• Login
Bacaini.id
Sunday, June 7, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

CFN di Kediri Batal Digelar, Ternyata Konsep Car Free Night Berawal dari Solo Era Jokowi

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
7 June 2026 13:21
Durasi baca: 4 menit
Aktivitas warga saat Car Free Day tanpa kendaraan

Pembatalan Car Free Night Kediri kembali memunculkan diskusi tentang sejarah dan tujuan awal gerakan bebas kendaraan bermotor (foto AI/Bacaini.id)

Poin Penting:

  • Pemerintah Kota Kediri membatalkan agenda Car Free Night (CFN) setelah gelombang kritik publik di media sosial
  • CFN merupakan pengembangan dari konsep CFD yang diawali oleh Presiden Jokowi saat masih menjabat Wali Kota Solo. CFN lebih berorientasi pada hiburan dan ekonomi kreatif
  • Sejarah CFD dunia berawal dari krisis minyak Eropa dan berkembang menjadi gerakan lingkungan global

Bacaini.ID, KEDIRI — Agenda Car Free Night (CFN) di Kota Kediri pada Sabtu malam (6/6) akhirnya batal digelar usai menuai kritik di media sosial yang secara masif menolak karena alasan telah memblokade jalur vital. CFN merupakan Car Free Day (CFD) di malam hari yang pertama kali dikenalkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjabat Wali Kota Solo.

Baca Juga:

  • Dirujak Netizen, Car Free Night di Stasiun Kediri Dibatalkan

CFN sejatinya produk pengembangan dari konsep Car Free Day (CFD) yang sudah dikenal luas di seluruh dunia. Ketika CFD digeser waktunya menjadi malam hari, fungsinya ikut bergeser: dari yang semula berfokus pada isu pemulihan lingkungan menjadi ruang hiburan rakyat dan penggerak ekonomi kreatif.

Berbeda dengan CFD di Indonesia yang dimulai dari Jakarta dan dilakukan setiap hari Minggu, secara historis konsep CFN di Indonesia pertama kali diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah pada tahun 2011. Pencetusnya adalah Presiden RI ke-7, Jokowi yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Solo. Jalan Slamet Riyadi ditutup total pada malam hari pada tahun baru untuk memberikan ruang bagi warga merayakan malam pergantian tahun secara aman dan tertib tanpa konvoi kendaraan bermotor yang bising.

Penutupan jalan diisi dengan pendirian panggung hiburan rakyat, festival kuliner kaki lima, dan pertunjukan seni budaya guna memecah konsentrasi massa agar tidak menumpuk di satu titik. Dari Solo, CFN mulai merambah berbagai kota di Indonesia yang lazimnya dilakukan berkala untuk memeriahkan momen khusus, misalnya tahun baru atau hari jadi kota. Sementara itu, yang rutin dilakukan setiap hari Minggu adalah CFD.

Sejarah CFD Dunia yang Diperingati Setiap 22 September

Gagasan mengosongkan jalan raya dari mobil pribadi tidak lahir secara spontan, melainkan dari respons terhadap krisis global dan desakan komunitas pencinta lingkungan.

Baca Juga:

  • Tudingan SBY Dalang Ijazah Jokowi dan Tantangan Komunikasi di Era Digital

Embrio dari gerakan bebas kendaraan bermotor pertama kali muncul pada tahun 1956 dan 1957 di Belanda dan Belgia. Akibat krisis Terusan Suez yang mengganggu pasokan minyak global, pemerintah setempat menerapkan kebijakan ‘Car-Free Sundays’, Hari Minggu Tanpa Mobil. Motivasi utamanya murni bersifat politis dan ekonomis, yaitu menghemat cadangan bahan bakar negara yang menipis akibat perang, bukan karena kesadaran lingkungan.

Pada tahun 1973, krisis minyak dunia kembali melanda akibat embargo ekonomi. Negara-negara Eropa Barat seperti Swiss, Jerman Barat, dan Belanda terpaksa melarang penggunaan kendaraan pribadi pada hari Minggu tertentu. Peristiwa ini mengubah wajah jalan raya perkotaan secara drastis: warga keluar rumah membawa sepeda, bersepatu roda, dan berjalan kaki di jalur-jalur utama yang biasanya bising oleh mesin kendaraan.

Sementara itu di belahan bumi lain, tepatnya di Bogota, Kolombia, lahir sebuah gerakan ikonik bernama ‘Ciclovía’ pada Desember 1974. Gerakan ini dipelopori oleh para aktivis lokal yang menuntut ruang publik yang lebih adil bagi pejalan kaki. Pemerintah Bogota menutup jalan raya sepanjang 4 kilometer selama tiga jam penuh. Dari Bogota inilah, cetak biru pertama bagi pelaksanaan CFD modern yang mengombinasikan kesehatan masyarakat, olahraga, dan ruang sosial.

Memasuki era 1990-an, fokus gerakan ini bergeser secara total ke arah isu ekologi: melawan polusi udara, menekan emisi gas rumah kaca, dan mengurangi ketergantungan masyarakat urban terhadap mobil pribadi.

Pada tahun 1994, Eric Britton, seorang pakar transportasi global, secara terstruktur menyerukan pentingnya hari bebas kendaraan dalam sebuah konferensi internasional di Toledo, Spanyol. Prancis kemudian merespons gagasan ini dengan meluncurkan kampanye nasional bertajuk ‘En ville sans ma voiture’, yang artinya: ‘di kota tanpa mobil saya’, pada tahun 1998.

Keberhasilan kampanye ini mendorong Komisi Eropa bersama ‘World Car-Free Network’ menetapkan tanggal 22 September sebagai Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia (World Car Free Day) secara resmi pada tahun 2000. Sejak saat itu, ribuan kota di seluruh dunia serempak menutup jalan-jalan protokol mereka setiap tanggal 22 September.

Sejarah CFD Masuk ke Indonesia

Di Indonesia, CFD pertama di selenggarakan di Jakarta pada 22 September 2001 yang merupakan gerakan murni berawal dari aksi swadaya masyarakat. CFD pertama di Indonesia diinisasi oleh koalisi LSM lingkungan yang bekerjasama dengan Ditlantas Polda Metro Jaya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru ikut menyelenggarakan secara resmi dan menetapkannya melalui Peraturan Daerah (Perda) pada tahun 2007.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: car free daycar free nightCFDCFNjokowiKedirikota kedirisolo
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Burung bertengger menunjukkan perilaku alami yang diteliti dalam studi tentang reproduksi dan perilaku seksual aves

Masturbasi pada Burung itu Normal, Perilaku Seksual Alami Satwa

Aktivitas warga saat Car Free Day tanpa kendaraan

CFN di Kediri Batal Digelar, Ternyata Konsep Car Free Night Berawal dari Solo Era Jokowi

Ilustrasi sejarah Dewan Banteng dan konflik politik dengan pemerintahan Soekarno

Dewan Banteng, Kaum Fasis yang Merongrong Soekarno, Siapa Mereka?

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In