan secara drastis: warga keluar rumah membawa sepeda, bersepatu roda, dan berjalan kaki di jalur-jalur utama yang biasanya bising oleh mesin kendaraan.
Sementara itu di belahan bumi lain, tepatnya di Bogota, Kolombia, lahir sebuah gerakan ikonik bernama ‘Ciclovía’ pada Desember 1974. Gerakan ini dipelopori oleh para aktivis lokal yang menuntut ruang publik yang lebih adil bagi pejalan kaki. Pemerintah Bogota menutup jalan raya sepanjang 4 kilometer selama tiga jam penuh. Dari Bogota inilah, cetak biru pertama bagi pelaksanaan CFD modern yang mengombinasikan kesehatan masyarakat, olahraga, dan ruang sosial.
Memasuki era 1990-an, fokus gerakan ini bergeser secara total ke arah isu ekologi: melawan polusi udara, menekan emisi gas rumah kaca, dan mengurangi ketergantungan masyarakat urban terhadap mobil pribadi.
Pada tahun 1994, Eric Britton, seorang pakar transportasi global, secara terstruktur menyerukan pentingnya hari bebas kendaraan dalam sebuah konferensi internasional di Toledo, Spanyol. Prancis kemudian merespons gagasan ini dengan meluncurkan kampanye nasional bertajuk ‘En ville sans ma voiture’, yang artinya: ‘di kota tanpa mobil saya’, pada tahun 1998.
Keberhasilan kampanye ini mendorong Komisi Eropa bersama ‘World Car-Free Network’ menetapkan tanggal 22 September sebagai Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia (World Car Free Day) secara resmi pada tahun 2000. Sejak saat itu, ribuan kota di seluruh dunia serempak menutup jalan-jalan protokol mereka setiap tanggal 22 September.
Sejarah CFD Masuk ke Indonesia
Di Indonesia, CFD pertama di selenggarakan di Jakarta pada 22 September 2001 yang merupakan gerakan murni berawal dari aksi swadaya masyarakat. CFD pertama di Indonesia diinisasi oleh koalisi LSM lingkungan yang bekerjasama dengan Ditlantas Polda Metro Jaya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru ikut menyelenggarakan secara resmi dan menetapkannya melalui Peraturan Daerah (Perda) pada tahun 2007.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




