Poin Penting:
- Codependent relationship adalah hubungan dengan ketergantungan emosional berlebihan yang membuat seseorang kehilangan batasan dan identitas diri
- Tanda-tandanya meliputi sulit berkata tidak, mengabaikan diri sendiri, takut ditinggalkan, hingga bergantung pada pasangan untuk merasa berharga
- Mengatasinya membutuhkan kesadaran diri, membangun batasan sehat, serta dukungan profesional jika diperlukan
Bacaini.ID, KEDIRI – Hubungan yang sehat umumnya ditandai dengan kedekatan emosional dan saling mendukung. Namun, tidak semua kedekatan membawa dampak positif. Dalam beberapa kasus, hubungan justru berubah menjadi tidak sehat ketika salah satu pihak mengalami ketergantungan emosional berlebihan atau dikenal dengan istilah codependent relationship.
Baca Juga:
Hubungan yang terlihat harmonis dari luar, dapat menyimpan pola ketergantungan emosional yang kuat di dalamnya. Kondisi ini kerap tidak disadari karena dibungkus dengan alasan cinta dan pengorbanan. Sejatinya, codependent relationship tidak hanya terjadi pada hubungan romantis, dua orang yang memiliki ikatan asmara. Namun juga dapat terjadi dalam persahabatan maupun hubungan keluarga.
Apa Itu Codependent Relationship?
Codependent relationship merupakan pola hubungan yang menunjukkan ketergantungan emosional yang kuat seseorang pada pasangannya. Ketergantungan ini bisa membuat seseorang mengorbankan kebutuhan, perasaan, bahkan identitas dirinya demi menjaga hubungan tetap berjalan.
Baca Juga:
Pola hubungan ini tentu tidak sehat dan tidak seimbang. Salah satu pihak merasa sangat bertanggung jawab atas emosi, perilaku atau masalah orang lain. Konsep ini awalnya banyak dibahas dalam konteks hubungan dengan individu yang memiliki kecanduan misalnya pada alkohol atau narkoba.
Namun kini, codependent relationship maknanya meluas, dan dalam hubungan antar personal bisa dikatakan kondisi ini merupakan ‘kecanduan pada orang lain’. Satu orang berperan sebagai pemberi (giver) yang berlebihan, sementara yang lain berperan sebagai penerima (taker) yang sangat bergantung. Menurut Mental Health America, codependency ditandai dengan kebutuhan berlebihan untuk merasa dibutuhkan, serta kesulitan menetapkan batasan yang sehat.
Tanda-Tanda Codependent Relationship
Beberapa tanda umum dari codependent relationship seringkali terlihat ‘normal’ di awal, namun bisa menjadi masalah dalam jangka panjang. Salah satunya adalah kecenderungan untuk selalu mengutamakan pasangan di atas diri sendiri. Keputusan hidup seringkali diambil berdasarkan keinginan pasangan, bukan kebutuhan pribadi.
Selain itu, ada rasa takut berlebihan terhadap konflik atau penolakan. Akibatnya, seseorang akan memilih untuk mengalah secara terus-menerus, bahkan ketika ia merasa tidak nyaman.
Berikut beberapa tanda codependent relationship yang perlu diwaspadai:
Sulit Membuat Batasan
Merasa bersalah saat menolak kemauan pasangan dan merasa harus membantu atau menuruti kemauan pasangan meskipun sedang dalam kondisi tidak memungkinkan.
Mengabaikan Diri Sendiri
Terlalu fokus mengurus masalah pasangan hingga lupa pada kebutuhan diri sendiri. Merasa bertanggung jawab atas semua masalah dan emosi pasangan yang membuat kehilangan identitas diri di dalam hubungan.
Perilaku Enabling (menolong dengan cara salah)
Secara tidak sadar mendukung kebiasaan buruk orang lain (pasangan) seperti perilaku tidak bertanggung jawab, kecanduan dan perilaku negatif lainnya, dengan cara ‘menyelamatkan’ mereka dari konsekuensi perbuatannya.
Takut Ditinggalkan
Bertahan dalam hubungan yang buruk karena merasa tidak berdaya atau tidak punya harga diri jika tidak ada orang yang ‘membutuhkan’ mereka.
Identitas tergantung Orang Lain
Merasa diri sangat berharga hanya jika berhasil membahagiakan atau mengurus orang lain.
Penyebab Codependent Relationship
Pola hubungan ini tidak muncul begitu saja. banyak faktor yang bisa memicu terbentuknya codependent relationship, salah satunya adalah pengalaman masa kecil.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan tidak stabil, penuh konflik, atau minim validasi emosional cenderung membawa pola tersebut dalam hubungan saat dewasa. Mereka dapat merasa bahwa cinta atau hubungan harus diperjuangkan dengan cara mengorbankan diri.
Selain itu, rendahnya rasa percaya diri dan kebutuhan akan validasi eksternal juga menjadi faktor penting. Hubungan kemudian dijadikan sebagai sumber kebahagiaan dan identitas diri.
Agar tidak larut dalam hubungan yang tidak sehat ini, yang harus dilakukan adalah menyadari pola hubungan yang terbentuk dan mulai membangun batasan. Berani mengatakan ‘tidak’ dan mulai memprioritaskan kebutuhan diri sendiri tanpa rasa bersalah.
Penting untuk mengembangkan kembali identitas diri di luar hubungan. Mulai dari hobi, pertemanan, tujuan hidup bahkan kembali berani untuk tampil dengan fashion sesuai selera diri sendiri.
Jika diperlukan, bantuan profesional seperti psikolog atau konselor bisa membantu memahami akar masalah dan menemukan cara yang lebih sehat dalam menjalani hubungan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





